f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
utsman

Utsman bin Affan : Langganan Berjual-beli dengan Allah Swt

Siapa yang tidak mengenal sahabat sekaligus menantu kesayangan Rasulullah SAW. Ya, dialah Utsman bin Affan, menantu dari sekaligus kedua putrinya yang bernama Ruqayyah dan Ummu Kultsum. Pesona keimanan dan ketaatannya yang mengantarkannya menjadi pemilik dua cahaya (Dzun Nurain).

Utsman lahir enam tahun setelah penyerangan tentara gajah. Tepatnya di Thaif, kota subur dekat Makkah. Atau sekitar tahun 576 Masehi, artinya Ia lebih muda kurang lebih enam tahun dibandingkan dengan Rasulullah SAW.

Utsman merupakan salah satu keturunan Quraisy dari bani Umayyah. Nasabnya bertemu dengan Rasulullah SAW pada kakek keempat yakni Abdu Manaf. Sehingga nama lengkapnya adalah Utsman bin Affan bin Abi Al-Ash bin Umayyah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Lu’ay bin Ghalib.

Ayah Utsman, Affan bin Abi Al-Ash meninggal sebelum Islam. Ibunya bernama Arwa, putri dari Ummu Hakim Al-Baidha binti Abdul Muthalib, bibi dari Rasulullah SAW. Sehingga beliau terbukti memiliki riwayat nasab yang bagus.

Jual Beli dengan Keuntungan Sepuluh Kali Lipat

Suatu waktu, pernah di sekitar Madinah dilanda kekeringan yang cukup panjang. Tanah dan lading tandus karena sulit mendapatkan air. Tanaman dan ternak banyak yang mati, hingga mengerek makanan menjadi bahan langka.

Beberapa pedagang melihat rombongan Utsman baru pulang dari Syam. Rombongan itu membawa ribuan karung gandum dan bahan makanan lain yang melimpah. Tentu saja mereka tidak melewatkan kesempatan tersebut. Maka, mereka bersegera untuk membujuk Utsman agar menjual bahan makanan ke mereka.

Lalu, bagaimana jawaban Utsman?

Utsman menolak dengan dalih bahwa sudah ada yang menjanjikan keuntungan sepuluh kali lipat.

Para pedagang tadi keheranan dengan jawaban Utsman, sekaligus muncul ketidakpercayaan. Karena bagi mereka mustahil jika ada pedagang lain yang mau dan sanggup memberi keuntungan segitu. Mereka pun melanjutkan lobby-nya kepada Utsman sembari menanyakan siapakah pedagang yang akan membeli barangnya di tengah musim paceklik?

Baca Juga  Ketika Suami Tercinta Tutup Usia

“Allah Maha Kaya yang akan membelinya, apakah kalian sanggup menandinginya?” jawaban tegas Utsman.

Seketika para pedagang tadi tertunduk sembari menjawab “Tidak”.

“Barang dagangan ini aku sedekahkan untuk seluruh kaum fakir miskin di Madinah,” Jelasnya kepada pedagang tadi.

Sungguh, kepeduliannya kepada kaum Muslim begitu luar biasa. Dia menjadi sahabat yang tidak pernah absen dalam membelanjakan hartanya untuk di jalan Allah SWT.

Kisah Sumur Raumah

Saat awal-awal kaum Muslim Mekkah hijrah ke Madinah, memberikan imbas pada suasana kota Madinah menjadi ramai. Sehingga ketika waktu shalat tiba, banyak kaum Muslim berbondong-bondong berdatangan ke masjid untuk shalat berjamaah. Artinya kebutuhan air untuk wudhu meningkat.

Saat itu, kaum Muslim mengandalkan sebuah sumur milik seorang Yahudi. Sumur tersebut dikenald engan sebutan ‘Sumur Raumah’. Melihat peningkatan yang signifikan jumlah kaum Muslim di Madinah berbasis data peningkatan jumlah jamaah Masjid. Maka menimbulkan iri dan  berujung pada kebencian.

Lalu, si Yahudi pemilik sumur Raumah tadi menaikkan tarif harga air di sumurnya untuk kaum Muslimin. memaksa harga tinggi untuk mendapatkan sedikit air. Tentu hal tersebut menjadi masalah bagi kaum Muslim, mengingat air menjadi kebutuhan dan ketiadaan air akan menyulitkan kaum Muslim di sana saat itu.

Sebenarnya kaum Muslim ingin membeli sumur tersebut, namun masih terkendala biayanya yang belum mencukupi. Di tengah kegundahan kaum Muslim tersebut, Utsman hadir memberikan solusi dengan membeli sumur Raumah tersebut kepada orang Yahudi tadi meskipun dengan harga yang mahal. Namun, Bukan karena mahal harganya, tetapi balasan surga itulah sejatinya yang dikejar olehnya.

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW bersabda, “Wahai kaum Muslim, siapa saja yang dapat membeli sumur Raumah , maka baginya surga.”

Baca Juga  Belajar dari Aska

“Aku,” Sambut Utsman bersemangat. “Aku yang akan membelinya demi Surga-Nya, akan Aku hibahkan untuk kaum Muslim ya Rasulullah,” tambahnya.

Lalu sumur tersebut resmi menjadi milik kaum Muslim. Oleh Utsman dihibahkan kepada kaum Muslim dan dimanfaatkan untuk kemashlahatan umat. Saking bahagia dan bangganya pada kemurahan hati dan kedermawanannya, sumur Raumah kemudian berubah nama menjadi Sumur Utsman (Bi’ir Utsman).

Berjihad dengan Harta

Kisah lainnya adalah saat Rasulullah hendak menyiapkan pasukan yang akan diberangkatkan untuk berjihad ke Tabuk untuk melindungi kaum Muslim dari ancaman pasukan Romawi. Saat itu, kaum Muslim dilanda masalah. Mereka tidak memiliki biaya untuk perbekalan peran, karena sedang musim paceklik akibat bencana kekeringan.

Lalu Rasulullah SAW mengumumkan kepada khalayak, “Siapa yang bersedia mendanai perbekalan pasukan “Usrah, maka baginya surga,” Seru Rasulullah SAW.

Dengan sigap Utsman menjawab, “Bolehkah aku membeli surgamu lagi yaa Rasulullah? Aku akan mendanai seluruh perbekalan prang tabuk ini,” ujar Utsman penuh harap.

“Alhamdulillah, sesungguhnya tidak akan ada lagi yang membahayakan dirimu setelah ini, wahai Utsman. Tidak akan ada hisab untuk hartamu, kelak,” Sabda Rasulullah.

Dan lagi-lagi beliau dengan sukses menyelamatkan hartanya untuk dibelanjakan di jalan Allah SWT.

Memerdekakan Budak

Bukan hanya sampai di situ, Utsman memiliki kebiasaan yang mulia juga. Harta yang dimilikinya senantiasa dibelanjakan di jalan Allah SWT.

Semenjak Utsman menyatakan keislamannya, beliau membiasakan diri untuk setiap Jum’at memerdekakan budak. Jika pada satu Jumat Utsaman tidak menemukan budak, maka akan dirapel pada Jumat berikutnya dengan memerdekakan budak lebih dari satu.

Bahkan beberapa hari sebelum Utsman wafat, beliau masih getol membelanjakan hartanya dengan memerdekakan budak sejumlah 20 orang.

Baca Juga  Hikmah di Balik Padatnya Kegiatan Pesantren

Beberapa penggal kisah Utsman menjadi alarm pengingat kita, bahwa harta adalah titipan belaka. Serta Dunia adalah fana sedangkan yang kekal adalah kehidupan akhirat. Maka sudah sejauh mana harta yang kita punya digunakan untuk belanja di jalan-Nya?. Wallahu A’lam. Semoga Bermanfaat.

Bagikan
Post a Comment