f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.

Alasan Mendidik Anak Melalui Kisah Teladan Nabi

Oleh : Arin Setiyowati

Anak merupakan amanah yang Allah SWT titipkan untuk setiap orangtua pilihan. Sehingga kelak apapun yang kita semai dalam diri anak kita itulah yang kan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Maka menjadi orang tua butuh ilmu, butuh ketulusan dan kemauan diri untuk belajar dan membagi dengan hati kepada mereka.

Ibarat sebuah perjalanan, maka proses membersamai tumbuh kembang anak mengharuskan kita menjadi guide yang kaya wawasan, teladan, luwes hingga sigap dalam menghadapi kejadian di luar rencana. Allah SWT pun meminta kita menjadi Guide selama perjalanan untuk anak-anaknya sejak dilahirkan hingga dewasa. Lantas, sudahkah kita bersama pasangan menetapkan tujuan untuk anak yang ingin dicapai? Sudahkan kita mempersiapkan bagaimana cara mencapai tujuan tersebut?

Agama Islam merupakan agama yang sempurna. Perkara mendidik anak pun Islam telah memberikan arahan secara jelas. Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda “Tiada suatu pemberian yang lebih utama dari orang tua kepada anaknya selain pendidikan yang baik”. (HR. Al-Hakim 7679)

Jika dicermati, bejibunnya teori-teori tentang parenting yang bisa menjadi referensi tiap-tiap orang tua, maka tiada lain kembali pada aturan Islam lah yang ideal. Bahwa mendidik anak bukan hanya sekadar menggugurkan kewajiban sebagai orang tua saja, namun juga sebagai bentuk penghambaan kita kepada Rabb kita. Hal ini dijelaskan dalam QS An-Nisa ayat 9 ;

”Dan hendaklah takut kepada Allah SWT orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (Kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”

Jelas bahwa Allah menyuruh kita untuk tidak meninggalkan keturunan yang lemah, baik lemah fisik, akal, ekonomi hingga agamanya. Hal ini menjadi tugas penting orang tua dalam menghantarkan anaknya untuk sukses dunia dan akhirat. Dengan berpegang teguh pada Nash Al-Qur’an QS Kahfi ayat 12-19, QS Al-Isra ayat 23, Al-Ahqaf ayat 15 dan banyak lagi.

Mendidik dengan Kisah

Bagi ayah ibu, cerita fiktif seperti “Sepatu Cinderella”, “Bawang Merah Bawang Putih”, “si Kancil Mencuri Timun” pasti bukan cerita asing, yang mungkin pernah diceritakan oleh orang tua kita maupun nenek kakek kita. Terlepas bahwa cerita tersebut benar atau tidaknya, namun cerrita fiktif tersebut begitu nempel di memori kita. Sungguh, jika hari ini cerita tersebut masih kita sampaikan kepada anak kita, maka kita menjadi orang tua yang merugi.

Baca Juga  Kapitalisme Parenting dan Obsesi Orang Tua Sukses

Ada sebuah guyonan yang yang sering menjadi bahan tertawaan bahwa orang Indonesia banyak korupsi dan terkesan tidak jujur karena ketika kecil didoktrin dengan cerita fiktif si Kancil mencuri timun. Miris sekali, artinya bahwa peran kisah atau konten cerita yang kita perdengarkan, sampaikan dan sosialisasikan sejak kecil kepada anak-anak kita akan mempengaruhi mindset, tingkah laku hingga karakter yang akan terbentuk untuk masa yang akan datang.

Sehingga, sangat tepat jika dikatakan bahwa kisah merupakan sarana yang sangat efektif untuk menyampaikan nilai-nilai apapun kepada anak. Tentu saja yang harus kita sampaikan kepada anak adalah pesan kebaikan. Oleh sebab itu, orang tua hukumnya wajib untuk memperbaiki diri dan menambah ilmunya supaya kisah-kisah yang kita sampaikan kepada anak-anak kita adalah kisah yang memiliki konten positif dan sarat makna.

Hal tersebut senada dengan dengan firman Allah dalam Surat Al-A’raf (7) ayat 176, “Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir.” Sejurus dengan hal tersebut, seperti yang kita ketahui bersama bahwa Al-qur’an yang diturunkan oleh Allah SWT kepada kita terdiri dari sepertiga isinya memuat kisah. Di antaranyavkisah tentang orang-orang pendahulu kita dengan ragam pengalaman keimanannya. Bicara tentang ketaatan tanpa syarat ada kisah tentang Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS, bicara tentang dakwah tak kenal lelah ada kisah Nabi Nuh AS, tentang mempertahankan prinsip kebenaran ada kisah Ashabul kahfi. Dan kisah-kisah lainnya yang bisa ditarik saripatinya untuk menjadi petunjuk hingga peringatan bagi kita.

Artinya Allah memberi petunjuk kepada kita melalui kisah, hal tersebut tentu bukan tanpa alasan. Karena melalui kisah, nilai-nilai yang kita sampaikan akan masuk dan mengalir ke memori ananda dengan sangat halus, tidak menggurui serta bersumber langsung dari Al-qur’an dan As-Sunnah, yakni kisah yang langsung disampaikan oleh Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW. Alias Anti-Hoaks maupun no kaleng-kaleng.

Berdasarkan beberapa sumber, setidaknya ada sekitar belasan manfaat bercerita atau berkisah kepada anak ;

  • Mengajarkan nilai-nilai kehidupan
  • Menghidupkan daya imajinasi anak
  • Menumbuhkan minat baca seumur hidup
  • Meningkatkan kreatifitas anak
  • Memperbaiki kemampuab berkomunikasi
  • Membangun konsep berpikir dan membuat analisa
  • Membiasakan, melatih konsentrasi, daya ingat
  • Mempermudah pendidikan anak
  • Mengajarkan anak dalam menghadapi berbagai situasi
  • Mempererat ikatan orangtua dengan anak
  • Meningkatkan kecerdasan emosional anak, empati
  • Meningkatkan kemampuan mendengarkan maupun verbalnya
Baca Juga  Kenali Gejala dan Penyebab Kolik pada Bayi

Kisah yang kita ceritakan kepada anak bisa dikaitkan dengan kondisi real dalam keseharian anak-anak. Karena zaman akan berjalan secara berulang, yang berbeda adalah pelaku dan waktunya. Maka menjadi kebutuhan kita untuk senantiasa belajar sejarah, kisah-kisah orang terdahulu untuk dapat diambil pelajaran sehingga kita bisa mencari solusi atas persoalan yang kita alami hari ini.

Mengapa (Harus) Kisah Nabi?

Pernah salah satu teman bertanya kepada saya tentang materi apa dulu yang perlu disampaikan kepada anak-anak, dengan sejengkal referensi yang saya miliki saya merekomendasikannya pada sirah Nabi. Alasan saya simpel, bahwa bagaimana kita bisa mengharap bahkan menuntut anak kita menjadi pribadi yang shalih, sementara upaya kita dalam mengenalkan dan mendekatkan mereka dengan sang teladan utama Nabi Muhammad SAW tidak utuh.

Hal ini sejalan dengan Lima (5) metode pendidikan dalam Islam dalam buku Manhaj Tarbiyah Islamiyah dan Tarbiyatul Aulad fil Islam, meliputi ;

  1. Melalui keteladanan (Qudwah)
  2. Melalui Pembiasaan (Aadah)
  3. Melalui Pemberian Nasehat (Mau’izhoh)
  4. Melaksanakan mekanisme Kontrol (Mulahazhoh)
  5. Melalui Sanksi (Uqubah)

Artinya, tahapan sebelum kita memberi nasehat maupun sanksi kepada anak adalah memberikan dan menunjukkan keteladanan disertai pembiasaan yang baik kepada mereka. Membersamai tumbuh kembang anak merupakan proses bertumbuhnya ayah ibu sebagai orang tua. Bukan hal sulit jika kita mempersiapkan jauh-jauh hari dengan bekal ilmu yang mumpuni. Namun bukan hal yang sulit juga jika kita membulatkan tekat untuk mau belajar mulai dari sekarang, tanpa menundanya.

Teladan, merupakan sara efektif dalam memahamkan, mempersuasi dan menghegemoni termasuk anak-anak untuk mengikuti.

Adapun beberapa prinsip agar keteladanan tidak salah arah (Wendi Zarman, bukunya yang berjudul Ternyata mendidik anak cara Rasulullah mudah an efektif) ;

  1. Seseorang yang memberi teladan tersebut memiliki kepribadian yang kuat.
  2. Anak harus mengenal baik pribadi yang diteladani tersebut
  3. Keteladanan harus dilakukan secara alamiah, bukan sesuatu yang dibuat-buat
  4. Keteladanan itu harus dilakukan secara ajeg

Nabi Muhammad SAW sebagai Referensi Keteladanan

Lantas, siapakah sosok teladan yang autentik untuk anak kita? Jawaban pastinya adalah orang tua, sebagai teladan terdekat yang harus menjadi role model bagi anaknya. Maka Sudah semestinya bahwa sumber referensi keteladanan yang autentik adalah Rasulullah Muhammad SAW. Seperti yang termaktub dalam surat al-Ahzab (33) ayat 21 bahwa dalam diri Rasulullah SAW sudah ada suri teladan yang baik.

Baca Juga  Asal Kita Baik, Cukupkah ?

Adapun wasilah untuk mengenal, memahamkan dan mendekatkan anak dengan teladan Nabi Muhammad adalah peran orang tua dalam mendekatkan anak dengan al-Qur’an dan As-Sunnah. Di dalamnya banyak mengisahkan tentang strategi Nabi Muhammad SAW dalam menyelesaikan setiap persoalan dalam kehidupan keseharian beliau. Bagaimana respon beliau saat dihina, dicaci, hingga dilempari batu oleh kafir quraisy. Bagaimana sikap dan strategi perang diambil Nabi Muhammad SAW saat diserang oleh kafir quraisy hingga dikhianati oleh mereka. Sungguh, begitu menawannya pribadi hingga sikap beliau, lalu menderivasinya ke dalam konteks tahapan tumbuh kembang anak.

Sebagai Contoh, dalam kisah perang Uhud, pelanggaran perintah Rasulullah yang dilakukan oleh pasukan pemanah menyebabkan kekalahan pasukan Muslim. Pelajaran dan teladan yang bisa dikontekskan untuk anak adalah tentang ketaatan, kepatuhan dan berjiwa besar baik dalam menerima kekalahan maupun mengakui kesalahan. Selain itu, kisah-kisah tentang ujian keimanan Rasulullah melalui hinaan, perlakuan tidak sopan, hingga kekerasan fisik (dilempari kotoran hewan maupun batu) oleh kafir Quraisy bisa menjadi pemantik orangtua dalam mengajarkan makna Sabar, Peduli dan Santun. Dan tentu masih banyak kisah Nabi lainnya yang sarat dengan nilai-nilai teladan, sehingga bisa menjadi sumbet autentik untuk memberi keteladanan kepada anak kita. Wallahu A’lam, Semoga bermanfaat!

*) Dosen FAI UMSurabaya, Kader Nasyiatul Aisyiyah Surabaya

Bagikan
Post a Comment