f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
KIP

Mewujudkan Spirit Kesetaraan dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB)

Oleh : Nurlia Dian Paramita *     

Pendahuluan

Kesetaraan dalam akses menuju manusia unggul menjadi tumpuan banyak pihak. Berdasarkan data kementerian ketenagakerjaan, hingga 20 April 2020, ada 1.304.777 pekerja dirumahkan dari 43.690 perusahaan. Data Ini menunjukkan bahwa kondisi perekonomian kini menjadi hal yang relatif sulit, akibat pandemi Covid-19. Menjadi hal yang lumrah masyarakat dihadapkan pada kontraksi ekonomi individu berikut kesempatan melanjutkan jenjang pendidikan yang tidak semua institusi menjanjikan pembebasan biaya.

Pandemi ini memunculkan tekanan yang besar terhadap kesejahteraan, sehingga berpotensi menganggu kohesi sosial serta stabilitas individu, terutama pada level keluarga. Konsep #BelajarDariRumah, memerlukan proses adaptasi yang tidak singkat, bahkan beberapa siswa masih memaknai sebagai “liburan” tanpa batas. Meski sudah diberikan tugas sekolah, belum semua siswa mempunyai motivasi dan kesadaran yang tinggi.

Canda tawa bersama teman-teman sekolah yang mereka tidak dapatkan di rumah menjadi salah satu kebosanan tersendiri. Masih banyak siswa yang justru menganggap belajar ala rumahan sebagai santaisme. Sementara penting untuk mewujudkan spirit pendidikan setara. ini sejalan dengan SDG’s goals 4 yakni memastikan pendidikan yang inklusif, berkualitas setara, dan mendukung kesempatan belajar seumur hidup bagi semua. Sehingga pada tahun 2030, diharapkan disparitas gender sudah tidak mengemuka. Semua anak perempuan dan laki-laki menyelesaikan pendidikan primer dan sekunder gratis, setara dan berkualitas. Dengan kondisi ini pemerintah daerah harus mampu menghadirkan spirit kesetaraan dalam akses terhadap pendaftaran siswa didik baru baik yang terjangkau dalam jaringan (daring) ataupun luar jaringan (luring). Semua lapis struktur masyarakat harus tersosialisasikan dengan baik terkait metode baru ini.

Pendidikan Untuk Semua

Perlu sinergi partisipatif antara wali siswa/guru dan pemuka masyarakat untuk mendorong para calon siswa didik baru agar memanfaatkan waktu dan mengakses pendaftaran secara efektif. Karena pendaftaran yang serentak dilakukan pertama kalinya melalui metode online ini tidak dengan otomatis dipahami secara menyeluruh. Diperlukan dorongan yang kuat agar harkat pendidikan bagi anak didik tetap mampu berjalan ditengah kondisi pandemi. Dalam rilis kemendikbud melalui Siaran Pers 117/ Sipres/ A6/ V/ 2020 disebutkan bahwa pemerintah pusat mendorong agar pemerintah daerah menetapkan petunjuk teknis untuk penerimaan peserta didik baru (PPDB). Pedoman tersebut juga harus mengacu pada tata cara protokol kesehatan utamanya pada masa darurat Coronavirus Disease.

Dalam keadaan ekonomi yang sulit, ketika sumber daya yang dimiliki keluarga sangat minim, keputusan untuk tidak menyekolahkan akan jatuh pada anak perempuan (Suyanto, 2020). Tentu hal ini menjadi kewaspadaan kita mengingat semua anak didik baik laki-laki dan perempuan harus didorong mendapatkan pendidikan yang sama. Dalam pendaftaran PPDB ini juga semua oran gtua siswa harus mengakses semua sekolah. Tidak hanya mengakses sekolah favorit yang selama ini marak menjadi langganan pendaftar.

Hasil Ujian Nasional tingkat SMA 2019, dari 100 sekolah dengan nilai UN terbaik, sebanyak 63 sekolah merupakan sekolah swasta (Kompas, 28/5/20). Selama ini sekolah swasta dipersepsikan dengan pembiayaan yang tinggi. Tidak seperti sekolah negeri yang minim biaya bahkan gratis. Pemerintah Jawa Barat (11/5/2020) mengumumkan metode PPDB yang dibuka dengan jalur online dan dibuka 2 tahap yakni pada 8-12 juni 2020 dan 25 juni-1 juli 2020. Penerimaan SMA, SMK dan SLB. Untuk jenjang SMA ada empat jalur penerimaan yakni jalur zonasi, afirmasi, perpindahan orang tua dan prestasi.

Mendorong Akses Informasi Pendaftaran Yang Ramah dan Egaliter

Untuk itu diperlukan pendampingan pada skema ini. Semua aktivitas akan diproses secara online dan berbasis aplikasi. Pertama, Pihak Dinas Pendidikan (Disdik) berikut sekolah-sekolah yang menyelenggarakan PPDB harus memberikan juknis dalam bentuk infografik yang menjadikan informasi lebih mudah dipahami. Pihak sekolah cukup menyiapkan form yang mudah diisi dan identitas yang relatif sederhana. Termasuk harus menjaga agar data identitas misal NIK wali murid tidak menjadi data bebas yang mampu diakses publik, karena adanya peluang risiko kejahatan finansial; Kedua, kuota penerimaan sebaiknya dikurangi kurang lebih 25 persen dari kuota normal. Dengan asumsi bahwa andai kata sekolah akan masuk pada era new normal maka penyesuaian jam sekolah berikut penataan bangku sekolah relatif lebih mudah; Ketiga, mendorong biaya pendaftaran administrasi siswa baru seminimal mungkin atau bahkan gratis.

Meskipun sedang fase krisis semua calon anak didik baru harus tetap sekolah. Ini juga mendorong sekolah swasta agar mengurangi biaya Uang Gedung dan Uang Pangkal. Akhirnya mekanisme PPDB ini hendaknya memberikan jalan seluas-luasnya agar semua calon siswa dapat memenuhi kebutuhan haknya untuk mendapatkan pendidikan sesuai jenjang usianya. Jangan sampai akibat pandemi covid-19 ini oran gtua siswa justru tidak mendapatkan informasi yang cukup hingga menyebabkan anak gagal melanjutkan sekolah. Ini justru akan memberikan kontribusi suram pada bonus generasi unggul yang siap berkompetisi lintas dunia di masa mendatang.

* Ketua Bidang Organisasi PP Nasyiatul Aisyiah 2016-2020

Bagikan
Post a Comment