f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
ilmu parenting

Menerapkan Ilmu Parenting Meskipun Kondisi Pas-pasan, Bisakah?

Pagi ini sungguh penuh ujian bagi saya. Anak saya yang  baru satu bulan ini masuk sekolah di kelompok A, mendadak melakukan aksi Gerakan Tutup Mulut (GTM). Padahal dari bayi belum pernah ada drama GTM dengan anak yang kedua ini. Sudah rapi pakai seragam dan baru masuk 2 suapan nasi, tiba-tiba dia bilang “tidak enak”.

Saya yang sedang tidak mau berdebat pagi-pagi, mengambil jalan pintas menawarkan mengganti lauk, dengan nugget dinosaurus kesukaannya. Berharap drama akan selesai dan segera berangkat sekolah. Tapi ternyata saya sedang tidak beruntung. Anak saya tetap menolak makan. Saya coba ganti dengan lauk kerupuk, supaya ada kriuk-kriuknya dan dia mau melanjutkan makan. Tidak berhasil juga. Makanan yang sudah masuk mulut malah di lepeh. Habis sudah kesabaran saya. Saya bereskan piring dan mengomel tiada henti. Akhirnya, anak saya berangkat sekolah tanpa sarapan terlebih dahulu dan saya yang mengantarkannya dengan uring-uringan.

Menghadapi anak yang penuh drama, dan kadang di saat yang tidak tepat sepertinya sudah jadi makanan sehari-hari bagi ibu-ibu. Meskipun banyak sekali berseliweran ilmu parenting untuk menghadapi anak,  tapi rasanya menguap begitu saja ketika sudah di hadapkan dengan kenyataan di lapangan.

Kita sering melihat artis-artis yang bagai ibu peri ketika menghadapi anaknya. Nikita Willy contohnya, yang bisa dengan lemah lembut menyuapi anaknya. Saya cuma bisa menertawakan diri sendiri. Nikita Willy yang tetap sabar meskipun anaknya lepeh-lepeh makanan. Atau  Jennifer Bachdim yang katanya tanpa ART itu juga selalu bertutur kata dengan halus. Padahal anaknya juga banyak, tapi dia sanggup menghadapi pagi yang penuh kerempongan tanpa perlu menaikkan nada suaranya.  Saya yang baru dua anak saja rasanya tiada hari tanpa jadi reog.

Baca Juga  Upaya Meredakan Kolik Pada Bayi

Melihat Nikita Willy maupun Jennifer Bachdim yang lemah lembut, kemudian banyak ibu-ibu yang adu nasib. Ya enak kalau artis. Selesai nyuapin anak meskipun berantakan nggak akan mikir ngepelnya gimana. Atau ucapan-ucapan senada seperti, artis kan banyak uangnya, nggak mikir tagihan listrik, galon, susu anak, tentu saja nggak emosian.

Padahal, belum tentu kalau anda kaya dan banyak uang anda akan bisa bersikap seperti Nikita Willy ataupun Jennifer Bachdim. Belum tentu kalau anda kaya, anda akan mudah mengelola emosi dan bertutur kata. Nyatanya banyak juga orang kaya yang emosinya mudah meledak-ledak.

Karakter seseorang tidak terbentuk secara instan dalam 1 atau 2 tahun. Pembentukan karakter dalam diri seseorang terjadi melalui proses pembelajaran sepanjang hidupnya.

Setiap ibu pasti pernah stress menghadapi anak-anaknya. Tidak mudah memang untuk mengendalikan emosi. Bahkan Nikita maupun Jennifer pun pasti pernah merasa emosi ketika menghadapi tingkah anaknya. Cuma berbeda cara menyikapinya saja. Mereka sudah terlatih untuk bersikap tenang di depan anak-anaknya. 

Pendidikan karakter pertama kali adalah di rumah, di dalam lingkungan keluarga. Keluarga merupakan sumber utama dan pertama bagi anak untuk memperoleh dan membentuk serta mengembangkan karakter. Kalau anda terbiasa berada dalam keluarga yang  berbicara seperti orang berteriak, anda pun juga akan sama seperti itu. Anak-anak anda juga akan tumbuh dengan cara berbicara seperti itu.

Lingkungan keluarga yang penuh dengan kasih sayang juga akan membentuk anak-anak yang penuh kasih sayang. Pendidikan orang tua juga mempengaruhi pola asuh. Orang tua dengan pendidikan yang lebih baik, lebih paham cara berkomunikasi yang baik.

Dengan memahami ilmu parenting tidak serta merta anda akan langsung berhasil menerapkannya pada anak. Pengelolaan emosi yang baik tentu menjadi dasar utama. Dengan memahami emosi, kita dapat lebih memahami dampaknya terhadap perilaku dan mengetahui cara untuk mengendalikannya. Mengelola emosi itu penting karena akan membuat kita lebih memahami keadaan diri sendiri maupun lingkungan sekitar kita.

Baca Juga  Peran Orang Tua dalam Mengawasi Penggunaan Role Play di Media Sosial

Ilmu parenting semakin berkembang. Saya sendiri di besarkan oleh orang tua jaman dulu. Jaman orang tua belum mengenal apa itu parenting. Ketika anak menolak sesuatu akan di takut-takuti, atau di ancam. Akhirnya saya pun kadang melakukan hal yang sama. Itu adalah langkah cepat agar anak lebih nurut dan mengikuti kemauan orang tua.

Padahal, dengan cara menakut-nakuti dan mengancam akan membuat anak tumbuh menjadi penakut dan minder. Saya pun sadar sekali dengan efek negatifnya. Tapi masih sering “kelupaan”. Ini adalah bukti bahwa butuh banyak waktu untuk belajar mengelola emosi ketika menghadapi anak.

Tips-tips parenting hanyalah teori. Prakteknya tentu akan sangat berbeda antara anak satu dan lainnya. Karena setiap anak itu unik. Butuh proses yang panjang agar kita terbiasa dan terlatih bersikap tenang menghadapi berbagai macam tingkah anak. Tidak mudah memasang wajah “its ok” di depan anak meskipun dalam hati sudah meledak-ledak rasanya.

Meskipun tidak bisa di pungkiri bahwa ketika kondisi uang pas-pasan disaat gas, susu anak, token listrik habis pada saat bersamaan tentu saja akan membuat kita lebih cepat emosi. Tapi uang bukan alasan untuk kita membela diri sendiri yang mudah emosi ketika melihat orang dengan banyak uang sekaligus pintar mengelola emosi.

Bagikan
Post a Comment