Hal-Hal yang Tidak Kita Bicarakan Tentang Pemberian ASI
Sejak masa kehamilan, seorang ibu seringkali dihadapkan pada pilihan-pilihan yang harus mereka putuskan berkaitan dengan dirinya dan sang anak dalam kandungan. Dari hal kecil, seperti apakah akan membedong bayi atau tidak, menggunakan popok kain atau sekali pakai, hingga hal-hal besar yang membutuhkan komitmen panjang selama menjalankannya. Di antara hal-hal besar itu, pilihan untuk memberikan ASI atau susu formula menjadi perdebatan panjang; tidak hanya di kalangan para ibu tetapi juga masyarakat pada umumnya. Tak jarang perdebatan ini menambah tekanan bagi ibu yang baru melahirkan.
Promosi susu formula yang gencar di media-media mendorong para aktivis ASI untuk menandinginya dengan promosi keunggulan ASI. Sayangnya dengan keberadaan promosi keunggulan ASI ini, ada konsekuensi-konsekuensi menyusui bagi ibu yang luput disosialisasikan. Dapat dipahami, bahkan dengan menonjolkan keunggulan ASI saja, cakupan keberhasilan pemberian ASI ekslusif pada bayi usia 0-5 bulan di Indonesia hanya mencapai 37,3% berdasarkan Riskesdas 2018.
Bagaimanapun juga konsekuensi dari menyusui ini harus kita bicarakan bukan untuk menakut-nakuti calon ibu, tetapi untuk memastikan para ibu yang memilih untuk memberikan ASI pada anaknya mendapatkan dukungan maksimal.
Keluhan-Keluhan Ibu Menyusui
Masa-masa setelah melahirkan biasanya merupakan masa terberat dalam menyusui. Ibu harus beradaptasi dengan kehadiran sang buah hati sekalipun masih dalam kondisi fisik yang lemah dan butuh pemulihan. Ditambah lagi ibu harus menyusui bayi setidaknya setiap dua jam sekali. Lidah bayi yang masih kasar terkadang menyebabkan puting ibu lecet dan membuat ibu merasa tidak nyaman ketika menyusui.
Karena perasaan tidak nyaman ketika menyusui ini dianggap biasa, seringkali keluhan ibu diabaikan oleh orang-orang sekitar sehingga ibu merasa kebingungan. Padahal dalam beberapa kasus ternyata memang ada masalah dalam proses menyusui.
Perlu diketahui bahwa normalnya lecet pada puting sembuh dalam dua minggu. Selain itu puting juga seharusnya tidak sampai berdarah atau robek. Jika hal-hal tersebut terjadi, maka perlu dilakukan pendampingan oleh konselor laktasi untuk memastikan kegiatan menyusui berjalan lancar untuk ibu dan anak.
Kebutuhan nutrisi ibu selama menyusui juga meningkat, terutama kebutuhan kalsium. Beberapa keluhan kesehatan pada ibu menyusui seperti sakit gigi, nyeri punggung, dan rambut rontok menunjukkan tanda-tanda kekurangan kalsium. Berdasarkan penelitian, massa tulang perempuan menyusut sebanyak 3-5% selama menyusui.
Biasanya kebutuhan kalsium ini dapat dipenuhi dengan makanan bergizi tinggi dan suplementasi kalsium. Kebutuhan kalsium juga dapat segera dipenuhi oleh tubuh setelah menyapih anak. Dengan kata lain, untuk memastikan bahwa tubuh ibu ternutrisi dengan baik, perencanaan jarak usia anak juga sangat krusial. Setidaknya setelah ibu menyapih anak, ibu membutuhkan waktu beberapa saat untuk memenuhi kebutuhan kalsium tubuh yang sempat kurang sebelumnya.
Terakhir, konsekuensi berupa komitmen waktu yang dibutuhkan oleh ibu untuk memberikan ASI lebih besar daripada ketika memberikan susu formula. Bayi dapat meminum susu dari botol lebih cepat daripada ketika menyusu langsung dan susu formula lebih lama diserap oleh tubuh. Jadi waktu yang dibutuhkan untuk memberi ASI lebih lama dan frekuensinya pun lebih sering. Ini tentu memberikan tantangan tersendiri bagi ibu yang bekerja.
Agar Kebutuhan ASI Terpenuhi
Untuk dapat memenuhi kebutuhan ASI anak; ibu bekerja harus rutin memerah ASI dan memastikan bahwa ASI perah tersimpan dalam suhu ideal sehingga ASI perah tidak rusak. Pemberian ASI perah kepada anak juga tidak bisa sembarangan, karena pada beberapa kasus pemberian ASI perah dengan dot dapat menyebabkan anak bingung puting sehingga anak tidak mau lagi menyusu langsung dari ibu.
Konsekuensi-konsekuensi menyusui ini dapat diatasi jika tanggung jawab dalam memenuhi hak anak atas ASI tidak hanya dibebankan kepada ibu. Ayah dan keluarga besar juga harus turut andil mendukung pemberian ASI; baik dengan memenuhi kebutuhan nutrisi ibu, meringankan rasa tidak nyaman bagi ibu, juga membekali diri dengan pengetahuan terkini mengenai pemberian ASI.
Keberadaan konselor laktasi juga bisa dimanfaatkan untuk mendapatkan ilmu laktasi. WHO bahkan merekomendasikan konseling dengan konselor laktasi setidaknya tujuh kali sejak masa kehamilan hingga satu bulan setelah kelahiran dan sebelum ibu kembali bekerja.
Kesepakatan ayah dan ibu dalam penggunaan KB untuk mengatur jarak usia anak juga merupakan usaha agar kebutuhan nutrisi ibu menyusui dapat terpenuhi. Di lingkungan kerja, memberi dukungan dengan menyediakan ruang laktasi dan kelonggaran waktu untuk ibu memerah ASI.
Untuk ibu menyusui, saat ini juga ada banyak forum-forum online termoderasi yang menyediakan tempat berbagi dengan sesama ibu menyusui. Berada dalam forum ibu menyusui menyadarkan bahwa ada banyak ibu lain yang sedang dalam kondisi yang sama dan juga sedang berjuang memenuhi hak anak untuk mendapatkan ASI.
Konsekuensi-konsekuensi ini mungkin terlihat rumit dan merepotkan bagi ibu. Dengan dukungan dari pasangan, keluarga, dan lingkungan sekitar, konsekuensi-konsekuensi ini akan terasa semakin ringan dan dapat teratasi. Bagaimanapun juga keunggulan ASI masih melebihi konsekuensinya, baik bagi anak maupun ibu.
IG: @amalia.sheila
