f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
mengenali anak

Sudahkah Kita Mengenali Anak Kita?

“Stop trying to perfect your child, but keep trying to perfect your relationship with him / her”~ Dr. Henker

Tapi, bagaimana caranya?

“Saya sudah berusaha memberikan yang terbaik, tapi dia seperti tidak mau diatur.”

“Saya mencoba mendekat padanya, tapi dia seringkali bersikap dingin.”

“Kenapa kok perilakunya menjadi berbeda? Saat kecil, ia patuh dan mengikuti semua nasihat saya. Tapi kenapa saat ini tidak?”

Apa yang salah?

“Kenapa sih tidak ada sekolah buat orang tua? Kan harusnya menjadi lebih mudah untuk dilalui!”

***

Mendengar berbagai pertanyaan dan pernyataan di atas, mengingatkan kembali pada wejangan (~nasehat) yang disampaikan oleh ibu dan eyang.

“Kenali anakmu, maka kamu akan memiliki hubungan yang baik dan dia akan sayang padamu selamanya”.

Dulu, saat masih gadis, yang terbersit di pikiran adalah “ya iyalah harus kenal, masa sama anaknya sendiri ngga kenal?” Seiring berjalannya waktu, apalagi saat sudah memiliki anak, semakin lama saya semakin mengerti dengan maksud dari kalimat tersebut.

“Kenal” itu bukan hanya mengetahui makanan apa yang dia suka, kegiatan apa yang dia minati, hobby atau kegemarannya apa, tapi, lebih jauh dari itu. Saat ia menampilkan reaksi tertawa ketika menghadapi kegagalan, itu artinya apa? Saat reaksinya lebih banyak diam ketika diajak bicara, itu artinya apa? Dan saat reaksinya marah ketika orang tua atau adik perempuannya terlambat pulang, itu artinya apa?

Teringat pada suatu masa, di mana anak saya yang berjenis kelamin laki-laki (usia 4,5 tahun) menyampaikan bahwa ia ingin tidur dengan eyangnya. Saat itu, saya hanya mengatakan, “coba tanya dulu ke eyang, kalau kata eyang boleh, maka boleh, tapi kalau tidak, maka tidak boleh”.

Singkat cerita, ia yang biasanya tidur bersama saya dan kakak perempuannya (yang berusia 6 tahun) di kamar yang sama, di hari tersebut ia tidur bersama eyangnya. Keesokan harinya saya bertanya, “gimana nak? Seneng tidur dengan eyang?” Ia lalu mengangguk dan mengatakan “senang ambu (ibu – dalam bahasa Sunda)”.

Baca Juga  Peranan Ayah dalam Keluarga Perspektif Pemikir Muslim Kontemporer

Lalu hari-hari berjalan seperti biasa. Kami bermain, tertawa, mengerjakan banyak aktivitas bersama-sama. Intinya, tidak ada yang berubah dari perilakunya di keseharian. Satu hal yang berbeda hanyalah keinginannya untuk tidur bersama eyang selama dua hari ke depan.

***

Di hari ketiga, saat sedang berbincang dengannya, saya bertanya “nak, kamu seneng ya tidur bareng eyang?” Saat itu, maksud saya, jika ia menyampaikan bahwa ia merasa senang, maka tidak apa-apa. Saat itu saya hanya ingin tahu, apa yang membuat ia senang tidur bersama eyangnya. Hal menarik apa yang ia lakukan selama tidak bersama saya. Pada dasarnya, saya akan senang jika ia senang.

Ternyata responnya di luar bayangan saya. Ia menangis tersedu-sedu, lalu mengatakan “huhuhu,, ambu hanya sayang sama kakak, ambu ngga sayang sama aku”.

Loh? Jujur saya bingung.

Lalu saya bertanya padanya “loh, kok kamu tiba-tiba bilang begitu?”

“Iya, soalnya ambu hanya peluk kakak. Ambu ngga mau peluk aku”

(Sambil mengingat-ingat apa yang terjadi pada hari di mana ia mulai meminta tidur bersama eyang) “hmm, waktu itu inget tidak, kakak kan ngantuk terus kamu masih mau nonton tv di luar kamar. Ambu ajak kamu untuk masuk kamar juga ngga?”

“Iya ambu”, jawabnya.

“Lalu kamu mau ngga?” tanya saya.

“Ngga”, jawabnya.

“Lalu ambu kan minta ijin sama kamu, bahwa ambu dan kakak akan masuk ke kamar duluan. Ya kan?” tanya saya lagi.

“Iya. Tapi waktu aku ke kamar, ambu lagi peluk kakak. Ambu ngga peluk aku.”

“Waktu itu, ada siapa aja di kasur? Ambu hanya berdua kakak kan? Lalu kamu kan melihat ambu dan kakak dari pintu. Ambu ajak kamu masuk. Kamu ngga mau”, terang saya.

Baca Juga  Parenting: Membesarkan Anak Menjadi Feminis

“Iya” (sambil mengangguk dan terlihat seperti mengingat-ingat).

“Biasanya kalau ada kamu dan kakak, ambu akan peluk kalian berdua kan? Kalau di Kasur hanya ada kakak, lalu ambu harus peluk siapa lagi selain kakak?”, tanya saya lagi.

Setelah saya menanyakan hal tersebut, ia lalu tersenyum dan tiba tiba berkata “oh,, iya ya,, aku kira ambu hanya sayang kakak saja”.

***

Ya ampun, dari situ saya belajar banyak. Saya sebagai orang tua perlu cermat dengan pola perilaku yang “tidak biasa”. Di situlah seorang anak pasti sedang merasakan sesuatu, yang sangat mungkin membuat ia merasa tidak nyaman namun bingung untuk ia ekspresikan. Pertanyaan singkat itu menjadi “pemicu” ia untuk mengeksplorasi emosi yang sebenarnya dirasakan dan perlu dikelola. Setelah pembicaraan itu, ia kembali tidur bersama kami. Tidak ada lagi perasaan tidak nyaman yang ia rasakan.

Sulit ? Pasti. Tapi yang jelas, pembelajaran antara interaksi orang tua dan anak, pastinya akan selalu berlangsung terus menerus. Tidak terbatas waktu. Tidak terbatas ruang. Ia akan belajar dari kita sebagai orang tuanya, dan demikian pula sebaliknya.

Jangan lelah untuk belajar. Di situ pun saya semakin mengerti dengan maksud dari “kenali anakmu, maka kamu akan memiliki hubungan yang baik dan kalian akan saling menyayangi satu dengan lain, selamanya”.

Bagikan
Post a Comment