f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
kriminalitas anak

Kriminalitas Anak, Salah Siapa?

Seiring perubahan zaman berubah pula pola perilaku seseorang, terutama anak-anak. Seorang anak identik dengan perilaku meniru dan hal ini lah yang tak jarang memberikan dampak pada perubahan perilaku mereka.

Selain tentang kemajuan teknologi, era digitalisasi membawa banyak dampak di semua lini kehidupan. Ketergantungan pada teknologi tak selalu membawa dampak positif, khususnya pada pola perilaku anak. Anak-anak di era ini lebih banyak dekat dengan gawai dari pada orang tua atau orang dewasa lainnya. Teknologi seakan menjadi tuan, tempat bertanya dan kiblat pergaulan mereka. Lantas apa kabar nilai dan moral yang diajarkan? apakah hanya menjadi hiasan? Kenapa pula kasus tindak kriminal yang dilakukan anak justru semakin sering terdengar?

Fitrah Anak

Dewasa ini seakan semakin marak berita tentang tindak kriminal yang dilakukan oleh anak. Padahal jika kita mau menilik kembali, seorang anak memiliki fitrah yang jauh sekali dari kata kriminal. Salah satu fitrah yang dibawa oleh seseorang sejak lahir adalah kasih sayang, jadi seharusnya sifat itu pula yang melekat pada pribadi mereka, bukan sebaliknya.

Dilansir dari laman katadata.id kasus kriminalitas anak didominasi oleh kekerasan fisik. Hal ini didasari oleh laporan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat terdapat 123 kasus anak berhadapan hukum (ABH) sebagai pelaku hingga Agustus 2020 dan kriminalitas terbanyak adalah kekerasan fisik, yaitu 30 kasus dari total keseluruhan. Melihat hasil tersebut, lantas kemanakah sifat kasih dan sayang itu pergi? apakah menghilang dengan sendirinya?

Hal ini sudah seharusnya menjadi perhatian kita sebagai  orang dewasa, sebab anak memiliki sifat dasar meniru apa yang mereka lihat. Lalu, apakah tindak kriminal yang mereka lakukan merupakan buah meneladani orang dewasa secara salah?

Baca Juga  Pendidikan Seks pada Anak Usia Dini

Sudah saatnya orang dewasa tak lagi abai. Era digitalisasi ini justru menuntut kita untuk semakin dekat dengan anak, merangkul mereka, menjadi sahabat dekat mereka, menjadi idola nomor wahid bukan hanya sekedar menjadi penonton belaka dengan dalih tak lagi paham akan dunia mereka.

Fenomena Tindak Kriminal yang Dilakukan Anak

Beberapa waktu lalu santer tersiar berita tentang pembunuhan yang dilakukan seorang siswa terhadap teman sekelasnya. Hal ini menimbulkan banyak tanda tanya dan harus menjadi pusat perhatian, baik orang tua, pihak sekolah maupun masyarakat sekitar. Melihat fenomena yang terjadi pastilah kita sebagai orang dewasa merasa “apa yang salah?”. Seperti yang kita tahu, siswa sudah semestinya dalam masa belajar, mengulas berbagai pengetahuan dari sekolah dan juga sekitar. Seseorang yang dalam masa pencarian dan seharusnya dalam pengawasan.

Tindak kriminal yang dilakukan oleh anak tak lagi boleh dianggap lazim. Apalagi menuding mereka sebagai seorang ‘penjahat’ tanpa menilik apa alasan dan penyebab mereka melakukannya. Orang dewasa tak lagi bisa menutup mata akan kemungkinan tindakan tersebut merupakan buah dari kelalaian proses pengawasan pada anak.

Bahkan penulis memperoleh informasi dari sebuah instansi pendidikan menengah pertama swasta bahwa minggu ini terdapat satu kasus kriminal yang dilakukan oleh siswa. Kasus ini masih dalam tahap pendalaman karena menyoal tentang pencurian uang di dalam kelas. Menurut sumber, terduga merupakan seorang siswa yang tidak terlalu dekat dengan orang tuanya. Ia merupakan salah seorang siswa yang sering dianggap ‘urakan’ dan kurang sopan. Namun lagi-lagi apakah itu murni dari keinginan hatinya atau ada faktor lain yang mendukungnya?

Tindakan kriminal seharusnya tak lekat dengan seorang anak. Namun kita juga tak bisa abai akan kenakalan yang dilakukan oleh anak, karena di tengah kemajuan zaman ini kenakalan anak tak hanya bisa dianggap wajar. Kenapa? karena pengaruh dari lingkungan bisa memberikan dampak yang melebihi batas ‘wajar’ tersebut.

Baca Juga  Refleksi Akhir Tahun para Orang Tua untuk Tumbuh Bersama Anak
Evaluasi Semua Lini

Pemberitaan media akhir-akhir ini tentang maraknya tindak kriminal yang dilakukan oleh anak tentu tidak bisa membuat kita tenang. Tak perlu pula mencela atau bahkan menyalahkan secara sepihak kepada para pelakunya, karena jika kita mau melihat lebih dalam tentunya ada banyak faktor yang mendorong seorang anak melakukan perbuatan amoral tersebut.

Sudah menjadi hal yang wajib jika kita mulai sadar diri bahwa ada yang salah dengan cara kita membesarkan anak. Hal ini tak hanya berlaku bagi kita sebagai orang tua, karena hal-hal yang mempengaruhi perkembangan seorang anak tidak berasal dari orang tua semata. Peran dari lingkungan bahkan juga sekolah tidak bisa dilupakan begitu saja.

Sudah saatnya sebagai orang tua kita aware tentang penanaman nilai dan moral secara tegas kepada anak, pun demikian anak harus diberikan teladan yang baik.  Perbaikan pola asuh yang sesuai dengan usia anak juga harus mulai dilakukan sebagai bentuk pendampingan dan pengawasan nyata kepada mereka.

Lingkungan adalah pengaruh yang paling dekat dengan anak selain orang tua. Lingkungan dalam hal ini adalah lingkungan tempat anak tinggal, tempat mereka berinteraksi dengan orang lain. Penanaman nilai dan moral tak hanya cukup sampai orang tua saja, karena anak justru lebih sering menghabiskan waktu mereka dengan lingkungan sekitar dari pada orang tua mereka sendiri. Perbaikan cara masyarakat memandang seorang anak juga harus mulai digerakkan, masyarakat tak lagi bisa abai dengan kenakalan-kenakalan yang dilakukan anak di sekitar mereka. Jangan sampai anak menganggap wajar setiap kenakalan yang mereka lakukan diluar pengawasan orang tua.

Selain peran orang tua dan juga lingkungan, peran pihak sekolah juga bisa menjadi titik balik perubahan perilaku seorang anak. Sadar atau tidak, sekolah tak hanya menjadi tempat belajar secara formal. Hal ini tentu harus menjadi perhatian pihak sekolah. Jangan sampai sekolah yang seharusnya menjadi pencetak generasi yang berbudi dan beradab justru menghasilkan generasi yang dekat dengan tindakan kriminal.

Baca Juga  Pola Asuh Abusive: Mencetak Generasi mental Baja, Mewariskan Trauma

Intinya, baik orang tua, masyarakat maupun pihak sekolah haruslah berbenah secara bersama-sama karena ketiga lingkup tersebut saling melengkapi dan saling menguatkan. Bukan untuk saling menyalahkan atau bahkan saling menjatuhkan terutama dalam hal perkara kriminalitas anak.

Referensi

katadata.co.id (12 April 2021). Kasus Kriminalitas Anak Didominasi Kekerasan Fisik. Diakses pada tanggal 14 Agustus 2022 melalui https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2021/04/12/kasus-kriminalitas-anak-didominasi-kekerasan-fisik

kompas.com (08 Agustus 2022). 6 Siswa SMP di Lampung Bunuh Teman Sekelasnya, Jenazah Korban Dibuang ke Sungai. Diakses pada tanggal 08 Agustus 2022 melalui https://regional.kompas.com/read/2022/08/08/090523878/6-siswa-smp-di-lampung-bunuh-teman-sekelasnya-jenazah-korban-dibuang-ke

Bagikan
Post a Comment