f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.

Si Kecil Nggak Harus Juara Olimpiade Kok

Pertama tama saya mau sombong dulu, saya itu termasuk siswa yang dulunya punya prestasi cemerlang. Secemerlang mentari pagi hari, eaaa. Pada tahun 2014 dahulu, saya mendapatkan medali perunggu bidang kimia di Olimpiade Sains Nasional tingat SMA. Menurut saya prestasi itu merupakan puncak kejayaan saya selama SMA. Medali itu, waduh susah banget pokoknya buat didapetin.

Saya harus berjuang dari mulai seleksi sekolah. Lalu melenggang mengalahkan siswa dari perwakilan kabupaten di Trenggalek. Berlanjut mengalahkan wakil tiap kabupaten di Jawa Timur. Sampai akhirnya mencapai Nasional. Di situ pun saya harus mati-matian menghadapi para wakil dari tiap provinsi di Indonesia. Nggak kebayang toh, betapa beratnya perjuangan itu.

Dari situ saya baru paham. Kalau saja faktor kemenangan para siswa yang ikut Olimpiade Sains Nasional sangat tergantung pada sekolahnya, dan bukan dari faktor siswanya.

Baiklah, mohon dibaca dengan baik, “Faktor sekolahnya, bukan siswanya”.

Lho, memang saya punya data darimana? Begini saya jelaskan dengan sederhana dan mengena berdasarkan pengalaman, eaaa sombong amat.

Tradisi Jadi Juara

Pada dasarnya sudah menjadi tradisi setiap SMA di seluruh Indonesia untuk berusaha membuat para siswanya menjadi pemenang di perlombaan kancah nasional apalagi kalau bisa internasional. Kalau berhasil, melambunglah nama SMA itu. Sehingga efek selanjutnya akan datang para calon murid yang juga bermimpi menjadi juara lomba-lomba nasional dan internasional.

Tetapi nyatanya setiap sekolah memiliki keterbatasan. Sebut saja sekolah saya. Dengan letak sekolah di Kabupaten Trenggalek yang jauh dari kota besar. Sekolah saya cukup susah untuk mendapatkan para pembimbing yang selevel dengan para pembimbing di Kota Surabaya misalnya. Tentu sangat timpang bukan?

Jika misal ada para pembimbing yang levelnya selevel dengan pembimbing di Kota Surabaya namun rumahnya ada Tulungagung (Tulungagung tepat berada di sebelah timur Trenggalek). Belum tentu juga sekolah saya bisa menghadirkannya. Utamanya karena urusan biaya.

Baca Juga  Memahami Anak Insecure

Maka pada poin pertama ini, saya simpulkan bahwa bagaimanapun juga biaya yang dimiliki sekolah itu sangat menentukan siswanya bisa berprestasi atau tidak.

Penyelamatan Generasi Melalui Olimpiade

Ngomong-ngomong tentang tenaga pembimbing olimpiade, yang menjadi tenaga utama adalah para mantan juara olimpiade juga. Jeng jeng jeng, lalu bagaimana kalau sekolah tersebut tidak memiliki mantan juara olimpiade? Ya kalau mau tetap ngotot ngedatengin pembimbing sekaliber mantan juara olimpiade, ya harus merogoh kocek lebih dalam.

Beda kasus dengan SMA di kota yang sudah pernah ada pemenang olimpiadenya, mereka akan diuntungkan. Kalau mendatangkann alumni tarifnya kan bisa lebih murah, bahkan juga bisa tanpa tarif.

Hal itu berbanding terbalik dengan keadaan di SMA yang sudah pinggiran, apalagi nggak punya alumni pemenang olimpiade.

Opsi lain kalau nggak ada biaya, bisa juga kok pakai para guru mata pelajaran yang sesuai dengan bidang olimpiade tersebut. Tapi ya harus digaris bawahikalau para guru ini nggak punya pengalaman langsung mengikuti olimpiadenya.

Sehingga di poin kedua ini bisa sama-sama kita simpulkan, jika sekolah tersebut memiliki jumlah pemenang olimpiade yang banyak, maka terselamatkan juga generasi penerusnya. Nyatanya ini saling berhubungan dengan adanya biaya pada poin pertama.

Mimpi Peluang yang Sama

Lalu bagaimana kalau sekolah itu tidak punya biaya, sekaligus pembimbing yang mantap? Satu-satunya jalan adalah menunggu. Menunggu ada siswa yang benar-benar punya niatan untuk berusaha semaksimal mungkin mendapatkan medali yang dicita-citakannya. Kalau saja ada siswa yang kayak gini, dia bakal berusaha sekuat mungkin mulai dari nonton tutorial bahas soal di Yutube, cari soal olimpiade dalam negri dan luar negri, cari teman dari sekolah lain yang punya tekad sama, sampai cari guru pribadi dengan bantuan biaya orang tua.

Baca Juga  Fokus Saling Dukung Soal Parenting, Jangan Lagi Bahas Kubu-kubu!

Tapi cukup tahu saja. Siswa macam ini cukup jarang adanya, tidak setiap tahun akan muncul. Begitulah kira-kira poin ketiga.

Saya sendiri termasuk poin ketiga, berawal dari terinspirasi kakak kelas yang bisa melenggang sampai olimpiade internasional. Saya bermimpi punya prestasi yang sama, dengan cara mulai minta bimbingan khusus ke guru mata pelajaran kimia, cari soal, cari teman, dan bepergian keluar kota untuk mencari pembimbing di luar sekolah. Ya begitulah, sampai saya mendapatkan medali yang saya impi-impikan.

Lalu apakah lantas saya senang dan berbangga diri? Iya jelas, tapi tidak lama. Ternyata banyak hal yang saya tinggalkan ketika saya fokus mengejar medali. Salah satu yang paling membekas adalah fakta bahwa tidak semua teman sekelas saya benar-benar jago mata pelajaran kimia, bahkan ada yang nggak paham sama sekali.

Padahal ada teman satu kelasnya yang jadi peraih medali perunggu tingkat nasional. Ya benar, saya terlalu sibuk mengejar prestasi, sampai lupa teman sendiri. Miris, tapi terjadi.

Motivasi Jadi Pribadi Sebaik-baiknya

Maka, gampang saja. Daripada para ibu-ibu sekalian terlalu naif memaksakan kehendak menjadikan anaknya menjadi juara olimpiade. Menurut saya akan lebih mulia jika ibu sekalian memotivasi anak-anak untuk menjadi pribadi yang peduli. Utamanya peduli dengan sesama teman supaya sama-sama bisa melangkah ke masa depan yang lebih baik. Langkah paling mudah dengan saling mengajari satu sama lain antar teman, bermain bersama serta membangun solidaritas.

Jangan seperti saya yang telah meninggalkan teman-teman seperjuangan. Demi sebuah benda yang kalau saya ingat-ingat, manfaatnya juga nggak seberapa.

Memang itu semua tidak akan menjadikan anak ibu menjadi juara olimpiade. Tapi itu lebih baik, karena dia akan menjadi pribadi ramah yang akan membawa banyak manfaat kepada lingkungannya kelak.

Baca Juga  Pentingnya Menjadi Teman Belajar Anak Selama Pandemi

Bagikan
Post a Comment