Erich Fromm dalam PKKMB
PKKMB telah menjadi tradisi bagi banyak kampus di Indonesia, yang konon katanya bertujuan untuk memberikan pendidikan bagi mahasiswa baru. Para mahasiswa baru mengalami pendidikan oleh para seniornya yang biasanya dipegang oleh BEM di tingkat fakultas dan Universitas. Sedangkan, pada tingkat prodi dilakukan oleh HIMA.
Namun, apakah benar PKKMB menjadi ruang pendidikan bagi mahasiswa baru? Ataukah kata “pendidikan” hanya menjadi manipulasi belaka untuk memperdaya mahasiswa baru?
Saya kira, PKKMB sangat jauh dari nilai pendidikan. Pendidikan pada dasarnya mengedepankan nilai kemanusiaan sebagai proses pendewasaan. Paulo Freire menyebutkan jika pendidikan menjadi senjata utama bagi individu untuk mentransformasikan kehidupan.
Sayangnya, saya melihat PKKMB masih jauh dari esensi pendidikan yang humanis dan pendewasaan. Mengingat, para kakak senior memberikan penugasan dengan tidak masuk akal. Saya pernah membaca status WhatsApp teman saya, bahwa salah satu kampus di Madura memberikan penugasan kepada mahasiswa barunya dengan tulis tangan dan tidak boleh ada coretan.
Logikanya, sejauh mana manusia bisa melakukan sesuatu tanpa ada kesalahan sedikit saja? Bahkan, pengalaman saya sebagai mahasiswa, juga meyakini para kakak senior sering mengalami kesalahan selama mengerjakan tugas kuliahnya. Kesalahan merupakan hakikat dari seorang manusia.
Belum lagi, minggu kemarin saya tersentak saat mendengar peraturan PKKMB di salah satu kampus ternama Surabaya. Saya mendengar jika mahasiswa baru dilarang menggunakan aksesoris berlebih. Bagi saya, tidak ada korelasi antara pakaian dengan pendidikan. Yang menjalani pendidikan adalah kesadarannya, bukan cara berpakaiannya.
***
Aturan lainnya yang menggelitik, yakni jika ingin makan harus izin ke kakak senior. Saya jadi harus mempertanyakan kembali elektabilitas kakak senior yang membuat aturannya selaku mahasiswa, yang katanya menghargai HAM. Kalau para mahasiswa baru merasakan lapar, mereka memiliki hak untuk makan, tanpa harus seizin dari kakak senior.
Masih banyak ironi-ironi PKKMB yang jauh dari keluhuran pendidikan. Bahkan, cenderung tidak mengedepankan etika kemanusiaan.
Persoalannya, mengapa tradisi PKKMB yang penuh tragedi kemanusiaan masih sering terjadi dan cenderung dianggap kewajaran bagi kakak senior selaku panitia? Sudah lama saya mengalami keresahan tersebut. Hingga akhirnya, saya mampu menemukan jawaban setelah membaca beberapa literatur buku Erich Fromm.
Dari buku yang berjudul Revolusi Harapan, Erich Fromm menjabarkan karakter manusia modern yang mengalami keterasingan terhadap dirinya sendiri akibat keberadaan birokrasi. Birokrasi notabene selalu mengontrol kesadaran orang lain dengan pembuatan sanksi saat melanggar regulasi. Dengan adanya sanksi, akhirnya orang lain menyerahkan kesadaran dan kehendak dirinya untuk tunduk pada pimpinan.
Saya menilai jika analisis Erich Fromm di buku Revolusi Harapan memang benar adanya. Melihat dari teman-teman saya yang terjun menjadi panitia PKKMB, mereka mengalami pengontrolan kesadaran dan kehendak. Mengingat, terdapat beberapa mahasiswa yang berpikir kritis menyadari, jika PKKMB hanya panggung bagi kakak senior untuk menghilangkan keluhuran pendidikan.
Sayangnya, teman saya tidak bisa melakukan pemberontakan. Mereka masih takut dengan sanksi yang akan mereka terima. Sejauh pengalaman saya menjadi HIMA, sanksi tidak bersifat kekerasan fisik. Melainkan sanksi sosial melalui pengucilan. Pengucilan terbentuk ketika sesama anggota HIMA menjatuhkan anggotanya yang tidak patuh pada regulasi PKKMB.
***
Tidak mengherankan jika ada panitia dengan pemikiran kritis, terenggut kekritisannya. Mereka lebih memilih tidak terkucilkan. Mengingat, pengucilan tidak menghasilkan luka fisik, melainkan membentuk luka psikis. Luka psikis lebih sulit sembuh daripada luka fisik.
Selain itu, buku Erich Fromm berjudul Perang Dalam Diri Manusia, mengajarkan saya bahwa manusia memiliki karakter sadisme. Sadisme terbentuk ketika individu mengalami ketakutan akan ketidakpastian hidup. Ketidakpastian hidup, menjadikan individu melakukan berbagai cara agar mendapatkan kepastian, meski dengan menjatuhkan martabat sesama manusia. Sebagai contoh, Adolf Hitler melakukan pembantaian pada kaum Yahudi untuk mendapatkan kekuasaan.
Begitu juga dengan kakak senior di PKKMB. Pengalaman saya sebagai panitia PKKMB dan cerita dari beberapa teman, memperlihatkan jika banyak kakak senior melakukan tindakan tidak logis demi mencapai tuntutan dari PKKMB. Ini terlihat begitu jelas pada sie komisi disiplin (komdis). Komdis dituntut oleh ketua pelaksana untuk mencari kesalahan mahasiswa baru dan tidak boleh kalah argumen. Sehingga, kekerasan verbal, bahkan kekerasan fisik menjadi senjata utamanya.
***
Ketika tuntutan berhasil tercapai, maka pujian dan sertifikat akan diperoleh. Pujian dan sertifikat menjadi objek penghambaan oleh manusia modern. Mengapa? Pujian akan memapankan kepercayaan diri individu dalam menjalani hidup. Meski sebenarnya, pujian hanya membangun buaian sesaat.
Begitu juga dengan sertifikat, ikut menambah kepercayaan diri individu semakin mantap menyongsong masa depan. Lantaran, banyak lembaga perusahaan dan lembaga pendidikan melihat pencapaian individu hanya dari setumpuk sertifikat.
Misal, semakin banyak sertifikat organisasi, semakin besar peluang bagi individu memperoleh pekerjaan. Lembaga pendidikan dan perusahaan seakan hanya percaya dengan setumpuk lembaran sertifikat, tetapi enggan melihat etika kemanusiaan yang sekarang mulai merosot.
Terakhir, saya teringat dengan pemikiran Erich Fromm dalam buku Seni Mencintai. Bahwa untuk bisa menghargai keberadaan orang lain sebagai manusia, maka mencintai diri sendiri terlebih dahulu. Dengan demikian, jika kakak senior memahami jati dirinya dengan orientasi cinta, maka tindakan tidak manusiawi dan pendidikan yang mendewasakan, akan menjadi marwah dalam PKKMB.
Namun, bisakah kakak senior menemukan jati dirinya dengan cinta? Jangan-jangan cinta akan kemanusiaan hanya menjadi omong kosong bagi mereka, karena yang ada hanyalah tahta, kuasa, dan penindasan?

Mahasiswa Sosiologi dan penulis konten Arena Sosial
