Islam Belum Usai
Islam tidak pernah berubah. Ajaran Islam masih sama, mengagungkan kemanusiaan dalam kehidupan. Yang berubah hanya segelintir oknum tidak bertanggung jawab. Para oknum yang mengatasnamakan nilai keislaman, ternyata menyimpang jauh dari ajaran Islam. Dan inilah kehidupan sosial kita saat ini yang penuh dengan sengkarut mengerikan.
Sebatas pengetahuan saya, Islam diturunkan untuk mengubah kehidupan manusia untuk lebih baik. Teraktualisasikan ketika Nabi Muhammad mengubah pola pikir masyarakat Jahiliah yang menguburkan anak perempuannya, agar tidak melakukannya kembali. Sebab, anak merupakan karunia dari Tuhan. Dan anak laki-laki maupun perempuan sejatinya sama-sama memiliki kemuliaan.
Kemuliaan Islam
Saya juga teringat dengan perkataan guru agama saya, bahwa Islam datang untuk menyetarakan derajat perempuan. Perempuan dalam masa Jahiliyah hidup dalam kurungan yang merendahkan posisinya. Kemudian, saya juga teringat dengan kisah Nabi Muhammad dari Ibu Yulianti Mutmainnah. Beliau mengisahkan bahwa Nabi Muhammad tidak sembarangan memberikan hukuman dalam kasus zina. Setidaknya harus ada 4 orang saksi yang melihatnya.
Begitu adilnya Islam dalam menyelesaikan zina. Bahkan, dalam fikih juga menjelaskan dengan rinci perbedaan pemerkosaan dan zina. Dalam fikih, pemerkosaan berarti hirabah. Dengan kata lain, pemerkosaan terjadi tanpa adanya rasa saling suka. Sehingga, tidak membutuhkan kesaksian dari orang lain, melainkan kesaksian korban menjadi hal utama untuk memberikan hukuman.
Berbeda dengan zina yang terjadi saling menyukai. Perbuatan zina terjadi secara sadar, aqil, baligh, dan ghairu majnun.
Suara-suara yang Belum Usai
Lantas, mengapa wajah Islam saat ini terjebak dalam dimensi hitam? Bagu Sujiwo Tejo, orang sekadar melakukan salat, tetapi tidak pernah mengimplikasikan salatnya dalam akhlaknya. Banyak orang yang salat, namun tidak ada wujudnya di dunia ini. Mereka sekadar memberikan gambaran cara salat kepada orang lain. Semestinya, seseorang bukan hanya memeragakan praktik salat, melainkan juga mengimplikasikannya cara bertindaknya di dunia ini.
Ditambah lagi dengan moralitas manusia modern yang sudah mengasingkan keberadaan orang lain. Masyarakat melihat orang lain sebagai objek benda yang tidak memiliki perasaan, martabat, dan harga diri. Oleh sebab itu, manusia modern sudah kehilangan nilai adiluhung sebuah cinta.
Kendati demikian, tidak semua tokoh agama memiliki sikap yang merugikan umat manusia. Masih banyak ditemukan para pejuang Islam yang terus menyuarakan kesetaraan atas nama kemanusiaan. Sebagaimana buku berjudul, Zakat untuk Korban Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak karangan dari Ibu Yulianti Mutmainnah. Buku tersebut berhasil merekonstruksi pemahaman kita tentang keberadaan zakat dapat digunakan bagi perempuan dan anak yang menjadi korban kekerasan.
Tidak jauh berbeda dengan buku karangan Lailatul Fithriyah Azzakiyah dengan judul Perempuan Menggugat Al-Quran Menjawab. Buku yang ditulis dengan bahasa sederhana tersebut menggambarkan bahwa Al-Qur’an memiliki peranan untuk menyelesaikan persoalan perempuan, baik dalam ranah publik dan keluarga.
Habib Husein Ja’far yang sering disebut ustaz milenial, juga menjelaskan bahwa kita tidak berhak memberikan stigma pada perempuan yang tidak menutup auratnya. Tugas kita sebagai laki-laki adalah menundukkan pandangan. Perkataan dari Habib Husein Ja’far memang benar adanya karena kedaulatan tubuh perempuan merupakan urusan pribadinya. Sehingga, tidak berhak untuk menyalahkannya. Hal terpenting adalah memuliakannya sebagai manusia.
Islam dan Tragedi Media
Dengan kata lain, Islam tidak seutuhnya kehilangan ruh kemanusiaannya. Hanya saja, keterbatasan tokoh agama untuk menyuarakan pengetahuannya kepada khalayak umum. Menurut saya terdapat dua penyebab yang membuat fenomena tersebut terjadi.
Pertama, tokoh agama yang sudah berumur lanjut kurang bisa memanfaatkan teknologi sebagai sarana dakwahnya. Sebelum teknologi berkembang dengan pesat, tokoh agama sekadar menyebarkan dakwahnya secara konvensional, yakni dari satu panggung ke panggung lainnya.
Masih teringat dalam memori saya ketika menghadiri acara maulid dengan pengisi acaranya yang sama dalam tempat yang berbeda. Karena itulah, tindakan tokoh agama yang berusia lanjut merasa tidak nyaman untuk berdakwah dalam ruang virtual.
Namun, kita saat ini hidup dalam logika dromologi. Bagi Virillio, logika dromologi mengedepankan kecepatan. Adigung dari dromologi adalah siapa yang tercepat dia yang akan menjadi pemenang.
Kedua, media mengikuti keterasingan manusia modern. Masih terjadi secara masif keberadaan media yang bias gender. Terkadang, media mengaburkan perihal kekerasan seksual. Saya sering kali melihat informasi di media memberitakan kekerasan seksual, justru menjatuhkan posisi korban. Media yang seharusnya menjadi ruang untuk membantu korban, malah semakin memanaskan kondisi yang ada. Kepalang bukan main memang budaya patriarki yang tertanam begitu kuat di kehidupan sosial ini.
Belum lagi persoalan media yang mengeksploitasi seksualitas perempuan. Tidak sulit menemukan media yang memberitakan perempuan berprestasi bukan dari pencapaiannya, melainkan dari lekuk tubuhnya. Di media sosial juga sering menampilkan kelakar yang mengarah pada kekerasan seksual. Alhasil, media dengan sihir magisnya dapat mempengaruhi dan membentuk kesadaran individu.
Pemanfaatan Media
Lalu, bagaimanakah kita seharusnya bertindak untuk menekankan angka kekerasan seksual? Mengingat tokoh agama memiliki akses yang minim untuk menyebarkan dakwahnya kepada khalayak luas dengan keterbatasan pemanfaatan teknologinya.
Dengan begitu, sudah seharusnya kita bisa memberikan akses kepada tokoh agama untuk menyebarkan dakwahnya melalui media sosial. Kita bisa melakukannya dengan mengundang tokoh agama untuk memberikan dakwahnya dari kanal media sosial yang kita miliki.
Selain itu, kita juga bisa memulai dari diri sendiri dengan menjadikan media sosial sebagai ruang yang bernilai positif. Seperti, mengunggah konten edukasi kekerasan seksual, membuat ringkasan cara pandang Kiai tentang kekerasan seksual, membuat ringkasan buku yang memberikan kesadaran gender, dsbnya.
Setidaknya, dengan cara tersebut kita bisa berkontribusi untuk memberikan akses pada tokoh agama untuk membentuk cara pandang Islam yang berhati kemanusiaan, bernalar kritis. Dan menjadikan media sosial sebagai ruang yang edukatif.

Mahasiswa Sosiologi dan penulis konten Arena Sosial
