f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
el-bukhari institute

El-Bukhari Institute dalam Penuntasan Kekerasan Seksual

Kekerasan seksual semakin hari kian menjadi-jadi. Kisah yang memilukan hadir dari seorang guru pondok pesantren yang tega memperkosa 12 santriwatinya. Cerita lainnya juga datang dari seorang Ustaz yang mencabuli santriwati di Tasikmalaya. Masih banyak lagi kisah-kisah tentang tokoh agama yang melanggar etika beragama. Atas berbagai ulah tokoh agama yang tidak masuk akal, menjadikan masyarakat mulai meragukan kehadiran Islam dalam kehidupan.

Namun, semangat El- Bukhari Institute dalam menyuarakan anti kekerasan seksual dapat mematahkan stigma masyarakat terhadap Islam. El-Bukhari Institute merupakan lembaga kajian hadis yang berfokus mengembangkan narasi keislaman di dunia digital. Dalam hal ini, El-Bukhari Institute beriringan dengan kampanye 16 hari anti kekerasan terhadap perempuan.

El-Bukhari Institute mengimplikasikannya dengan berbagai rentetan acara workshop. Penyelenggaraan workshop melalui ruang virtual, seperti tema tentang: “Dukungan Filantropi untuk Korban Kekerasan Seksual.”.

Workshop tersebut diselenggarakan pada hari Kamis, 9 Desember 2021 dengan narasumber Yulianti Mutamainnah. Yulianti Mutmainnah merupakan ketua Pusat Studi Islam, Perempuan, dan Pembangunan ITB Ahmad Dahlan Jakarta. Selain itu, beliau juga menuliskan buku berjudul, Zakat Untuk Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak.

Jalannya Workshop

“Agar ilmu yang disampaikan dalam webinar ini tidak putus begitu saja, maka kami turut mengundang media yang memiliki konsentrasi yang sama. Nantinya, media tersebut bisa menuliskan hasil diskusi kali ini agar tersampaikan ke masyarakat luas,” tegas Abdul Karim Munthe dalam pembukaannya.

Wokshop berjalan dengan bergairah, tetapi tetap berjalan dengan santai. Yulianti Mutmainnah, selaku pemateri mengawali pemaparan dengan memperdengarkan beberapa lagu. Lagu-lagu yang didengarkan kepada peserta memiliki representasi yang bias gender. Tetapi, masyarakat tidak banyak menyadari akan hal tersebut. 

“Lagu memang memiliki sihir magis yang mampu membawa pendengarnya pada kenikmatan. Kehadiran lagu juga menjadi medium pembentukan pengetahuan terhadap kesadaran individu. Harus kita akui bahwa masih banyak lagu yang menyudutkan perempuan. Begitu juga keberadaan lagu yang  merugikan posisi laki-laki,” ucap Akbar selaku perwakilan dari Rahma.id

Baca Juga  Perbedaan Laki-Laki dan Perempuan terhadap Emosi

Berbagai argumen dari peserta ikut silih berganti dalam memberikan pendapatnya. Hal itu memberikan gambaran tentang jalannya workshop yang berjalan secara dialogis.

Materi dari Workshop

Setidaknya ada beberapa poin penting yang dari pemaparan Yulianti Mutmainnah:

Selama ini, pemahaman tentang kasus pemerkosaan dari beberapa masyarakat mengarah pada penetrasi penis ke vagina. Lebih dari itu, pemerkosaan juga terjadi dengan menggunakan alat. Kemudian, pemerkosaan tidak ada hubungannya dengan pakaian. Sebab, korban pemerkosaan merata, baik perempuan yang menggunakan baju terbuka maupun pakai tertutup. Ironisnya lagi adalah korban pemerkosaan juga terjadi pada anak kecil dan mayat.

Perempuan memiliki pengalaman reproduksi yang berbeda dengan laki-laki. Bisa dikatakan jika reproduksi perempuan lebih sakit daripada  laki-laki. Perempuan harus meraskan sakitnya saat menstruasi. Begitu juga saat nifas dan menyusui. Bahkan, ada perempuan yang mengalami perih setelah melakukan malam pertama dengan suaminya. Maka dari itu, perlakukan perempuan dengan manusiawi.

Narasi ulama terkadang masih menyudutkan perempuan. Sebagaimana dalam khutbah pertama di Aceh setelah tsunami adalah ini semua akibat perempuan yang tidak benar dalam berpakaian. “Siapa yang bisa menyangka bencana itu datang? Tentu saja, orang-orang lebih memilih melarikan diri, menyelamatkan nyawanya dan tidak memikirkan lagi tentang pakaian yang digunakannya,” tegas Yulianti Mutmainnah.

Zakat dan Kekerasan seksual

Kemudian, tentang zakat sebenarnya memiliki korelasi dengan perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual. Sebab, perempuan dan anak korban KDRT atau kekerasan seksual memiliki 4 indikator berdasarkan Asnaf Mustahik, yakni Fakir, miskin, Riqab, dan Fisabilillah.

Fakir dan miskin berkaitan dengan kebutuhan sehari-hari yang terbatas. Banyak perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual mengalami pengucilan dari masyarakat. Lebih parahnya lagi, jika suami sebagai pelakunya, akan memberhentikan akses eknomi pada istrinya.

Baca Juga  Perempuan dalam Foto

Berbeda dengan Riqab. Konsep riqab berkaitan dengan pembebasan budak. Namun, kali ini juga bisa berkorelasi dengan membebaskan korban kekerasan seksual. KDRT, dan perdagangan manusia. Selanjutnya, tentang Fi Sabilillah berbicara tentang perjuangan untuk keluar dari kedzaliman.

Yulianti Mutmainnah menuliskan panjang lebar pemahaman perihal hubungan antara zakat dengan perempuan dan anak korban kekerasan seksual dalam bukunya yang berjudul: Zakat Untuk Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak. . Meskipun, bukunya tidak mendapat respons dari banyak lembaga amal. Tetapi, Lazizmu sebagai salah satu lembaga amal di Indonesia memberikan respons baik.

Bagikan
Post a Comment