Ketika Distraksi Handphone Memutus Koneksi dengan Tuhan
Handphone atau yang biasa kita sebut gadget, telah memberikan banyak perubahan pada kehidupan manusia di era modern. Kontribusinya dalam memudahkan pekerjaan manusia sangat bermanfaat dan selalu menjadi prioritas. Hal ini sebagai respon dari perkembangan teknologi yang semakin maju terutama di bidang informasi dan komunikasi. Masyarakat saat ini cenderung menyukai hal-hal berbau instan. Namun, pengaruh handphone tak selamanya memberikan manfaat bagi manusia. Di sisi lain, handphone juga memberikan pengaruh negatif yang meresahkan dan memiliki dampak buruk jika terus menerus kita gunakan tanpa memperhatikan batasan. Salah satu bentuk pengaruh buruk handphone bagi manusia ialah distraksi.
Makna Distraksi
Dilansir dari web Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa KBBI Daring, distraksi memiliki arti hal yang mengalihkan perhatian atau tindakan yang mengalihkan perhatian.[1] Pada konteks ini, distraksi yang ditimbulkan handphone ialah berupa gangguan penggunaan handphone yang berlebihan dan tidak efektif. Seseorang yang terjebak ke dalam aktivitas tersebut, teralihkan perhatiannya dari tugas ataupun pekerjaan yang seharusnya dikerjakan. Bentuk gangguan tersebut bisa bermacam-macam, seperti notifikasi dari aplikasi media sosial, permainan (game), dan lain-lain. Distraksi tersebut membuat manusia menghabiskan banyak waktu dengan handphone tanpa mereka sadari. Efek kecanduan dapat menyebabkan banyak pekerjaan tidak terlaksana dengan baik, bahkan pada tingkat yang lebih parah manusia bisa melalaikan tugas-tugasnya sebagai manusia. Tak terkecuali tugas manusia sebagai hamba Allah, sebagai khalifah di bumi, sebagai mahluk yang mempunyai kewajiban beribadah.
Batasan dalam Menggunakan Hp
Setiap orang harus paham, ada batasan-batasan yang harus kita bangun antara tugas-tugas dunia dan akhirat. Dalam sehari selama 24 jam, berapa jam yang kita gunakan untuk beribadah? Berapa jam yang kita gunakan untuk bersosial-media, menggenggam handphone? Jika kita bandingkan antara handphone dengan ibadah, tentu lebih penting ibadah karena ibadah sendiri adalah bentuk komunikasi hamba dengan Tuhannya. Sebagai hamba yang taat, kita tidak memutus koneksi dengan Tuhan. Sebaliknya kita menjalin koneksi dengan kuat, sehingga pengamalan ibadah wajib dan sunnahlah yang menjadi perantara koneksi tersebut. handphone tidak boleh menjadi hal yang dapat memutus koneksi antara Tuhan dengan hamba-Nya. Dalam arti lain, kita sebagai manusia harus bisa membagi waktu dan menentukan prioritas antara mengerjakan tugas-tugas dunia dan juga tugas-tugas akhirat. Seperti yang telah tertulis dalam Al-Qur’an, tepatnya pada surah Al-Munafiqun ayat 9 yang berbunyi :
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَٰلُكُمْ وَلَآ أَوْلَٰدُكُمْ عَن ذِكْرِ ٱللَّهِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْخَٰسِرُونَ
“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi”(QS Al-Munafiqun : 9)
Penjelasan Tafsir
Dalam Tafsir Al-Munir karya Wahbah az-Zuhaili menjelaskan bahwa ayat tersebut menjadi peringatan bagi orang-orang yang percaya, dan beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Jangan sampai harta kalian dan kesibukan dalam mengurusinya, serta anak-anak dan kesibukan dalam mendidik mereka, membuat kalian lalai dari mengingat Allah SWT seperti membaca Al-Qur’an, tasbih, tahmid, tahlil, menunaikan kewajiban-kewajiban agama, dan hak-hak Allah SWT. Kemudian, Allah SWT memperingatkan dan mewanti-wanti setiap manusia agar jangan sampai melanggar peringatan tersebut, serta mengancam orang-orang yang sibuk hingga dibuat lalai oleh dunia.[2]
Az-Zuhaili memaparkan mengenai penafsiran akhir ayat 9 yaitu : Barangsiapa yang sibuk hingga dibuat lalai oleh dunia, kesenangannya, keindahan dan perhiasannya, dari memikirkan urusan agama, ketaatan dan ibadah kepada Tuhannya, sesungguhnya ia benar-benar termasuk orang-orang yang merugi dengan kerugian yang sempurna dan total. Mereka merugi terhadap diri mereka dan keluarga mereka pada hari Kiamat karena telah menjual sesuatu yang kekal ditukar dengan sesuatu yang fana dan pasti sirna.[3]
Selaras dengan az-Zuhaili, Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar juga memberikan penafsiran serupa pada ayat ke 9 surah al-Munafiqun. Yakni ayat tersebut menjadi peringatan dari Tuhan, jangan sampai harta, anak dan hal-hal duniawi melalaikan kamu dari mengingat Allah. Hamka menyebutkan bahwa banyak orang yang pikirannya hanya terfokus pada harta dan keturunan, karena keduanya menaikkan nilai/prestise seseorang di mata masyarakat. Sehingga hal ini menjadikan seseorang lalai mengingat Allah.[4]
Tips Bijak dalam Menggunakan Hp
Orang-orang yang lalai menyangka bahwa kekayaan itu ialah harta yang bertumpuk. Mereka lupa bahwa kekayaan benda akan kosong artinya, jika tidak ada kekayaan jiwa dengan senantiasa ingat kepada Allah. Mereka termasuk orang-orang yang merugi sebab kekayaan harta tanpa kekayaan batin adalah kemiskinan, dan siksa yang tidak berkesudahan. Penafsiran kedua mufassir di atas memberikan pemahaman bahwa penting sekali bagi kita untuk menjaga keseimbangan antara kekayaan materi dan kekayaan batin serta menjadikan Allah sebagai fokus utama dalam hidup.[5]
Lalu bagaimana caranya agar kita sebagai manusia dapat menggunakan handphone dengan bijak dan tetap terkoneksi dengan Tuhan? Berikut beberapa cara yang dapat kita terapkan.
Pertama, Menetapkan Batasan
memberikan pemahaman terhadap diri sendiri bahwa harus ada batasan antara tugas keduniaan dan kewajiban akhirat. Ketika kita telah benar-benar paham esensi sebuah kegiatan, maka kita akan bisa mengerjakannya secara bijak. Misalkan, tugas keduniaan kita adalah mengerjakan tugas kuliah, membantu orang tua, dan bermain game di handphone sebagai hiburan. Sedangkan kewajiban akhirat kita ialah shalat lima waktu, mengaji, bershadaqah, dan lain-lain. Maka dalam sehari, luangkanlah waktu secara proporsional untuk semua kegiatan itu. Sehingga tidak ada kegiatan yang benar-benar mendominasi.
Kedua, mengatur kebiasaan penggunaan Hp
Distraksi pada handphone biasanya terjadi tanpa kita sadari, dan ini adalah kebiasaan yang harus sedikit demi sedikit dihilangkan. Cobalah untuk menentukan waktu penggunaan secara bijak dan produktif. Misalkan, jadwalkan bermain game selama 30 menit. Setelah 30 menit maka kamu harus mengerjakan pekerjaan lain seperti membaca buku atau menyapu rumah. Terapkan cara ini, terutama ketika sudah masuk waktu shalat. Jadi, ketika adzan berkumandang letakkan handphone dan segeralah berwudhu.
Ketiga, gunakan Hp untuk hal bermanfaat.
Banyak aplikasi yang memiliki manfaat dan dapat dengan mudah kita akses melalui handphone seperti aplikasi alarm waktu shalat, Al-Quran digital, aplikasi hadis, tontonan ceramah agama, dan lain-lain. Sehingga penggunaan handphone tidak selamanya mengarah pada hal-hal negative yang mendistraksi. Keempat, jangan lupa untuk minta bantuan kepada Allah agar Ia jauhkan kita dari hal-hal yang tidak memiliki manfaat dalam hidup. Terutama hal-hal yang berpotensi menyebabkan terjadinya dosa. Berdoalah dan meminta agar selalu bisa menjaga koneksi dengan Allah, serta selalu memprioritaskan ibadah di manapun dan kapan pun. Ingatlah bahwa menjalin koneksi dengan Allah membutuhkan kesadaran penuh dari diri sendiri jika kita sertai dengan usaha yang konsisten. Dengan mengatur kebiasaan dalam menggunakan handphone akan membantu mengatasi hambatan dan memperkuat koneksi dengan Allah.
[1] Diakses dari : https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/distraksi
[2] Wahbah az-Zuhaili, Tafsir Al-Munir Jilid 14, hal. 604
[3] Ibid, hal. 605
[4] Hamka, Al-Azhar jilid 10, hal. 7420
[5] Ibid, hal. 7421
Editor : Putri Ambarwati
Mahasiswi semester 6 di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya Prodi IAT. Instagram : @firzanada17.
