Kaum Milenial dan Kehidupan Islami
Tentu kaum milenial sangat berperan guna terwujudnya kehidupan islami, karena masa inilah masa terkuat saat berkehidupan. Sudah seharusnya kisah-kisah kaum muda terdahulu menjadi pelajaran bagi generasi sekarang agar tidak jatuh sama seperti dulu atau pun banyak mengambil hikmah agar generasi emas terulang kembali memviralkan sejarah.
Kehidupan islami bisa terwujud jika menunjukkan berkepribadian islami, bukan hanya berpenampilan islami.
Melirik Romantisme Masa Lalu Kaum Milenial Muslim
Pada zaman sahabat, ada Bilal bin Rabah yang berjuang dengan tenaga, Abu Bakar Ash-Shidiq dengan hartanya, Ali bin Abi Thalib dengan kecerdasan ilmunya, Amr bin Ash dengan kedudukan jabatannya. Tentunya, semuanya memiliki porsi masing-masing.
Sosok Sultan Muhammad II atau yang secara luas dikenal dengan Muhammad Al-Fatih. Sang Sultan menggemparkan dunia, beliau penakluk Konstantinopel. Kerajaan Kristen terkuat di dunia yang tak pernah hancur dan di tembus tembok pertahanannya selama berabad-abad hingga pada abad ke-14 ditaklukkan oleh seorang sultan muda berumur 21 tahun. Maka dari romantisme sejarah itu bisa kita lihat bahwa kekuatan pemuda memiliki kekuatan perubahan yang besar terhadap suatu bangsa.
Mari kita lihat kembali romantisme sejarah pada zaman Indonesia sebelum kemerdekaan, peran pemuda melawan penjajah sangatlah berpengaruh besar. Contohnya para pemuda yang mendesak Soekarno untuk segera memproklamasikan kemerdekaan. Mereka membawa Soekarno ke suatu daerah yang kita kenal dengan peristiwa Rengasdengklok. Dan akhirnya Soekarno sepakat untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.
Ayat Milenial dalam Al-Qur’an
Islam sangat peduli dan memberi perhatian besar terhadap generasi muda. Golongan pemuda yang terabadikan dalam Al-Qur’an terdapat pada Surah AlKahfi, yaitu Ashabul kahfi golongan pemuda yang menghindari kedzoliman penguasa demi mempertahankan aqidah dan keleluasaan beribadah kepada Allah, kunci dari Pemuda Kahfi tersebut pada ayat 13 :
نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَاَهُمْ بِالْحَقِّۗ اِنَّهُمْ فِتْيَةٌ اٰمَنُوْا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنٰهُمْ هُدًىۖ
“Kami ceritakan kepadamu (Muhammad) kisah mereka dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka”
Allah kisahkan dalam Al-Qur’an, kisah pemuda yang sangat hebat, inilah ayat-ayat milenial. Ayat ini membicarakan tentang kaum muda. Kesuksesan kaum milineal tidak hanya dari kehabatan intelektualnya, kehebatan inovasinya, tetapi bentuk transendensi itu yang utama yaitu keimanan kepada Allah.
Jika dikorelasikan dengan zaman sekarang, maka seakan-akan Allah ingin sampaikan bahwa syarat utama kehebatan kaum milenial dalam pandangan Allah adalah adalah iman. Jika hanya sekedar intelektual dan inovasinya yang hebat itu hal biasa karena yang belum beriman banyak di luar sana yang mampu.
Generasi milineal yang hebat intelektual dalam pandangan Allah inilah sangat spesial. Karena tidak hanya viral di dunia namun juga di penduduk langit. Mereka itulah pemuda yang senantiasa berusaha meningkatkan keimanan. Ketika keimanan telah tertanam kokoh ke dalam jiwanya maka Allah akan tambahkan pada mereka hudan yaitu petunjuk kehidupan agar senantiasa mendapat ridha dari Allah Swt.
Kehidupan Islami: Implementasi Ali Imran ayat 110 dan Semangat Al-Anbiya ayat 107
Setelah melihat romantisme sejarah kaum muda dan kisahnya viral dalam Al-Qur’an, maka untuk terciptanya kehidupan islami, kaum milenial harus mempunyai basic karkter dan orientasi profetik. Basic tersebut mengarahkan ilmu yang dimiliki oleh muslim dengan tiga dimensi, yaitu liberasi, humanisasi dan transendensi.
Dimensi keilmuan ini merupakan bentuk impelementasi Ali Imran ayat 110 :
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ۚ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ
Jadi sebagai kaum milineal agar bisa menjadi penopang agar mewujudkan kehidupan islami. Pertama, yaitu liberasi ini adalah bentuk ta’muruna bilma’ruf, seperti kepedulian sosial, bisa berbagi ilmu, pikiran maupun harta benda. Kedua, yaitu humanisasi, tanhauna ‘anil munkar, pembebasan kebodohon bisa dengan belajar sungguh-sungguh. Ketiga, yaitu transendensi, maksudnya segala bentuk liberasi dan humanisasi harus ditautkan dengan keyakinan iman kepada Allah. Jadi bentuk takwa yang dimaksud bukan hanya sekedar ibadah spritual (ta’abbudi) tetapi juga dalam bentuk ibadah sosial (ta’aqquli).
Kemudian semangat yang dibawa adalah semangat profetik yaitu rahmatan lil’alamin yang termaktub dalam ayat 107 surah al-anbiya :
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
Maksudnya yaitu bentuk implementasi ali imran ayat 10 sasarannya tidak dibeda-bedakan. Harapannya dengan pengaplikasiaan Ali Imran ayat 110 dan semangat Al-Anbiya ayat 107 inilah kaum milenial bisa menjadi penopang agar terwujudnya kehidupan islami.
Sebagai kaum milineal muslim untuk menciptakan kehidupan islami, jangan sekedar belajar. Jika sekedar belajar di luar sana pun yang belum beriman juga banyak yang serius belajar. Namun, itu tidak menjadi amal shaleh ketika tidak ada iman dalam pembelajaran, maksimalkan kesempatan dalam belajar sekaligus mendorong iman untuk kesungguhan dalam belajar itu.
Tidak ada kisah pembelajar beriman di masa lalu yang tidak serius dalam menuntut ilmu, bahkan Allah turunkan langsung ayat-ayat untuk dijadikan tuntunan dalam belajar tersebut.
Perhatikan semua sahabat, tabi’in dan generasi setelahnya yang menjadi tokoh baik di bidang agama maupun umum, mereka serius, sungguh-sungguh dalam belajar. Bukan hanya sekedar datang ke kelas, kemudian duduk, absen, kadang-kadang mengantuk bahkan sampai tertidur kemudian pulang.
Penuntut ilmu orang beriman tidak demikan, banyak mengisi waktu dengan hal bermanfaat, misalnya menulis, menghafalkan Al-Qur’an. Sehingga ketika wisuda untuk mahasiswa bukan hanya dengan IPK 4.00, tetapi mendapat status hafidz Al-Qur’an di hadapan penduduk langit contohnya. Mari me-upragade kemampuan diri sesuai dengan bidang masing-masing. Semoga Allah senantiasa memberikan keistiqamahan untuk kita semua. Aamiin Allahumma Aamiin.
Mahasiswa dan belajar di Pondok Hajjah Nuriyah Shabran UMS
Instagram : @najihussal
