f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
masyarakat bertutur

Pentingnya Nation Building bagi Masyarakat Bertutur di Era Digital

Digital Citizenship merupakan masyarakat atau orang-orang yang hidup dalam dunia digital. Tak bisa dipungkiri, saat ini teknologi digital benar-benar berada di dalam genggaman kita dan hidup beriringan. Jangankan orang dewasa, anak usia lima tahun saja sudah mampu untuk memilih kartun kesukaannya di Youtube atau mengikuti tren Tiktok.

Pemerintah dan seluruh masyarakat perlu mewaspadai dan memperhatikan betul kecepatan di era digital saat ini. Perubahan ini akan membuat masyarakat kelimpungan dalam mengikuti ritme perkembangan teknologi tersebut yang dapat menimbulkan permasalahan-permasalahan sosial baru di tengah masyarakat.

Dalam kegiatan ‘Aisyiyah Update #3 tentang “Literasi Digital dalam Kerangka Kewargaan Digital (Digital Citizenship)”, Prof. Dr. Siti Ruhaini Dzuhayatin sebagai Guru Besar Bidang Media dan Gender menyampaikan bahwa ada Culture Lag atau ketimpangan/keterlambatan budaya di Indonesia. Berawal dari masyarakat yang  bertutur melompat menjadi masyarakat visual, sehingga masyarakat melewatkan satu tradisi membaca yang sebenarnya penting sekali.

Ketimpangan budaya terjadi karena nampak adanya penuntutan kepada masyarakat untuk bertransisi dengan begitu cepat. Mereka menjadi timpang dan kehilangan substansi informasi dari platform digital dengan arus pesan yang juga cepat. Menurutnya, saat masyarakat berpindah ada pengendapan-pengendapan yang membentuk mentalitas masyarakat.

Mentalitas masyarakat yang terbentuk oleh digitalisasi akan mempengaruhi perilaku di kehidupan nyata baik pribadi atau sosial bermasyarakat. Perubahan mental masyarakat menjadi lebih mudah tersinggung, tingginya rasa minder/insecure, butuh validasi, hingga kehilangan jati diri.

Ruhaini menambahkan, dalam proses perpindahan ini  membutuhkan Nation Building atau Pembangunan Bangsa yang matang yang sayang sekali terlupakan. Nation Building dapat melalui literasi digital, akses dan pembimbingan, hingga pengelolaan dan kebermanfaatan teknologi digital. Proses ini harus bersifat berkelanjutan di berbagai aspek baik pendidikan, ekonomi, sosial budaya, dan berbagai aspek kehidupan bermasyarakat lainnya.

Baca Juga  Stop Bilang "Pick Me Girl", Yuk Saling Dukung
Melekatnya Budaya Bertutur di Dunia Digital

Pada dasaranya masyarakat Indonesia adalah masyarakat komunal yang memiliki budaya bertutur. Budaya yang melekat ini membuat para Digital Citizen merasa adanya kebebasan dan memiliki hak penuh dalam bertutur di dunia digital, begitu juga dengan kebebasan berekspresi yang menjadi hak asasi manusia di Indonesia sebagai negara demokrasi.

Sifat masyarakat yang terbiasa bertutur akhirnya tetap melekat saat berperan menjadi masyarakat digital. Kebanjiran informasi dari penuturan-penuturan, opini, bahkan perdebatan pengguna di sosial media atau platform digital lainnya akhirnya tak terbendung.

Menurut Ruhaini, apa yang terjadi di dunia digital ini merupakan residu atau pengendapan dari masyarakat yang bertutur. Bertutur bukanlah sebuah masalah jika masyarakat menerapkannya dalam kehidupan dunia nyata karena akan ditelan massa, permasalahan muncul saat penuturan ini tertuang dalam digital yang jejaknya akan selalu ada dan menjadi konsumsi publik yang sulit untuk dibendung. Sehingga di sinilah perlunya membangun mentalitas digital lewat Nation  Building.

Ketika Digital Memakan Korban

Masyarakat sebagai pihak yang langsung terlibat harus menyadari bahwa masih kurangnya literasi digital, minim kesadaran penuh sebagai pengontrol, juga  mengesampingkan kebermanfaatan teknologi itu sendiri, karena kemungkinan untuk menjadi korban digital memang tak bisa dipungkiri.

Setidaknya 40 persen korban digital adalah perempuan, di mana sudah tidak ada batasan antara ruang publik dan private. Curahan hati seperti keluhan ekonomi, lelahnya mengurus anak, sikap pasangan bahkan pertikaian rumah tangga lazim terjadi dalam platform digital, seolah-olah semua orang wajar mengetahui kisahnya.

Secara tidak sadar, kebebasan bertutur itu menjadi boomerang bagi penuturnya. Inilah mengapa penting adanya edukasi dan penyebaran wawasan tentang literasi digital serta memerlukan kerjasama semua pihak karena berpengaruh pada interaksi sesama di masa depan.

Baca Juga  Figur Publik, Nikah Muda, dan Ke-‘Uwuw’-an yang Kita Elukan

Ruhaini mengatakan, masyarakat masih membayangkan digital bersifat one way/satu arah seperti televisi, padahal kenyatannya adalah two ways/dua arah. Kesalahpahaman yang masih tumbuh dalam cara berpikir masyarakat akan komunikasi satu arah ini mencetak rasa ilusi aman, rasa akan ketidakkhawatiran tentang dampak penuturannya, atau tidak sadar bahwa dalam aktivitas digital juga ada sosok publik yang berperan penting yang dapat berinteraksi dua arah, sehingga pelaku komunikasi digital dalam proses komunikasi dua arah itu akan menerima timbal balik.

Reporter : Fiah Idznillah

Bagikan
Post a Comment