Fenomena “Fajar Sad Boy” : Menyoal Patah Hati dalam Islam
Media sosial akhir-akhir ini dihebohkan dengan sebuah fenomena patah hati dari seorang anak remaja 15 tahun yang akrab disapa fajar. Nama Fajar mendadak viral setelah ia membagikan kisah kegagalannya dalam masalah asmara. Mengutip dari berbagai media, Fajar mengaku mengalami patah hati setelah pesannya tidak mendapat respon oleh wanita yang ia dekati. Dalam kejadian tersebut, Fajar merasa perjuangannya tidak dihargai.
Videonya pun viral dan diundang di berbagai acara stasiun televisi untuk menceritakan kisahnya sehingga ia dijuluki “sad boy”. Istilah sad boy atau sad girl biasanya merujuk kepada muda-mudi yang mengalami kesedihan akibat patah hati atau putus cinta. Patah hati merupakan fenomena yang mungkin hampir dialami oleh setiap manusia.
Perkara hati memang perkara yang kompleks. Hati juga menentukan bagaimana kualitas diri seseorang. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah bersabda “Ingatlah, dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging. Kalau segumpal daging itu baik, maka akan baiklah seluruh tubuhnya. Tetapi, bila rusak, niscaya aka rusak pula seluruh tubuhnya. Segumpal daging itu bernama qolbu (hati)”. Oleh karenanya merawat hati agar tetap suci dan sehat sangatlah penting. Namun kadangkala kita sulit untuk menghindarkan hati kita dari segala bentuk goresan. Karena perkara hati juga merupakan perkara yang sensitif sehingga pada akhirnya tak jarang berada pada level patah hati.
Harapan dan Kekecewaan
Patah hati adalah hal yang menyakitkan bagi hampir semua manusia. Sebagian besar manusia dewasa pasti pernah mengalami hal yang sama, termasuk mungkin Rahmania. Patah hati merupakan bagian dari dinamika asmara yang membersamai proses pendewasaan sesorang. Tidak ada yang salah dengan patah hati selama masih dalam batas yang wajar. Namun jika hal tersebut telah membuat kita berlarut-larut dalam keterpurukan tentulah sudah menjadi sebuah masalah.
Kejadian patah hati memang menyakitakan. Namun satu yang pasti bahwa semuanya bersumber dari harapan. Patah hati adalah konsekuensi. Konsekuensi dari kesalahan manusia dalam menyikapi perasaan. Islam mengajarkan di dalam Al-Qur’an “Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap”, yang megisyaratkan bahwa Tuhan adalah satu-satunya tempat berharap. Prof. Quraish Shihab dalam tafsir Al Misbah menguraikan bahwa maksud dari Q.S Al Insyirah ayat 8 ini adalah setelah kita berusaha dengan optimal maka selanjutnya hanya kepada Tuhan kita berharap dan berkeinginan penuh agar memperoleh bantuan- Nya dalam menghadapi setiap kesulitan.
Jadi selayaknya setelah kita berusaha dengan segala bentuk pendekatan maka langkah berikutnya adalah berserah kepada Allah. Untuk hasil selanjutnya bukan justru menyandarkan harapan tersebut kepada makhluk. Inilah yang disebut dengan Qanaah. Kesalahan dalam meletakkan harapan sebenarnya sama saja dengan mengundang kekecewaan. Tuhan sebagai pemilik hati dengan segala otoritas-Nya dapat menjadikan hal yang mustahil menjadi mungkin dan hal yang sangat mungkin menjadi mustahil. Pengetahuan Allah meliputi segala makhluknya, maka sudah sepantasnya kita menerima segala kejadian yang ada dengan mengambil satu benang merah yaitu hikmah. Setiap kejadian yang kita alami tentulah Allah selipkan hikmah untuk kita ambil pelajaran di dalamnya.
Berdoa
“Jika ingin mendapatkan ciptaan-Nya, maka dekatilah Penciptanya.”. Kata-kata tersebut mungkin sangat familiar di tengah-tengah kita yang menurut hemat penulis mengandung makna bahwa terkabulnya keinginan seseorang berbanding lurus dengan tingkat keshalehan karena jika kita mengenal Sang Pencipta maka kita akan mengenal pula hakikat dari ciptaan-Nya. Kesadaran diri sebagai makhluk akan membuat kita menempatkan Allah sebagai bagian dari segala aktivitas dalam hidup dan Allah pun sangat menyukai hamba yang selalu memohon,“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu”.
Begitulah janji Allah di dalam Al-Qur’an yang menurut Prof. Quraish Shihab dalam tafsir Al-Misbahnya, ayat 60 Q.S Ghafir ini menunjukkan bahwa Allah Swt. sangat menyukai hamba-hamba-Nya yang bermohon kepada-Nya, karena itu berdoalah setiap saat. Kita dilarang berperilaku seperti kaum musyrikin yang hanya berdoa ketika berada dalam kesulitan. Karena di satu sisi hal tersebut menunjukkan kerendahan moral dan di sisi yang lainmenunjukkan pula bahwa mereka tidak menyadari dalam setiap saat dalam kehidupan, manusia selalu membutuhkan bantuan Allah Swt. Oleh karenanya, aktivitas berdoa bagi seorang muslim adalah sebuah kebutuhan dan kesadaran atas ketidaksempurnaan.
Pada hakikatnya segala bentuk kejadian entah itu penolakan, rasa sakit ataupun rasa bahagia, semuanya adalah bentuk penyelamatan dari Allah dalam hidup kita. Seperti yang tersirat dalam Q.S Al Baqarah ayat 216.“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”.
Allah menciptakan manusia dengan satu support system terbaik yaitu akal. Maka tak heran jika di dalam Islam kita harus berpikir dan mengambil hikmah dari setiap kejadian (Afala tatafakkrun). Pada akhirnya, kejadian patah hati menjadi sebuah hal yang harus dicerna oleh akal dengan mengambil hikmah di dalamnya. Bahwa menempatkan harapan selain kepada Allah sama halnya dengan mempersiapkan rasa sakit dan kecewa. Berharap selain kepada Tuhan, maka kita harus menyediakan ruang untuk kekecewaan.
Wallohu A’lam Bishawab
