Peran Orang Tua : Penyemangat atau Pematah Semangat?
Orang tua merupakan lingkungan pertama anak di dalam keluarga yang sangat berperan penting dalam perkembangan fisik dan psikisnya. Dalam hal ini hubungan-hubungan yang terdapat di dalamnya bersifat langsung; sehinggga terjalin interaksi yang dapat memberi pengetahuan, keterampilan dan sikap dalam hidup kepada sang anak. Orang tua juga merupakan orang pertama yang membimbing, mengajarkan tentang hal-hal baik dan memberi semangat ; yang sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di dalam masyarakat.
Akan tetapi, tidak semua cara yang digunakan orang tua untuk membimbing dan mengajari anak terbilang benar. Ada banyak kasus yang terjadi belakangan ini, seperti orang tua yang mendidik anak dengan melibatkan kekerasan, baik itu secara verbal maupun visual. Namun, terkadang hal itu terjadi tanpa kesadaran mereka sebagai orang tua ketika menasihati sang anak.
***
Seperti kejadian yang saya lihat beberapa waktu lalu ketika masih duduk di bangku SMA. Saat itu saya sedang ingin mengunjungi rumah salah satu teman. Ketika sampai di rumahnya saya mendengar dia sedang berbicara dengan ibunya. Lalu saya memutuskan untuk menunggu di luar.
Tanpa sengaja saya pun mendengar percakapan mereka. Ternyata teman saya tersebut sedang membahas mengenai bimbel yang akan ia ikuti. Namun, ketika selesai menjelaskan, sang ibu dengan nada tinggi berbicara seperti ini “ Kamu ini jangan aneh-aneh. Aku sama bapakmu bukan hanya membiayai kamu saja! Tuh lihat masih ada 2 adikmu yang masih butuh ini-itu untuk dibayar”.
Biaya bimbel tersebut memang cukup mahal bagi perekonomian mereka. Tetapi seharusnya sang ibu tidak perlu memberi penjelasan dengan nada tinggi seperti itu. Mungkin bisa menggunakan penjelasan yang lebih baik sehingga sang anak bisa lebih mengerti dan memahami kondisi kedua orang tuanya.
Hal tersebut merupakan contoh kekerasan verbal yang tanpa orang tua sadari dapat berpengaruh pada perkembangan psikis sang anak ke depannya.
Ada pula kekerasan lainnya seperti perbuatan kekerasan fisik oleh sebagian orang tua untuk mendisiplinkan anak-anaknya. Hukuman berupa kekerasan fisik sebenarnya tidak akan bekerja dengan baik pada anak yang menerimanya.
Hal itu terjadi karena hukuman fisik justru memiliki sejumlah kelemahan tersendiri; di antaranya adalah mengajarkan anak untuk menipu dan berbohong kepada orang tuanya, mudah bersedih dan menangis, serta membuat anak tidak bisa menikmati masa pertumbuhannya dengan penuh kebahagiaan.
Padahal peran orang tua seharusnya adalah menyemangati dan mendorong anak agar giat dan rajin dengan apa yang sedang mereka kerjakan dan mereka tekuni.
***
Menoleh dari hal itu banyak juga orang tua yang menekan anaknya untuk menjadi seperti apa yang mereka mau tanpa melihat sebenarnya potensi anak tersebut itu di bidang apa. Yang menyedihkan lagi adalah orang tua yang terus menerus mengecilkan niat dan usaha anaknya. Hal itu sering terjadi pada anak perempuan.
Banyak anak perempuan di desa tidak boleh sekolah tinggi-tinggi, karena masih menganggap dapur, sumur, dan kasur sebagai takdir dan tempat terakhir seorang perempuan. Alhasil, si anak merasa sebagai beban karena potensinya hanya diukur dari hal-hal berbau domestik yang tidak menghasilkan uang.
Apabila anak perempuan dianggap sebagai beban, mengapa tidak disekolahkan saja mereka ke lembaga kursus atau semacamnya agar bisa mengembangkan potensi dan mandiri secara finansial, sehingga tidak membebani keluarga? Kenapa malah mematahkan semangat mereka dengan menghubungkan dengan masalah domestik?
Selain beberapa hal di atas, masih banyak contoh perlakuan orang tua kepada anak yang secara tidak disadari oleh orang tua dapat menyakiti hati sang anak atau bahkan mematahkan semangatnya.
Ketegasan memanglah penting dalam hal untuk mendidik, membimbing, serta mendisiplinkan sang anak yang mana hal itu sangat berpengaruh besar terhadap sikap dan kebiasaan sang anak kelak. Dalam penerapannya, ketegasan itu harus proposional dan sesuaikan dengan tingkat usia serta perkembangan pemahamannya sang anak.
Namun, untuk mendisiplinkan anak dengan hukuman ‘kekerasan’ juga tidak benar; karena hal itu dapat mempengaruhi psikis sang anak, dan dikhawatirkan ke depannya sang anak juga akan melakukan hal yang sama ketika mereka menjadi orang tua nanti.
***
Menjadi orang tua yang baik merupakan impian setiap orang. Sayangnya, hal itu memang cukup sulit dilakukan karena tidak ada satu pun ilmu pasti yang dapat menjelaskannya.
Orang tua bisa memulainya dengan mulai menghargai setiap pendapat dan juga pilihan dari sang anak, bahwa sebenarnya minat dan bakat anak itu di bidang apa? Sehingga orang tua pun dapat memaksimalkan potensi yang ada pada anak tersebut. Dalam hal ini orang tua juga tidak boleh memaksa apabila piliihan sang anak tidak sesuai dengan kemauannya.
Apabila orang tua tetap memaksa, di kemudian hari sang anak akan merasa sakit hati karena pendapat dan pilihannya terkesan tidak dihargai.
Rahmania, tidak ada orang tua yang ingin melihat anaknya tersakiti, bukan?
Mahasiswa S-1 Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Sebelas Maret
