f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
learning

Empat Pilar Pendidikan Menurut UNESCO

Ada 4 pilar Pendidikan menurut UNESCO, yaitu learning to be, learning to do, learning to know, dan learning to live together. Keempat pilar pendidikan tersebut seharusnya masuk dalam kurikulum pendidikan anak. Tidak hanya dalam proses belajar di sekolah, namun sejak dini di masa pengasuhan. Dalam kurikulum sekolah, biasanya lebih ditekankan pada pilar learning to know, padahal ketiga aspek yang lain juga sangat penting bagi perkembangan anak.

Berikut penjelasan dan ekplorasi keempat pilar pendidikan tersebut.

Learning To Be

Pertama, learning to be, yaitu satu pilar pilar pendikan untuk mengenal diri. Aspek pendidikan ini seringkali terabaikan dalam proses pendidikan anak. Jangankan dalam kurikulum sekolah, orang tua sebagai madrasah pertama seringkali juga mengabaikan aspek ini. Keterampilan yang didapat dari learning to be adalah keterampilan bagaimana menjalani hidup dengan bahagia dan penuh syukur. Anak yang mengenal diri dengan baik akan mencapai spiritualitas yang baik juga. Barang siapa mengenal dirinya maka dia mengenal Tuhannya.

Bagaimana cara belajar dengan pendekatan learning to be dan apa saja cakupannya? Untuk memahami ini, kita perlu membuka diri dengan paradigma pendidikan yang lebih komprehensif. Bahwa pendidikan bukan sekadar duduk manis membaca atau duduk di kelas mendengarkan pennjelasan guru. Belajar perlu dipahami sebagai serangkaian proses yang dialami seorang manusia yang mengeksplorasi semua aspek diri. Dengan paradigma yang lebih komprehensif, memahami proses belajar dengan yang mengeksplorasi learning to be menjadi lebih mudah.

***

Learning to be atau memahami diri adalah pendidikan yang mengajarkan anak bagaimana mengenal diri, seperti mengenal dirinya sebagai manusia, memahami emosi, memahami eksistensi diri dan lain-lain. Memahami eksistensi diri sebagai laki-laki misalnya, dia akan bersikap dan berpakaian sebagai seorang laki-laki, beribadah juga sebagai laki-laki (shalat jamaah bersama shaf laki-laki).

Baca Juga  Alternatif Permainan Pengganti Rayuan Gadget

Ketika anak perempuan memahami eksistensi diri, dia akan memahami mengapa shalatnya di barisan shaf perempuan. dia juga memahami ibunya yang melahirkan dan menyusuinya. Memahami emosi penting sekali dikenalkan pada anak, terutama di anak usia dini. Anak yang memahami emosi, dapat diajarkan juga bagaimana mengatasinya.

Ketika anak menangis bisa ditanya, “Kamu sedih? Atau kamu lagi kesal sama ibu?”, “Kamu kesal karena mainannya diambil adik?”, dan seterusnya. Ketika anak bisa memahami gejala emosinya, dia bisa diajarkan cara mengatasinya. Misalnya ketika anak sedih, katakanlah, “Kamu sedih boleh, tapi jangan lama-lama. Kira-kira butuh berapa lama agar adik bisa senyum lagi? Ibu hitung sampai berapa? 1-5?” Bisa juga dengan cara yang lain.

Seiring waktu anak akan belajar bagaimana mengatasi gejala emosi negatif dalam diri. Learning to be juga termasuk memahami gaya belajar, memahami passion, dan memahami minat diri. Bisa jadi kita-kita orang dewasa yang salah memilih jurusan ketika kuliah dikarenakan learning to be nya belum tuntas.

Learning To Do

Pilar kedua adalah learning to do, yaitu belajar untuk mengasah keterampilan. Ini mencakup life skill. Aspek learning to do sangat bagus untuk dimulai dari rumah. Sejak kecil, anak-anak diajari untuk terampil dan peka terhadap pekerjaan rumah, seperti makan sendiri, menyapu, mencuci piring, membereskan tempat tidur, hingga kemampuan memasak. Ini keterampilan dasar yang penting dimiliki anak sebagai dasar survival life. Toilet training juga merupakan bagian dari learning to do. Anak-anak yang orang tuanya yang telaten mengajarkan toilet training, akan lebih cepat disapih dari ketergantungan terhadap popok.

Termasuk dari learning to do adalah keterampilan diri dalam menyelesaikan masalah. Keterampilan ini perlu diawali dengan keterampilan mengenali diri (learning to be). Begitu pula keterampilan bagaimana memilih cara belajar yang cocok juga diawali dengan learning to be. Kemampuan anak dalam belajar yang disebut SDL (self-direct learning) akan terasah ketika anak-anak memiliki kemampuan learning to do. SDL adalah masa atau titik tertentu di mana anak mengetahui kemampuan diri, mengembangkan kemampuan diri tersebut, serta bagaimana mencari resources (sumber belajar) yang dibutuhkan untuk mengembangkan kemampuannya.

Baca Juga  Peran Orang Tua : Penyemangat atau Pematah Semangat?
Learning To Know

Pilar ketiga, learning to know. Pilar ketiga ini adalah proses belajar untuk memenuhi kebutuhan pengetahuan. Pengetahuan sebagai obyek belajar cakupannya sangat luas. Pengetahuan dapat diperoleh dari pengamatan, pengalaman langsung, penjelasan verbal dan melalui membaca. Terkadang, kita terjebak pada paradigma bahwa pengetahuan hanya didapat melalui membaca.

Banyak orang tua yang menarget anaknya untuk dapat membaca sejak dini. Demikian juga ada sekolah (dasar) yang mensyaratkan kemampuan membaca untuk diterima sebagai siswa. Jika kita memahami lebih dalam, membaca hanya merupakan salah satu cara untuk mendapat pengetahuan. Bukan tidak penting! Keterampilan membaca sangat penting, karena ke depannya pengetahuan akan lebih banyak didapat melalui pembacaan.

Namun di level dasar, seringkali kemampuan membaca digunakan sebagai alat ukur kepintaran anak, sehingga orang tua menggegas kemampuan membaca ini sedini mungkin. Akhirnya banyak anak yang sudah bisa membaca, namun kehilangan kesukaannya pada membaca.

Learning Live Together

Pilar keempat, learning to live together, yaitu menanamkan kepada anak bahwa mereka merupakan bagian dari masyarakat luas, sehingga membutuhkan keterampilan bagaimana hidup bersama dengan manusia lain. Untuk itu anak-anak perlu diberikan keterampilan-keterampilan yang mendukung seperti bagaimana bersikap, bersopan santun, berbicara dengan orang lain, bagaimana mengeluarkan pendapat, dan keterampilan-keterampilan lainnya.

Anak juga perlu belajar memahami dan bersikap terhadap orang berbeda. Perilaku membuli orang lain bisa jadi materi learning to live together ini belum masuk dalam kurikulum Pendidikan kita. Belum lagi bagaimana menghadapi kalangan difabilitas, kelompok manusia yang sering terpinggirkan. Bisa jadi orang dewasa pun masih belum memahami bagaimana berinteraksi dengan kalangan difabel. Ini bisa dilihat dari sarana prasarana yang belum support terhadap kalangan difabilitas. Masih sedikit sekali masjid yang ramah terhadap difabel. Kepedulian ini selayaknya masuk dalam kurikulum pendidikan kita.

Baca Juga  Cintai Ortu, Yuk!

Termasuk pada pilar keempat ini adalah materi leadership. Anak tidak hanya diajarkan bagaimana menjadi pemimpin, namun juga bagaimana menjadi bagian orang yang dipimpin. Sehingga ketika menjadi pemimpin, ia dapat menjadi pemimpin yang baik dan memahami kondisi anggota yang dipimpinnya. Begitu pula ketika menjadi anggota, ia bisa menjadi anggota yang baik.

Keempat pilar tersebut selayaknya menjadi perhatian kita, tidak hanya dalam kurikulum sekolah. Namun juga kurikulum “madrasah rumah” yang terselenggara sejak dini, sejak terjadi akad antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan menjadi suami isteri. Maka tanggung jawab pendidikan mencakup empat pilar ini juga menjadi tanggung jawab kedua orang tua.[]

Bagikan
Post a Comment