f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
peran perempuan

Peran Perempuan dalam Perekonomian (2)

Dengan melihat fakta demografis, Indonesia menyadari bahwa investasi dalam skala besar dibutuhkan untuk meningkatkan peran perempuan dalam segala sektor pembangunan. Menteri PPN/ Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan, kaum perempuan adalah aset, potensi, dan investasi yang penting bagi Indonesia. Yang dapat berkontribusi secara signifikan, sesuai kapabilitas dan kemampuannya.

Proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2015 menyebutkan bahwa populasi Indonesia pada 2018 mencapai tak kurang dari 264,2 juta jiwa. Di mana 132,7 juta jiwa atau 50,2 persennya adalah laki-laki, sementara 131,5 juta jiwa atau 49,8 persennya adalah perempuan. Mengacu kepada data BPS, Indeks Pembangunan Gender (IPG) Indonesia mengalami kenaikan, dari 90,82 pada 2016 menjadi 90,99 di 2018. IPG digunakan untuk mengukur pencapaian dimensi dan variabel yang sama seperti Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Tetapi mengungkapkan ketidakadilan pencapaian laki-laki dan perempuan.

Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja

Sementara itu, Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) Indonesia juga tercatat naik dari 71,39 pada 2016, menjadi 71,74 pada 2017. IDG adalah indikator yang menunjukkan apakah perempuan dapat memainkan peranan aktif dalam kehidupan ekonomi dan politik.

Meskipun tingkat pendidikan perempuan lebih tinggi, namun Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Perempuan lebih rendah dibanding TPAK Laki-laki. Yakni hanya di angka 55 persen, menurut Survei Angkatan Kerja Nasional 2018 yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik. Proporsi laki-laki dalam sektor tenaga kerja formal juga tercatat hampir dua kali lipat dibanding perempuan.

Dalam sepuluh tahun terakhir, tren proporsi tersebut cenderung stagnan. Perempuan bekerja juga masih sangat rentan untuk terpapar economic shocks. Sekitar 26 persen pekerja perempuan adalah pekerja sektor rumah tangga. Selain itu, sebagian besar pekerja perempuan adalah pekerja dengan keterampilan menengah hingga rendah. Dimana proporsinya mencapai 89 persen atau sekitar 43,8 juta jiwa.

Baca Juga  Mega Proyek Manusia Modern; Menjadi Tuhan Di Bumi
Langkah Strategis Pemberdayaan Perempuan

Menteri Bambang melanjutkan, pemerintah menyadari pentingnya peran perempuan dalam pembangunan. Sehingga Indonesia membidik empat sektor utama dan menyiapkan langkah strategis. Yakni dalam mengatasi isu pemberdayaan perempuan, kesetaraan gender, sekaligus mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/ Sustainable Development Goals. Terutama Tujuan 5: Kesetaraan Gender.

Pertama, di sektor pendidikan, pemerintah mengimplementasikan wajib belajar 12 tahun. Serta menyediakan kesempatan bagi anak-anak dari keluarga miskin melalui Kartu Indonesia Pintar dan Program Keluarga Harapan.

Kedua, di sektor kesehatan. Indonesia fokus untuk memperbaiki akses dan kualitas pelayanan kesehatan untuk ibu, anak, dan remaja. Sekaligus mengakselerasi usaha perbaikan nutrisi, mengintegrasikan kesehatan reproduksi ke dalam kurikulum pendidikan. Mendorong pengetahuan dan keterampilan berkeluarga, serta memperbaiki akses dan kualitas keluarga berencana.

Ketiga, di bidang ketenagakerjaan. Pemerintah fokus untuk memperluas kesempatan kerja, mendorong fleksibilitas pasar tenaga kerja, menyesuaikan gaji dengan mekanisme pasar, memperbaiki keterampilan. Dan memaksimalkan kapasitas tenaga kerja dengan pelatihan untuk perempuan, dan menguatkan implementasi kebijakan tenaga kerja yang mengakomodasi kesetaraan gender.

Keempat, terkait pencegahan kekerasan. Indonesia menargetkan peningkatan pemahaman atas definisi kekerasan dan penyelundupan perempuan, menyediakan perlindungan hukum bagi kasus kekerasan terhadap perempuan. Serta meningkatkan efektivitas pelayanan bagi penyintas anak dan perempuan.

Keterlibatan Perempuan dalam Dunia Kerja

McKinsey & Co  memaparkan data tentang mengapa perlu lebih melibatkan perempuan dalam dunia kerja. Dalam paparannya, Sebastian Jammer dari McKinsey, mengatakan bahwa Indonesia berpotensi meraih pertumbuhan Gross Domestic Product (GDP). Atau Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar US$135 miliar di 2025. “Pertumbuhan GDP Indonesia di 2025 akan naik sebanyak US$135 miliar. Apabila perempuan dilibatkan lebih dalam dunia kerja,” ujar Jammer di Kantor Pusat Go-Jek.

Baca Juga  Berdamai dengan Situasi, Cara Menikmati Hidup Tenang

Pertumbuhan tersebut terbagi menjadi tiga, yakni dari segi partisipasi, jam kerja, dan produktivitas perempuan. Dari segi peran perempuan di dunia kerja, akan ada peningkatan sebesar 32 persen. Yakni dari total kenaikan GDP di 2025 yakni US$43 miliar dari US$135 miliar.

Dari segi jam kerja, peningkatan jumlah jam kerja dapat menambah pertumbuhan GDP sampai 30 persen, yakni US$41 miliar dari US$135 miliar. Menurut Jammer, peningkatan jam kerja bukan berarti perempuan harus bekerja lebih lama dari laki-laki. Tapi banyaknya perempuan yang beralih dari kerja paruh waktu menjadi penuh waktu (full time). Sementara dari segi produktivitas, pemberdayaan perempuan dalam produktivitas kerja dapat meningkatkan pertumbuhan GDP sebanyak 38 persen, yakni US$51 miliar dari US$135 miliar. Dari ketiga aspek tersebut, peningkatan GDP diprediksi McKinsey dalam risetnya di 2018 berjudul Power of Parity: Advancing Women’s Equity in Indonesia sebanyak US$135 miliar.

Dalam skala global, McKinsey memprediksi kenaikan GDP akan mencapai US$28 triliun di 2025 jika ketiga sektor tersebut dipenuhi. Di Asia Pasifik sendiri, kenaikan GDP diprediksi akan mencapai US$4,5 triliun pada enam tahun mendatang. Performa dalam memenuhi ketiga aspek tersebut juga memengaruhi pertumbuhan GDP. Di sisi GDP secara global, jika setiap negara mencapai penerapan peran perempuan sebanyak 60 persen, jam kerja sebanyak 20 persen, dan 20 persen dari produktivitas, maka GDP akan naik sebanyak 11 persen atau US$12 triliun jika dihitung dari total GDP global.

Optimisme Perempuan dalam Perekonomian

Dengan demikian, meskipun peran perempuan masih diselimuti kekurangan dari kondisi seksualitas, kekerasan rumah tangga, penyeludupan, dan stigma buruk bagi perempuan. Tapi secara populasi perempuan mengalami peningkatan sehingga memberikan peluang atau optimisme dalam berkontribusi dibidang perekonomian. Seperti Bambang Brodjonegoro mengatakan bahwa, kaum perempuan adalah aset, potensi, dan investasi yang penting bagi Indonesia, yang dapat berkontribusi secara signifikan, sesuai kapabilitas dan kemampuannya.

Baca Juga  Revolusi Teknologi Digital dan Dampak Terhadap Perekonomian (Part 2)

McKinsey & Co  memaparkan data tentang mengapa perlu lebih melibatkan perempuan dalam dunia kerja. Dalam paparannya, Sebastian Jammer dari McKinsey, mengatakan bahwa Indonesia berpotensi meraih pertumbuhan Gross Domestic Product (GDP) atau Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar US$135 miliar di 2025. Pertumbuhan tersebut terbagi menjadi tiga, yakni dari segi partisipasi, jam kerja, dan produktivitas perempuan. Dari segi partisipasi perempuan di dunia kerja, akan ada peningkatan sebesar 32 persen dari total kenaikan GDP di 2025 yakni US$43 miliar dari US$135 miliar. (Editor : Laeli)

Bagikan
Post a Comment