f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
perawan tua

Jangan Ada Lagi Sebutan Perawan Tua

Bebicara tentang perempuan tentu tak akan ada habisnya. Selalu saja ada sisi untuk dikritiki oleh orang-orang disekitarnya. Belum lagi dibelenggu oleh kontruksi sosial yang tercipta di masyarakat. Salah satunya, stigma perawan tua yang kerap kali dialamatkan pada perempuan.

Stigma perawan tua kerap melekat pada perempuan belum menikah alias single. Alasannnya, perempuan dianggap belum menjalankan fungsi peradabannya dengan baik yaitu menikah dan memiliki keturunan, sebagaimana pandangan yang baik bagi perspektif patriarki. Padahal hal itu sudah menjadi pilihan pribadi setiap orang dengan alasannya tersendiri.

Tidak peduli seberapa besar dan seberapa penting pencapaian seorang perempuan, ketika perempuan belum memiliki pasangan maka dianggap belum sukses. Begitu kuatnya stigma tersebut mengalir dalam pembuluh darah masyarakat, menjebak perempuan akhirnya memilih untuk menikah di usia terbilang muda.

Stigma perawan tua sangat memojokkan secara sosial. Dianggap tidak laku, tidak berfungsi secara maksimal sebagai perempuan bahkan dicap perempuan nakal. Stigma perawan tua ditujukan pada mereka yang sudah cukup usia, namun belum menikah alias single. Sementara kriteria cukup usia secara sosial pun berbeda-beda.

Kriteria Harus Sudah Menikah

Kriteria cukup usia untuk menikah di setiap daerah berbeda-beda, baik pada masyarakat pedesaan dan pelosok. Budaya di pelosok akan ditemukan kriteria cukup usia untuk perempuan yang lebih muda jika dibandingkan daerah perkotaan.

Sekalipun patokan standarnya dilihat dari sisi biologis. Misalnya, ketika perempuan sudah haid, maka ia sudah seharusnya menikah. Padahal haid adalah tanda bahwa seorang perempuan sudah bisa hamil. Bisa hamil belum tentu siap hamil, baik secara fisik maupun psikologis, apalagi kesiapan untuk menjadi Ibu.

Usia 16 tahun bahkan sebelum itu, jika sudah haid berarti harus segera menikah. Bahkan di beberapa daerah tak jarang anak perempuan dinikahkan padahal baru duduk di bangku sekolah dasar. Perempuan yang belum menikah lewat usia 20 tahun misalnya, sudah dianggap telat menikah, bahkan lebih dari usia itu dianggap perawan tua.

Dalam Agama, Balig selalu dilekatkan dengan kata Akil sebagai syarat menikah. Sayangnya, balig lebih diutamakan daripada Akil, kesiapan secara pemikiran dan mental. Padahal Akil Balig adalah dua kata yang tidak seharusnya dipisah.

Berprestasi dan Bereproduksi Adalah Sesuatu yang Privately

Kodrat perempuan adalah hamil, melahirkan dan menyusui. Disebut kodrat sebab itu tak bisa diwakilkan oleh laki-laki. Perempuan dianggap sempurna sebagai perempuan ketika mampu bereproduksi alias melahirkan anak.

Kadang, seberapa hebatnya perempuan, sederet prestasi yang ia dapat, kemapanan ekonomi yang ia bangun, tampak tiada artinya ketika ia belum mampu bereproduksi. Dalam percakapan sehari-hari pun pertanyaan sudah menikah? Anaknya berapa? Dianggap lebih penting dan lebih menjustifikasi keperempuanannya ketimbang karir apa yang telah dibangun, prestasi yang didapat, peran sosial apa yang telah dijalankan.

Padahal, menikah adalah hak bukan kewajiban. Perempuan berhak atas tubuhnya, mau bereproduksi atau tidak merupakan sesuatu yang privately. Selain itu, tidak semua perempuan bisa hamil, dan juga tidak semua suami bisa menghamili. Terutama bagi mereka yang memiliki masalah kesehatan. Kondisi rahim yang tak mendukung atau sperma lemah yang tidak bisa membuahi sel telur.

Mereka yang akhirnya menikah pun juga tak lepas dari pertentangan. Entah karena masalah ekonomi, emosi labil, hingga faktor lain yang tak terprediksi sebelumnya, hingga berujung terjadi perceraian.

Artinya, menikah dan punya anak tidak bisa dijadikan ukuran keberhasilan. Saat terjadi perceraian, pihak perempuan juga lah yang paling menderita secara sosial, mulai dari stigma janda sampai sulit mendapat pekerjaan layak karena minimnya skill, efek menikah pada usia muda. Anak pun akan terlantar, perkembangan psikologi dan sosialnya pun terganggu.

Bekal Menuju Pernikahan

Menikah atau tidak adalah pilihan. Perempuan berhak atas tubuhnya sendiri. Dalam Islam, menikah adalah bagian dari sunnah Rosul. Namun tidak disebut pada batas usia tertentu.

UU No. 16 tahun 2019 tentang perkawinan memberikan batas minimal 19 tahun untuk menikah. BKKBN merekomendasikan usia 21 tahun untuk perempuan dan 25 tahun untuk laki-laki.

Sementara agama, memberikan prasyarat harus sudah Akil Balig. Makna Akil dalam pandangan Cendekiawan Muslim, Prof. Quraish Shihab, adalah berilmu. Pandangan ini jauh lebih progresif ketimbang mengartikan Akil sebatas kesanggupan membedakan hal baik dan buruk.

Berilmu bisa berarti memiliki pengetahuan yang cukup, matang dalam pemikiran, hingga memiliki skill dalam bidang profesi tertentu. BKKBN memberi saran usia menikah ideal untuk perempuan adalah 21 tahun. Saran dari BKKBN ini jauh lebih progresif daripada UU Perkawinan No. 16 tahun 2019.

Pada Usia itu, setidaknya perempuan sudah siap secara fisik, dari segi pendidikan pun umumnya juga sudah lulus S1, bahkan sudah bekerja pada bidang profesinya. Sudah memiliki cukup pengalaman dan koneksi.

Jangan Lagi Lontarkan Stigma Perawan Tua

Dalam kehidupan sosial, peran perempuan sangatlah penting. Ia tak hanya sebagai istri yang mendampingi suami, namun juga menjadi seorang Ibu. Belum lagi ketika memilih untuk berkarir. Ungkapan penyair Hafiz Ibrahim : Al-Ummu madrasatul ula, iza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyibal a’raq (Ibu adalah sekolah pertama bagi anaknya. Jika engkau persiapkan ia dengan baik, maka sama halnya engkau persiapkan bangsa yang baik pokok pangkalnya).

Namun perlu digaris bawahi bahwa peran sebagai madrasatul ula  dapat dilakukan secara bersama oleh ibu dan bapak dalam berkeluarga. Terlepas dari itu perempuan haruslah terdidik. Seorang perempuan harus cerdas, punya keahlian, hobi, dan aktif dalam kegiatan masyarakat. Perempuan perlu independen, punya ruang aktualisasi pada beragam bidangnya tanpa melepaskan peran sebagai istri atau ibu kelak bagi anak-anaknya.

Sementara, apakah nantinya ia tetap berkarir atau fokus menjadi ibu rumah tangga, itu akan menjadi kesepakatan dengan suaminya nanti. Maka, tidak ada istilah perawan tua. Seorang perempuan bisa jadi memutuskan menikah pada usia tertentu, karena ada hal yang ia sedang siapkan.

Stigma perawan tua, kadang membuat banyak perempuan buru-buru menikah, hanya agar tidak jadi bahan pergunjingan sosial. Padahal ia juga punya hak untuk tumbuh berkembang, hak melanjutkan pendidikan, hak berkarir, hingga aktif dalam kegiatan sosial.

Keputusan menikah karena takut dianggap perawan tua, ibarat berjudi dengan nasib. Iya kalau mendapatkan suami yang peduli hak perkembangannya, kalau tidak? Selain itu, kita sebagai masyarakat harus membuang jauh istilah perawan tua. Harus juga menghargai perempuan dari sisi prestasi dan peran sosialnya. (Vk)

Bagikan
Comments
  • Siska

    Lanjutkan mas Rizal😇

    September 20, 2020
Post a Comment