f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
cinta pernikahan

Membaca Isyarat Cinta dalam Pernikahan

Perbincangan di warung kopi pada Jumat sore itu berlanjut dengan topik yang sama, seputar perjodohan, pernikahan, dan cinta.

Jika dalam cerita sebelumnya hanya ada Dania, seorang ibu rumah tangga yang telah mencapai kebebasan finansial berkat warisan dari orang tuanya; Leni, kepala sekolah taman kanak-kanak elite di sebuah kota besar; Nana, seorang ahli hukum yang bekerja di organisasi internasional yang bergerak di bidang reformasi hukum; Nourman, pengusaha jasa pengiriman barang; dan Fadhil, jurnalis sekaligus penulis yang selalu setia mengenakan celana jins dan jaket kulit, maka pada pertemuan kali ini hadir pula Gendis, seorang peneliti yang baru pulang dari Eropa setelah mengikuti pelatihan tentang Gender and Islam.

Topik pembicaraan dalam reuni kecil itu masih berkisar pada persoalan yang menimpa Dania dan Nourman. Nourman sudah empat kali menikah, tetapi selalu gagal. Menurut teman-temannya, kegagalan itu terjadi karena ia memperlakukan pasangan hidup hanya sebagai pelayan dan sangat pelit dalam urusan keuangan. Berbeda dengan Dania yang, menurut Fadhil, terlalu polos sehingga tidak mampu membedakan laki-laki yang benar-benar mencintainya dengan laki-laki yang sekadar ingin melampiaskan hasrat seksual.

Dania memandangi permukaan kopi yang mulai dingin. Jemarinya berputar-putar di bibir cangkir seolah sedang mencari jawaban atas pertanyaan yang selama ini ia simpan sendiri.

“Jadi, para lelaki yang pernah menikah sama gue itu berarti enggak cinta, ya? Tapi kok nyatanya gue bisa punya anak sama mereka?” tanyanya lirih.

Fadhil yang sejak tadi menyandarkan tubuh di kursi empuk langsung duduk tegak.

“Tuh, kan. Lu memang polos atau bego banget sih, Dan. Perempuan itu bisa hamil karena sperma membuahi sel telur. Mau pelakunya saling cinta kek, lagi mabuk kek, itu urusan lain.”

Dania mengerutkan kening. Bukannya mendapat jawaban, ia justru semakin bingung.

Baca Juga  Komunikasi Suami Istri dalam Rumah Tangga

“Memangnya kalau sudah saling cinta itu harus menikah? Terus, syarat menikah memang harus saling jatuh cinta, ya? Sebenarnya cinta itu apa, sih?”

Semua terdiam beberapa detik, kecuali Nourman yang justru membuka suara.

“Gue sih saat nikah enggak peduli ada cinta atau enggak. Yang penting perempuan itu harus bisa melayani dan nurut sama gue sebagai kepala rumah tangga.”

Ucapan itu membuat Leni yang sedang meneguk es kopi langsung tersedak.

“Uhuk… uhuk…”

Ia meletakkan gelasnya agak keras di atas meja.

“Man, lu memang brengsek. Lu nikah cuma buat pelampiasan nafsu. Bagi lu, istri cuma pembantu yang harus nurut. Pantas saja rumah tangga lu enggak pernah bertahan.”

Nourman mengangkat bahu.

“Memangnya salah? Daripada zina. Gue kan nikah secara resmi. Apa haram kalau orang nikah niatnya buat seks?”

“Haram.”

Suara Gendis terdengar tegas. Tidak keras, tetapi cukup membuat semua orang menoleh.

“Bahkan haram jadah.”

Ia menatap lurus ke arah Nourman.

“Aku enggak mau berdebat soal dalil. Pakai akal sehat saja. Kalau sejak awal niat seseorang menikah hanya untuk memuaskan syahwatnya, lalu menganggap pasangannya sekadar alat pemuas, menurutku itu sudah sangat merendahkan martabat manusia.”

Nourman terkekeh pelan.

“Wah… baru pulang dari Eropa langsung jadi feminis, ya?”

Belum sempat Gendis menjawab, Nana yang sejak tadi diam menyeka keringat di dahinya dengan handuk kecil.

“Saat gue melihat orang kayak lu begini, gue semakin mantap untuk enggak buru-buru menikah. Bahkan gue rela tidak menikah kalau yang gue temui hanya lelaki seperti lu, Man.”

Ia menatap Nourman tanpa senyum.

“Lu tahu, Man. Dalam ajaran Islam yang gue pahami, praktik perbudakan manusia dihapus karena merendahkan martabat manusia. Sekarang lu justru ingin menjadikan istri sekadar pelayan yang harus selalu nurut. Apa bedanya?”

Nourman mulai tampak kesal.

Baca Juga  Pernikahan Bukan Sekedar Menyatukan Cinta

“Gue enggak memperbudak perempuan. Gue nikahin mereka resmi di KUA. Sah menurut agama.”

“Iya.”

Gendis mengangguk pelan.

“Tapi sejak awal tujuan lu menikah memang bukan membangun keluarga, kan?”

Gendis melanjutkan, kali ini lebih tenang.

“Surat nikah dari KUA itu bukan surat izin memperlakukan pasangan sesuka hati. Pernikahan bukan kontrak untuk memiliki tubuh seseorang. Pernikahan adalah perjanjian untuk saling mencintai, saling menghormati, saling menjaga, dan bertanggung jawab atas segala konsekuensi yang lahir dari hubungan itu.”

Gendis tampak semakin serius. Tidak ada yang langsung menyela.

Sementara Dania sejak tadi hanya menatap kosong ke arah jalan raya di depan warung. Entah mengapa, wajah keempat mantan suaminya bergantian melintas dalam ingatannya. Ia teringat masa-masa hamil yang dijalani sendirian, saat anaknya demam tanpa ada seorang ayah yang datang membantu, serta janji-janji yang dahulu terdengar begitu indah, tetapi menghilang begitu saja beberapa bulan setelah pernikahan.

Perlahan ia menarik napas.

“Jadi… para lelaki yang pernah berumah tangga sama aku memang enggak pernah benar-benar mencintaiku,” ucapnya nyaris berbisik.

Semua mata tertuju kepadanya.

“Mungkin aku memang terlalu bego. Buktinya mereka enggak pernah bertanggung jawab atas apa yang mereka lakukan. Mereka pergi begitu saja, seolah aku dan anak-anak yang kulahirkan bukan lagi urusan mereka.”

Warung kopi yang sejak tadi riuh mendadak terasa sunyi. Tak seorang pun segera menjawab.

Fadhil tiba-tiba memecah kebekuan dengan gaya sedikit urakan.

“Biarkan Dania merenung dulu, deh. Udah tiga kali nikah baru belajar teori tentang cinta. Gue mau ngasih komentar soal pandangan dan sikap Nourman tentang praktik pernikahan ala Nourman Wicaksono van Rijn.”

“Gimana, Dhil? Sebagai sesama laki-laki, lu dukung gue, dooong?” sergah Nourman.

Baca Juga  Iklan kentang, Bahagia dan Al-Qur’an

“Dalam hal ini enggak, Man. Kalau tujuan lu menikah cuma buat melegalkan hasrat seksual, itu sudah kacau. Kenapa enggak ‘jajan’ aja sekalian?”

Nana yang sejak tadi paling tenang tiba-tiba menyahut.

“Apa yang kamu maksud dengan jajan, Dhil?”

“Ya, jajanlah. Masa kamu enggak paham, Na? Eh… transaksi seksual,” jawab Fadhil.

Nana langsung menjelaskan.

“Transaksi seksual menjadikan tubuh manusia sebagai komoditas. Ketika tubuh diperdagangkan, martabat manusia ikut diperdagangkan.”

“Lha, bukankah itu terjadi di mana-mana, Na? Bahkan di negara yang paling agamis sekalipun, praktik seperti itu tetap ada,” sergah Fadhil.

Nana menjawab dengan sangat tenang.

“Yang membedakan hanya bentuknya. Ada yang membayar dengan uang, ada pula yang merasa cukup dengan mahar dan akad. Jika niatnya sama-sama menjadikan tubuh perempuan sebagai alat pemuas, di mana letak kemuliaannya?”

Pertanyaan Nana menutup perbincangan kecil pada Jumat sore itu.

Dania belajar bahwa kepolosan dapat membuat seseorang gagal membaca isyarat cinta.

Sementara itu, Nourman memperlihatkan bagaimana kecerdikan tanpa nurani dapat berubah menjadi keculasan yang membungkus nafsu dengan legalitas pernikahan.

Dalam pernikahan, kecerdasan seseorang tidak diukur dari kemampuannya menemukan pasangan yang mencintainya.

Kecerdasan itu terletak pada kemampuannya membedakan cinta dari hasrat seksual, ketulusan dari kepura-puraan, serta kasih sayang dari penaklukan.

Bagikan
Post a Comment