Menyadari Hobi sebagai Langkah Awal Membahagiakan Diri
Sebagai ibu rumah tangga berusia tiga puluh enam tahun yang dikaruniai tiga anak di bawah delapan tahun, saya seperti orang kurang kerjaan karena keranjingan mengikuti kelas menulis. Apa yang mau dikejar saat ibu-ibu seperti saya mengikuti kelas menulis? Ketenaran? Kemampuan menulis? Gengsi? Mengisi waktu luang (yang sudah jelas nggak ada luangnya)? Apa, ya, kira-kira?
Sebelum memutuskan mengikuti kelas menulis daring, saya izin dengan suami. Saya tipe istri yang begitulah. Jangankan untuk sebuah kelas menulis, mau membeli pakaian dalam saja saya pasti izin dulu. Bukan karena takut, karena saya yakin pasti diperbolehkan oleh suami, toh suami saya sudah tahu bahwa menulis adalah hal yang memang saya senangi. Saya minta izin dulu sebagai bentuk komunikasi saya dan penghormatan kepada rekan hidup saya.
Sekitar setahun lalu, saya mengikuti kelas kepenulisan esai media digital. Dalam kelas itu, meski guru dan iklimnya baik, namun sebagai produk sekolah konvensional yang mendukung sikap kompetitif (meski kompetisi yang positif), saya tertekan juga. Saya sudah belajar selama dua bulan dengan bimbingan yang intens dari mentor, namun belum satu pun tulisan saya bisa muat di media. Padahal menurut mentornya, tulisan saya sudah cukup bagus, bukan yang tak layak bacalah, meski masih punya kekurangan yang mencolok, yaitu kurang fokus.
…
Tentu saja saya tidak percaya pada guru saya. Kalau cukup bagus, mengapa tak ada yang diterima di media yang saya inginkan? Saya sempat berpikir bahwa selain memang kurang bagus, tulisan saya selalu ditolak karena saya adalah ibu rumah tangga. Tentu saja ini adalah pemikiran paling salah kaprah yang pernah saya pikirkan, hanya karena saya merasa kelewat minder dengan status saya sebagai ibu rumah tangga.
Saya mengadu pada rekan hidup saya. “Sorry ya, aku belum bisa. Ditolak meneh.” Dia katakan begini, ”Eling bahwa yang kamu lakukan itu hobimu, hobi seharusnya tidak membuatmu tersiksa karena ditolak. Hobi seharusnya membuatmu rileks selepas mengerjakan hal-hal wajib yang membuat tegang pikiranmu. Udah, nggak usah stress, namanya juga hobi. Kudune gawe awakmu seneng.”
Sungguh, kalimat itu menenangkan saya. Menepis rasa sedih karena terus ditolak yang kemudian kesedihan itu menjadi-jadi akibat asumsi pribadi bahwa saya ditolak karena saya ibu rumah tangga, bukan pakar, bukan pula pejabat di instansi tertentu. Perkataan rekan hidup saya akhirnya melecut semangat saya kembali.
Tulisan pertama, yang melewati moderasi redaktur secara manual, akhirnya muncul di media digital Islam, Rahma.Id. Sungguh suatu kebanggaan buat saya. Saya berkata pada suami betapa senangnya saya waktu itu. Lalu perjalanan menulis itu masih berlanjut hingga hari ini. Namun ada yang berbeda, saya tak lagi mellow menunggu e-mail balasan yang berisi “Selamat tulisan Anda akan kami tayangkan.” Saya sudah semeleh, menulis sebagai hobi. Ada kalanya berharap sih, saat tulisan yang saya buat adalah tulisan untuk sahabat-sahabat yang saya sayangi. Tapi, segalau-galaunya, sudah tak separah dulu.
…
PR yang masih harus cari sendiri jawabannya adalah, untuk apa saya menulis? Kalau membuat kenangan, saya sudah mencapainya. Saya memang lekas puas, belum genap selusin tulisan sudah puas saja. Sementara kalau untuk pencapaian berupa profesi, saya masih sangat jauh dari itu. Saya tetap seorang ibu rumah tangga yang hobi menulis. Bukan penulis yang dinantikan oleh penggemarnya di media digital.
Bagaimana pun saya sudah cukup gembira, saat mencoba mengetik nama saya di mesin pencarian, maka yang saya temukan bukan hanya akun marketplace dan media sosial saya. Begitulah harapan yang pernah ada dalam diri saya, supaya kelak saat anak saya mengetikkan nama saya di mesin pencarian, ada “warisan baik” yang dapat mereka temukan.
Ah, itu! Ketemu yang saya cari. Saya memang menulis untuk pemenuhan kebutuhan pribadi saya. Dan, saya menulis bukan untuk melenggang di panggung-panggung media digital dan bersorak pamer untuk dilihat orang. Saya menulis untuk menuangkan cinta saya dalam kata-kata. Benar kata suami saya, ingat selalu, bahwa saya menulis karena hobi dan untuk memenuhi kebutuhan pribadi saya. Sehingga tak akan ada beban tambahan yang akan menimpa saya hanya karena tantangan di dunia menulis yang ternyata berat.
Kalau dari tadi saya bercerita tentang diri saya, rasanya tulisan ini jadi tak ada gunanya buat orang lain. Terkhusus untuk kaum saya, ibu rumah tangga, sudahkah kamu menemukan hobimu? Sudahkah kamu menemukan hal yang dapat membuatmu merasa penuh, utuh? Jika belum, yuk temukan. Menangis sambil makan karena lelah sudah biasa kita alami. Selesaikan tangis itu, lalu lakukan hobimu. Dengan rebahan sekalipun, nonton drakor misalnya, atau menggambar atau mungkin bertanam. Sediakan saja beberapa menit dari 24 jam yang engkau berikan untuk keluargamu. Semoga, beberapa menit itu, dapat membuatmu kembali penuh semangat untuk melakoni peranmu sebagai ibu.
Butet Rs M adalah ibu dari tiga anak, tinggal di Bantul.
