f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
pendidikan bermutu

Pendidikan Bermutu untuk Semua: Bukan Jargon, Tapi Kerja Panjang

Program revitalisasi pendidikan mungkin terdengar asing bagi awam. Tapi tidak bagi saya. Program klise, mungkin? Meski nampaknya tidak. Sejak bergulir tahun lalu, program ini tidak sekadar memberikan uang kepada sekolah untuk memperbaiki gedung, melainkan membawa tekad yang lebih jauh: Pendidikan Bermutu untuk Semua. Jargon ini menjadi spirit bagi siapa saja yang peduli pada pendidikan Indonesia.

Program ini membedah habis sistem pendidikan kita dari hulu ke hilir. Mulai dari sekolah yang termotivasi mengasah data Dapodik dengan sebenar-benarnya, hingga terbukanya ruang dialog seluas-luasnya antara Dinas Pendidikan, UPT Kemendikdasmen, dan para pelaku pendidikan yang berhubungan langsung dengan siswa.

Program ini membuka mata saya lebar-lebar bahwa pendidikan bermutu untuk semua adalah sebuah kerja panjang. Sejak awal, verifikasi dan validasi dilakukan oleh para praktisi pendidikan yang ditunjuk oleh Kementerian. Saat sekolah dinyatakan siap, ribuan sekolah diundang untuk mengikuti Bimbingan Teknis (BIMTEK).

Sepanjang BIMTEK, para kepala sekolah dibekali pengetahuan teknis yang tak biasa bagi mereka: cara berbelanja barang, melakukan perbandingan harga, hingga mendialogkan berbagai kemungkinan selama masa pembangunan berlangsung. Apa jadinya jika harga bahan baku melonjak saat pembangunan? Bagaimana jika harus melakukan deposit sementara barang belum terkirim? Belum lagi keputusan mengenai pelaporan keuangan sesuai standar.

Saya pernah mendapati seorang kepala sekolah yang merasa sekolahnya berhak mendapatkan lebih dari sekadar toilet dan renovasi, tetapi kami sebagai fasilitator tidak bisa bertindak di luar wewenang. Secara simultan sepanjang BIMTEK, Rencana Anggaran Biaya (RAB) disusun bersama para perencana, reviewer, dan Tenaga Ahli yang paham bagaimana bangunan berdiri sesuai standar visi budaya sekolah yang aman dan nyaman.

Program ini membuka mata saya lebar lebar, pendidikan bermutu untuk semua adalah kerja kerja panjang. Sejak awal, verifikasi validasi dilakukan oleh para praktisi pendidikan yang ditunjuk oleh Kementerian. Saat sekolah dinyatakan siap, ribuan sekolah diundang untuk mengikuti BIMTEK. Sepanjang BIMTEK berlangsung, para kepala sekolah mendapat pengetahuan mengenai cara belanja barang, melakukan perbandingan, hingga mendialogkan kemungkinan selama masa pembangunan berlangsung.

Baca Juga  Kotak Kejujuran
Menyatu di Tengah: Air Mata Haru dan Monumen Hidup Pendidikan Indonesia

Program ini bukan hanya memberikan dana untuk membangun, tetapi juga menjadi kunci untuk merapikan sistem pendidikan kita—suka tidak suka, kita harus mengakuinya. Tangis haru tak jarang menyelimuti kami para pelaku BIMTEK di lapangan. Para kepala sekolah berulang kali mengucapkan terima kasih karena akhirnya memiliki ruang kelas sendiri. Mereka tak lagi harus meminjam kantor pemerintah setempat, menumpang di SD, atau bahkan belajar di rumah warga. Mereka akhirnya memiliki kelas yang layak—bukan sekadar satu bangunan kantor guru yang dijejali mainan, Alat Permainan Edukatif (APE), atau kebutuhan siswa PAUD lainnya.

Tiba saatnya penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS), angka yang tertera bukanlah hasil lobi dari pihak mana pun. Angka tersebut adalah kebutuhan nyata jika kita mau melihat lebih jauh: toilet, ruang guru, sanitasi sekolah, hingga renovasi bangunan.

Saya tak menafikan adanya kendala di lapangan. Masih teringat jelas, suatu kali ada satu meja berisi delapan satuan pendidikan yang kosong hingga hari kedua. Belakangan baru saya ketahui, para kepala sekolah yang seharusnya mengisi meja tersebut batal berangkat karena cuaca buruk, padahal BIMTEK sudah dilaksanakan di lokasi yang cukup dekat dengan tempat mereka. Tentu program ini belum sempurna, tetapi saya merasa ini adalah kerja bersama banyak orang yang kelak akan menjadi legacy Presiden Prabowo. Pada masa beliau, ribuan sekolah memiliki akses untuk mendialogkan kebutuhan lapangan dengan cara yang arif. Uang tidak begitu saja diberikan, melainkan melibatkan para ahli yang terhubung langsung. Bahkan melalui program ini, kita tidak lagi mengenal dikotomi bottom-up atau top-down, melainkan semuanya bertemu di tengah.

Baca Juga  Janji

Seyogianya, tulisan ini saya persembahkan kepada para panitia pembangunan yang proses penyusunannya sangat egaliter—terlihat dari dokumen Berita Acara yang selalu saya kumpulkan pada hari kedua BIMTEK, mulai dari penanggung jawab hingga petugas keamanan.

Penghargaan juga saya sampaikan kepada para perencana dan pengawas di tiap kabupaten yang jumlahnya terbatas, tetapi berjibaku menjadi jembatan antara kepentingan sekolah dan para tenaga ahli yang berusaha mencermati rancangan biaya satu demi satu. Tak lupa untuk para punggawa BIMTEK yang berada di rumah kurang dari 24 jam demi BIMTEK selanjutnya: Korlap, Asrot, Penanggung Jawab, Pembina, Tim Scan, Fasilitator, Tenaga Ahli, serta para narasumber yang bersedia mencurahkan waktu dan pikiran menyampaikan materi—mulai dari Kebijakan Revitalisasi, Ketentuan Revitalisasi, Pengelolaan Keuangan dan Pajak, Pengadaan Barang dan Jasa, Dokumentasi, Pengelolaan Sarana Prasarana, hingga narasumber dari kejaksaan yang menguatkan para peserta.

Angkat topi untuk kita semua yang telah bekerja dari hulu hingga hilir demi anak Indonesia yang berkemajuan. Tentu hasilnya bukan hanya terasa hari ini. Mengutip dari sambutan penutupan BIMTEK kali ini: Revitalisasi Sekolah akan menjadi monumen penting pendidikan Indonesia. Monumen ini bukan hanya berada di satu tempat, melainkan tersebar di seluruh Indonesia. Di mana pun sekolah berada, di situlah monumen ini akan terus ada, membersamai napas pendidikan kita.

Semoga setiap meterai yang kita tempelkan menjadi pembuka jalan agar pendidikan bermutu untuk semua dapat kita raih bersama. Dan semoga setiap lelah penantian kita akan finalnya RAB bukanlah lelah yang sia-sia, melainkan menjadi saksi ketulusan kita semua yang terlibat dalam program ini kelak di hari akhir.

Bagikan
Post a Comment