Memutuskan untuk Menjadi Santri Kembali
Di semester satu kemarin saya tinggal di sebuah kost yang dekat dengan kampus. Dan jarak dari kost ke kampus terbilang sangat dekat, dapat ditempuh sekitar 5-10 menit dengan berjalan kaki. Untuk di tahun ini saya mengambil sebuah keputusan yang cukup berat, saya memutuskan keluar tidak tinggal di kos lagi, dan memutuskan tinggal di sebuah Pondok Pesantren Mahasiswa di daerah Depok.
Memang sebuah keputusan yang berat, mengingat saya sudah pernah menjadi santri cukup lama yakni sekitar lima tahun. Dengan mengambil keputusan ini otomatis kehidupan bebas yang dulu saya idamkan saat masih menjadi santri harus saya kubur lagi.
Saya ingat betul dulu saat masih menjadi seorang santri, ingin sekali rasanya cepat-cepat untuk lulus dari pesantren, ingin merasakan hidup bebas tanpa terkekang dengan peraturan pesantren.
Hampa, Hidup Bebas dari Pesantren
Namun setelah saya rasakan hidup bebas dari peraturan pesantren saya malah merasa hampa. Jika biasanya dahulu setiap subuh ada ustad yang membangunkan untuk solat subuh, saat kuliah tidak ada. Bahkan terkadang solat subuh pun terlambat.
Jarak antara pesantren dan kampus saya yang berada di Ciputat cukup jauh memang. Tapi, bukankah jarak tidak menghalangi seseorang untuk belajar agama? Sebetulnya di dekat kampus saya pun banyak juga pondok pesantren khusus mahasiswa. Tapi saya lebih memilih untuk mondok di sini. Dan juga saya memiliki alasan tersendiri mengapa lebih memilih pesantren ini padahal jaraknya cukup jauh dari kampus.
Pesantren Mahasiswa di sini memang awalnya ditujukan bagi orang yang belum pernah mondok, maka tak heran beberapa teman saya begitu asing dengan namanya kehidupan pesantren kemudian belajar kitab dan hal-hal semacamnya.
Sebagai seorang yang pernah menjadi santri, sungguh kehadiran pesantren mahasiswa itu bagi saya merupakan hal yang menakjubkan. Bagaimana tidak, di sela-sela kesibukan para mahasiswa berkuliah, mereka juga dituntut untuk mengaji kepada para ustad di sini.
***
Waktu masih menjadi santri saat SMA saja saya kerepotan dalam membagi waktu antara sekolah dan mengaji, mudah Lelah dan mengantuk saat jam sekolah. Apalagi disini, setiap santri diharuskan membagi waktu mengaji dengan waktu kuliah. Beruntungnya jadwal mengaji disini terbilang cukup fleksibel, yaitu di waktu pagi setelah salat Subuh dan sore setelah salat Maghrib.
Kebanyakan kawan dan kakak tingkat saya di sini itu bukan dari pondok pesantren, motivasi mereka untuk mondok pun bermacam-macam. Ada yang karena terinspirasi dari sang pendiri pesantren, ada yang karena dulunya belum pernah mondok dan ingin mencoba suasana pondok pesantren, pokoknya bermacam-macam.
Dan tentunya motivasi pertama dan yang paling utama mereka di sini yaitu karena ingin mengaji dan menuntut ilmu agama.Tapi ada juga kok beberapa teman saya yang dulu SMAnya mondok dan kepingin untuk mondok lagi, ya termasuk saya sendiri.
Kegiatan dan masa studi di pesantren mahasiswa di sini tak jauh berbeda dengan pesantren mahasiswa lainnya. Untuk studinya selama empat tahun, dan kegiatan mengajinya pagi setelah Subuh dan sore setelah Maghrib.
Alasan Ingin Mondok Lagi
Alasan pertama saya berkuliah sambil mondok tentunya karena ingin mengaji seperti dulu. Kawan-kawan saya kebanyakan pun memiliki alasan yang sama. Saya merasa saat dulu kuliah kok jarang sekali ngaji, dan solat pun terkadang tidak tepat waktu/lalai.
Sebetulnya urusan seperti itu urusan pribadi. Namun dulu lingkungan kurang mendukung, jadinya rasa malas selalu menguasai tubuh ini. Berbeda dengan pesantren yang suasananya sangat mendukung, ada yang mengajak untuk berbuat kebaikan.
Serius deh dulu waktu mondok, kegiatannya nggak jauh dari ngaji dan ngaji, tapi saat kuliah jadi lumayan jarang ngaji dan ngerasa hati ini ada yang hampa gitu. Bawaannya nggak tenang terus. Tentunya semoga dengan suasana dan lingkungan yang mendukung, dapat membuat semangat mengaji saya bangkit kembali.
Mengaji di sini konteksnya nggak harus selalu membaca al-Qur’an saja, bisa juga dalam bentuk tahlilan, belajar kitab, mendengarkan nasihat ustad, dan banyak lagi. Jadi konteks mengaji yang saya maksud disini itu luas sekali.
Kemudian alasan kedua adalah karena saya mahasiswa dari perguruan tinggi islam, maka saya perlu ilmu tambahan untuk mengimbangi pelajaran dirosah di perkuliahan. Seminimal-minimalnya jika ada yang tidak saya pahami dalam perkuliahan, bisa saya diskusikan disini bersama teman, kakak tingkat, ataupun ustad disini.
Alasan ketiga yaitu terinspirasi dari sang pendiri pesantren, yaitu Almarhum Kiai Haji Ahmad Hasyim Muzadi. Sepak terjangnya dalam dalam kancah nasional dan internasional tak perlu diragukan lagi. Dikenal sebagai pendakwah yang ulung dan humoris. Beliau juga merupakan seorang tokoh bangsa, setiap langkah gerakannya dilakukan untuk kepentingan umat dan negara.
Apalagi setelah membaca buku biografinya rasa takjub ini semakin besar. Beliau merupakan keturunan orang biasa, tidak ada darah ‘biru’ dalam nasabnya. Ayahnya merupakan pedagang tembakau, dan ibunya seorang pedagang roti. Namun karena ketekunan dan semangatnya bisa menghantarkan beliau menjadi tokoh yang hebat.
Pondok Mahasiswa yang Terjangkau
Jika kalian bertanya mengenai biaya, insya Allah biaya disini termasuk terjangkau mengingat letaknya yang berada di belakang Fakultas Teknik Universitas Indonesia dan tentunya dekat dengan ibu kota. Dulu saat semester satu saya sempat ngekos dan biaya kos perbulan itu satu juta, dan itu hanya isi kamar tok dan air, listriknya isi sendiri.
Di sini dengan biaya setengah harga dari kost saya yang lama bahkan kurang dari setengahnya, sudah mendapatkan fasilitas yang terbilang lengkap sekali. Mulai dari perpustakaan, listrik, ruang belajar dan wifi, kamar mandi dengan air yang melimpah, lapangan untuk berolahraga, dan masih banyak lagi.
Pokoknya bagi kalian yang kuliah di mana pun itu, dan terkhusus bagi yang belum pernah mondok sama sekali, saya mengajak kalian untuk mondok saja. Mondok itu seru banget loh serius. Karena selain kita dapat ilmu umum di dunia perkuliahan, kita juga dapat ilmu agama di pesantren. Bukan itu saja sih, kegiatan di dalamnya juga seru banget kok.
Dan sekarang juga banyak kok pesantren-pesantren khusus mahasiswa yang letaknya mungkin dekat dengan kampus kalian. Selamat mondok dan selamat jadi santri!
Mahasiswa jurusan Tafsir di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta sekaligus santri di Pesantren Mahasiswa Al Hikam Depok

Intan
Betul banget kak.. Bahkan serahin rajinnya di pesantren.. Butuh adaptasi lagi di dunia luar… Apalagi di lingkungan yang minim agama… Ya Allah.. Rasanya hampa.. Sebenarnya memnah yang harus dididik adalah dhati… Tapi rasanya lingkungan itu juga perlu