Masmuka?
Namaku Fatma Khairunnisa, aku lahir dan tinggal di Semarang. Aku anak kedua dari tiga bersaudara. Kakak dan adikku bernama Faisal dan Fardan. Ayahku bernama Erwin Santosa dan bundaku bernama Renata Laurencia.
Umurku 15 tahun, aku duduk di bangku kelas IX atau kelas 3 SMP. Sejak kelas VII, aku aktif di beberapa organisasi, diantaranya Paskibra, Pramuka, OSIS, dan juga BTA. Dan pada saat BTA lah aku bertemu dengan seseorang yang sampai saat ini menjadi teman seperjuanganku. Teman yang selalu mengingatkanku pada perintah dan larangan Allah.
Namanya Rania Salsabilla Pratiwi. Sering dipanggil Rani, dan kebetulan saat kelas IX ini kami sekelas. Ia memiliki warna kulit kuning langsat, hidung yang mancung, dan tatapannya yang sangat meneduhkan. Ia pun berkerudung syar’i.
Dahulu, aku pernah mengagumi seseorang bernama Zidan, anak kelas sebelah. Namun, ketika ia ternyata menjalin hubungan dengan sahabatku, Citra. Aku membulatkan tekad untuk mengikhlaskannya. Pada suatu ketika, aku bertemu dengan seseorang, seseorang yang diam-diam kukagumi dan lambat laun perasaanku ke Zidan mulai mengikis.
Berawal ketika masjid dekat rumahku mengadakan acara Nonton Bareng G 30 S / PKI. Pada saat itu, aku melihat seorang pemuda bersama dengan 2 anak kecil sedang menonton di barisan paling depan. Aku curiga, dari awal sepertinya 2 anak kecil tersebut memperhatikanku. Aku pun tersenyum kepada mereka. Hingga pada saat pemuda tersebut pergi, aku masih menaruh perhatian kepadanya. Ia mengenakan sarung dengan baju koko abu-abu.
Ketika film tersebut telah selesai, aku bertugas untuk membereskan sampah yang mengotori lantai masjid. Setelah bersih-bersih, aku menuruni tangga dengan tergesa, hingga aku hampir menabrak seorang laki-laki yang hendak ke atas.
“Astaghfirullah! Maaf mas saya gak sengaja.” Ucapku meminta maaf kepada seseorang di depanku sambil menunduk.
“Iya, tidak apa-apa. Saya permisi terlebih dahulu.” Jawabnya. Mendengar suaranya, aku sedikit mendongak melihat baju yang dikenakan orang tersebut. Sampai ku tersadar bahwa orang tersebut adalah orang yang tadi kucurigai. Aku segera bergegas pulang kerumah, karena waktu sudah malam.
Begitulah kisah awal ku bertemu dengannya. Sampai saat ini, aku masih mengaguminya karena kesholehannya. Baru kutahu bahwa dia adalah santri di pondok pesantren dekat rumahku. Yang artinya dia adalah seorang penghafal Al-Qur’an. Kekagumanku terhadapnya bertahan sampai sekarang aku berumur 17 tahun.
Pernah suatu malam di kala remaja masjid melakukan perkumpulan untuk membahas acara menyambut Ramadan, aku melihat dia sedang duduk dipojok sambil menghafal Al-Qur’an. Tidak usah kalian bayangkan, kalian tidak akan kuat. Pada saat itu, aku merenung sambil berdoa di dalam hati.
MasyaAllah, bukakan jalan Fatma supaya bisa seperti dia jadi penghafal Al-Qur’an Ya Allah…
***
Malam itu, aku terbangun dari tidurku untuk melaksanakan salat Tahajud. Akhir-akhir ini, Alhamdulillah, Allah selalu membangunkanku di tengah malam untuk pergi menemuinya, curhat, dan memohon ampunan. Setelah menyelesaikan 4 rekaat Tahajud, aku menengadah memohon ampunan dan menceritakan kepada Allah hal–hal yang patut ku syukuri selama ini.
Ya Allah maafkan segala dosa dosa kedua orang tua hamba, dosa kakak adik hamba, dan dosa dosa hamba Ya Allah. Terima kasih karena telah menghadirkan rasa kagum ku kepadanya Ya Allah, dia yang selama ini belum ku ketahui namanya. Mudahkanlah dia dan Fatma supaya bisa segera mengkhatamkan Al-Qur’an Ya Allah.
Begitulah doa yang selalu ku rapalkan, berharap kelak dapat terwujud jadi penghafal Al-Qur’an.
Sampai ketika aku lulus kuliah…
Aku sekarang sedang berdiri di atas podium kelulusan. Alhamdulillah gelar S.Ag. telah ku dapatkan. Dan alhamdulillah aku telah mengkhatamkan Al-Qur’an sejak kelulusan SMA. Akhirnya sedikit demi sedikit mimpiku telah menjadi nyata. Tentunya berkat rida Allah, doa dari kedua orang tuaku, dan juga usahaku.
“Alhamdulillah Fat, semoga setelah mendapatkan gelar ini kamu bisa lebih mensyi’arkan agama Islam dan selalu mendapat keberkahan dari Allah Swt.” Ucap bundaku.
“Aamiin Ya Rabb… Sehat selalu ya ayah, bunda. Mungkin dengan gelar ini aku belum bisa membalas segala kebaikan dan perjuangan ayah bunda mencari uang. Maafkan Fatma yang selalu merepotkan ayah bunda. Doakan fatma ya ayah bunda, semoga Fatma bisa keterima mengajar di Pondok Pesantren yang dari dulu Fatma inginkan.”
“Aamiin kak, diumur kakak yang ke 22 ini, gak ada apa cowok kampus yang kecantol sama kakak?”
“Ish ayah… apa-apaan sih!”
“Hahahaha”
Setelah kelulusan aku mendaftar pekerjaan untuk mengajar di Pondok Pesantren impianku dulu. Alhamdulillah aku keterima bekerja disana. Setelah 2 tahun aku menjadi guru disana, tiba-tiba ayah menghubungiku untuk segera pulang.
“Assalaamu’alaikum, Fatma.”
“Wa’alaikumussalaam, ayah. Ada apa ini, yah? Kan tadi barusan video call-an sama bunda.”
“Begini Fat, kalau Ahad besok kamu bisa pulang tidak? Ada hal penting yang harus ayah sampaikan.”
“Sepertinya bisa ayah, anak-anak sedang pulang ke kampung halaman. Nanti Fatma izin ke kepala pondok.”
“Alhamdulillah… terima kasih ya, nak. Kalau sudah sampai stasiun hubungi ayah, ya.”
“Iya, Ayah”
“Ya sudah, silahkan lanjutkan aktivitasmu, ayah tutup dulu ya, Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalaam.”
Ada apa ya, tumben ayah ingin mengatakan hal serius kepadaku. Biasanya saja jika di telefon ayah selalu mengeluarkan humor recehnya. Apa kabar kamu yang ada di sana? Ku harap kamu juga sudah mendapatkan mimpi-mimpi kamu.
Setibanya aku di stasiun Semarang, aku menghubungi ayahku. Beliau segera menjemputku dan mengajakku ke suatu butik.
“Kita kok ke Butik sih, Yah? Emang siapa yang mau nikah? Kak Faisal ya?”
“Begini Fat, kemarin saat sebelum ayah menelponmu untuk menyuruhmu pulang, ada seorang laki-laki yang berniat untuk melamarmu. Malam ini dia akan datang ke rumah kita.”
“Ya Rabbi… Namanya siapa, yah? Ayah kenal sama beliau?”
“Namanya Agam Dzikrullah. Ayah kenal kok sama dia, dulu kan dia remaja Masjid Al Hidayah.”
Aku berusaha mengingat apakah ada yang namanya Agam Dzikrullah? Setahuku tidak ada. Malam pun datang, aku gugup. Siapakah laki-laki yang akan melamarku ini? Ya Rabbi… ku serahkan semua kepada-Mu. Engkau adalah sebaik-baiknya perencana. Ku genggam tangan bundaku menuju ruang tamu.
Pada saat itu juga, aku meneteskan air mata. Ternyata dialah, orang yang selama ini aku kagumi, aku simpan baik namanya di sepertiga malamku. Dialah seseorang yang mengatakan, “Saya ingin melamar putri bapak”. Lima kata yang dapat membuat kaum Hawa terenyuh dan menitikan air mata. Dengan kemantapan hati, kujawab.
“Bismillahhirrohmaanirroohiim… insyaallah Fatma terima.”
Begitulah memori cintaku bersamanya. Seseorang yang sejak saat itu juga mengagumiku dalam diam dan selalu kusebut di dalam doa tanpa ku ketahui namanya. Seseorang yang Allah kirimkan untuk jadi imam dalam sholatku dan bahtera rumah tanggaku. Dialah penyempurna separuh imanku.
Nama saya Alya Andini Chrismana Putri, kerap disapa Alya. Lahir di Kota Semarang, 17 April 2003 dan sekarang sedang mengenyam studi di UIN Salatiga. Hobi saya menulis dan mendengarkan lagu santai sambil baca buku di pojok perpustakaan. Bisa juga mengunjungi dan menghubungi di akun media sosial saya Instagram: @alyaandinii_ Facebook: Alya Andini.
