Pengasuhan Berkesadaran: Pilihan Pola Asuh Minim Stres
Banyaknya ilmu parenting yang beredar di masyarakat kerap kali membuat orang tua bingung dalam menentukan jenis pola asuh pada anak. Seperti para ibu milenial yang menjadikan media sosial sebagai tempat mencari ilmu-ilmu baru dalam mengasuh anak, akibatnya media sosial menjadi tolak ukur penerapan pola asuh yang tepat.
Ya, banyaknya masyarakat yang menggunakan media sosial sebagai tempat berbagi aktivitas bersama anak dan berbagi informasi seputar ilmu parenting, tak jarang membuat para pengguna media sosial khususnya para ibu kebingungan untuk memilih pola asuh yang tepat sesuai dengan kebutuhan anak. Secara tidak langsung, informasi di media sosial seakan menjadi intervensi baru dalam keberhasilan mendidik anak.
Kemudahan mengakses ilmu parenting, terkadang tidak semudah menghadapi perilaku negatif anak. Orang tua pun harus bijak menghadapinya agar tidak memberi luka inner child. Yehudis Smith, M.S.Ed seorang consious parenting coach memberikan pemahaman tentang pola asuh yang memberi perhatian pada kondisi emosional dan psikologis orang tua sebelum menanggapi perilaku anak. Oleh karena itu, pengasuhan berkesadaran dapat menjadi pilihan pola asuh yang tepat. Karena orang tua dapat menerapkan untuk meminimalisir parenting stress.
Menurut Yehudis Smith, M.S.Ed, terdapat lima langkah praktis dalam menerapkan pengasuhan berkesadaran, sebagai berikut:
Mencari Ketenangan di Tengah Suasana Panas
Perilaku negatif anak sering kali membuat ibu tersulut emosi marah. Dalam pengasuhan berkesadaran, saat kita menghadapi situasi. Hal yang harus kita lakukan ialah segera mengambil jeda dengan menjauh dari anak, berhitung sampai 10, dan tarik nafas yang dalam.
Lakukan teknik-teknik tersebut secara berulang sampai pikiran kita kembali jernih. Selanjutnya, cipatakan kesadaran bahwa bukan ibu yang mempunyai masalah melainkan sang anak, ia membutuhkan kehadiran ibu untuk memahami alasannya berperilaku demikian.
Pahami Perilaku Anak
Anak yang memperlihatkan perilaku negatif dan menantang, bukan berarti ia anak yang nakal. Sebab dibalik perilaku anak, terdapat pesan yang disampaikan pada orang tua. Justru akan berbahaya jika anak selalu bersikap manis serta selalu menuruti keinginan orang tuanya, karena anak yang berperilaku menyusahkan adalah cara mereka belajar.
Ketika orang tua memahami bahwa masih banyak hal yang harus anak pelajari, maka ibu dapat bersikap lebih sabar dan penuh pengertian. Dalam pengasuhan berkesadaran, penting bagi orang tua mencari tahu penyebab dari perilaku negatif anak. Karena dibalik perilaku negatif itulah terdapat kebutuhan yang harus dipenuhi.
Bangun Rasa Aman
Saat anak sedang dalam kondisi tidak aman dan terancam, maka anak akan merespon dengan dua cara, yaitu melawan dan menghindar. Anak yang berusia balita cenderung melawan dengan melakukan tindakan fisik seperti memukul, menendang, melempar, mencubit. Sebab itulah respon alami balita yang masih memiliki keterbatasan berkomunikasi.
Sedangkan respon menghindar cenderung dilakukan anak yang lebih besar atau remaja dengan menutup diri. Dalam pengasuhan berkesadaran, tugas orang tua ialah memastikan anak merasa aman secara fisik dan emosional saat berada pada kondisi terancam. Jika orang tua terbawa arus emosi saat menghadapi perilaku anak tersebut, maka kembalilah pada langkah pertama dengan menerapkan beberapa teknik meredakan emosi.
Membangun Hubungan Emosional dengan Anak
Salah satu penyebab umum kenakalan anak adalah kerenganggan hubungan emosional antara anak dan orang tua. Dalam pengasuhan berkesadaran, kunci dari membangun hubungan emosional dengan anak adalah orang tua harus memenuhi tangki cinta anak dengan selalu menunjukkan kasih sayang dengan tulus. Anak yang mendapatkan kasih sayang orang tua akan merasa aman ketika berada dalam kondisi sulit. Sehingga anak tidak segan-segan meminta bantuan orang tuanya.
Selain itu, pengasuhan berkesadaran juga memberi perhatian pada sisi emosional orang tua saat mendapati perilaku negatif anak. Dengan memastikan terlebih dahulu kondisi emosional kita dalam keadaan stabil dan dapat berpikir jernih. Sehingga kita dapat merespon kondisi anak dengan penuh empati.
Memecahkan Persoalan Bersama-sama
Orang tua sering kali menganggap anak harus terus-terusan memenuhi tanggung jawab dan ekspektasi orang dewasa. Padahal di usia anak dan remaja mereka memiliki segudang tugas perkembangan yang juga harus mereka penuhi. Apabila terlalu banyak tugas, membuat mereka sering kali lupa mengerjakan beberapa tanggung jawab yang berakibat timbulnya perilaku negatif. Dalam pengasuhan berkesadaran, orang tua dituntut untuk menurunkan ekspektasi terhadap anaknya. Serta memahami bahwa anak memerlukan peran orang tua untuk membantu dan mendukungnya.
Bagi anak balita yang masih memiliki keterbatasan berkomunikasi, orang tua dapat terlibat langsung dalam membuat perencanaan pemecahan masalah. Seperti, membuat jadwal/bagan visual perilaku baik apa saja yang harus anak lakukan, karena dengan melihat bagan anak lebih mudah mengingat.
Sedangkan bagi remaja, orang tua dapat menawarkan beberapa solusi dan memberi kesempatan anak untuk memilih solusi yang tepat menurutnya. Dengan melibatkan anak dalam memecahkan persoalan, anak akan lebih bertanggung jawab terhadap diri sendiri.
Editor : Fadhil Azhar Permana
Ibu rumah tangga magister bimbingan dan konseling. @raodhatul.jannah (Instagram) Raodhatul Jannah (Facebook).
