f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
toleransi

Reformasi Toleransi Toxic Parenting

Mula-mula kita harus menyadari, bahwa keluarga adalah suatu sistem terdekat dengan anak. Daripada lingkungan sekolah, masyarakat, selingkung pertemanan, keluarga adalah hal yang lebih erat domain interaksinya. Meski di beberapa keluarga mungkin orang tua sibuk dengan kerja, tetapi secara psikis rumah adalah tempat berpulang. Anak adalah amanah dari Tuhan dan setiap pengemban amanah harus menjalankan dengan semangat tanggung jawab. Di titik inilah persoalan mulai mengemuka biasanya. Tidak jarang orang tua abai terhadap pola pengasuhan anak. Kalau pun tidak abai cenderung menerapkan pola pengasuhan yang kurang ideal—untuk menghindari lema keliru.

Setiap orang tua memiliki corak berbeda dalam menerapkan pola pengasuhan anak. Adalah sebuah kemajemukan di mana setiap orang memang punya rias yang tak seirama. Poin pentingnya tidak lain adanya semangat universal para orang tua, yang di kemudian hari malah menjadi alibi. Semangat tersebut yang berada di kepala setiap orang tua, yakni berharap anaknya menjadi pribadi yang baik. Naifnya, justru tidak sedikit yang mengabaikan bagaimana pola pengasuhan anak yang baik. Dengan bahasa yang berbeda, setiap orang tua berhasrat anaknya menjadi baik, tetapi kurang mengerti bagaimana pola pengasuhan yang baik. Kita bisa mengatakan ada semacam kontradiksi di situ.

***

Di saat yang bersamaan pula, relasi antara orang tua dan anak masih tumpang tindih. Ada anggapan bahwa orang tua adalah makhluk yang setiap gerak geriknya sakral dan anak satu setrip di bawahnya. Dalam poin ini saya tidak hendak berkonfrontasi dengan para orang tua dan merduksi kemuliaan mereka. Inti yang hendak saya kemukakan, bahwa orang tua selayaknya tidak kita letakkan pada taraf sakral dan terlarang untuk kita berikan saran serta masukan.

Baca Juga  Peran Perempuan dalam Kemanusiaan dan Toleransi

Orang tua yang terbuka akan memahami sikap ini dengan meletakkan diri tidak sebagai makhluk yang kebal masukan dan saran—utamanya saran dari anak. Satu hal penting yang harus orang tua pahami bahwa anak punya kebebasan independen untuk mengemukakan pendapat (baca; kemauannya). Dan ketika pendapat itu terkemukakan, orang tua secara rendah hati harus mendengar lantas menimbang bersama-sama.

Dengan relasi semacam itu, tidak ada keputusan sepihak. Segala keputusan pada akhirnya diwujudkan dengan bersama-sama. Jika di kemudian hari terdapat risiko, maka harus menjadi tanggungan bersama juga. Hemat saya, hal semacam itu adalah relasi yang ideal antara orang tua dan anak. Keduanya terletak di taraf yang setara, namun bukan berarti anak tidak harus hormat kepada orang tua. Patut saya perjelas, terkait etiket selayaknya anak kepada orang tua (seperti sopan santun dan semacamnya) harus tetap kita langgengkan. Relasi setara ini terletak pada konteks pengambilan keputusan yang melibatkan anak serta orang tua.

Reformasi Makna Toleransi

Awalnya toleransi selalu berkaitan dengan kebebasan, sebelum akhirnya beberapa dekade terakhir, makna toleransi mengalami semacam reduksi. Saya pikir, hari ini asumsi toleransi kerap berkaitan dengan agama dan seluruh tetek bengeknya. Dalam arti yang lebih spesifik, ia sering muncul ketika membincang ihwal agama, lebih-lebih terorisme. Di luar itu, penggunaan lema toleransi sudah mulai jarang atau dalam taraf minim. Atas tesis dasar seperti itulah, saya hendak mereformasi makna toleransi serta mencoba memberikan penawaran. Meski tidak baru, yang terpenting adalah makna toleransi tidak hanya dimonopoli oleh kaitannya dengan problem agama.

Di ranah keluarga, hal pertama ketika memberi doktrin (baca; mengajarkan) toleransi kepada anak adalah dengan mempraktikkan toleransi itu sendiri. Dengan cara apa orang tua utamanya melakukan usaha praksis dari toleransi itu (?), tidak lain hanya dengan cara memberi kebebasan. Di tengah sudah saya singgung, orang tua dan anak harus berada dalam relasi yang setara. Dengan relasi setara ini implementasi terkait toleransi kemungkinan akan tercapai dan tak sukar. Orang tua akan tercegah dengan sendirinya ketika hendak mengganjal kebebasan anak—dalam arti kebebasan yang bersifat positif—dan pilihannya. Di beberapa kasus, kebebasan anak terenggut atas dasar karena orang tua dianggap lebih memahami.

Baca Juga  Pendidikan Kesetaraan Gender pada Anak dalam Keluarga

Tidak cukup sampai di situ, bahkan tak jarang orang tua yang menentukan ke mana anak harus diarahkan beserta masa depannya. Alih-alih mengawasi perkembangan anak, orang tua malah menjadi pemegang tali kendali yang mengebiri potensi anak itu sendiri. Contoh konkrit orang tua yang menentukan sekolah anak bahkan jurusan dan minat yang harus dikembangkan, dengan mengabaikan potensi dalam dirinya. Di posisi itu tak jarang anak dalam keadaan terpaksa menempuh studi musabab merasa tidak sesuai dengan keinginan dan potensi yang mereka miliki. Sebagian orang tua akan menyanggah dengan mangatakan “tidak seluruh orang tua berbuat demikian.”

***

Contoh di situ memang saya akui hanya kasuistik atau bahkan tidak sampai sepuluh persen. Di luar contoh itu masih banyak kasus serupa yang pada hakikatnya mengebiri kebebasan anak. Untuk itu, posisi toleransi di sini dan penunjuk maknanya (dalalah) tidak hanya mengarah pada pengajaran agar anak memberi kebebasan kepada kelompok beragama lain. Lebih dari itu, orang tua yang menjadi pioner dalam langkah implementasi toleransi itu sendiri dengan tidak mengekang kebebasan anak serta mengebiri potensi yang tertanam. Sedangkan alibi (orang tua selalu tahu yang terbaik bagi anak) adalah hal negatif yang semestinya terhapuskan secara bersama.

Konklusi dramatiknya, pola pengasuhan tak ideal (toxic parenting) bisa teratasi dengan reformasi makna toleransi itu dan meletakkan relasi orang tua-anak dengan setara. Tidak adanya tumpang tindih antara dua elemen keluarga tersebut adalah bentuk dari toleransi itu sendiri. Artinya, pengajaran toleransi hanya bisa kita mulai dengan menerapkan toleransi itu di ruang yang sempit, dalam konteks ini keluarga. Sebelum akhirnya menengok keluar dan anak mengimplementasikan toleransi dalam kaitannya dengan orang lain. Yakni, relasi antara anak dengan ruang yang lebih luas; masyarakat, hubungan pertemanan, bahkan lintas iman sekalipun.

Bagikan
Post a Comment