f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
huda

Huda Sya’rawi: Feminis yang Mengguncang Mesir di Akhir Abad 19 (1)

Semakin hari Huda Sya’rawi semakin ‘menggila’ dengan ide-ide feminisnya. Hidupnya kini laksana burung yang berhasil lepas dari sangkarnya, harem…

Huda Sya’rawi ialah tokoh feminis kelahiran Minya-Mesir pada 1879. Ia merupakan putri pertama Muhammad Sultan Pasha, salah seorang  yang menempati jabatan penting setelah Inggris berhasil menduduki Mesir. Menjadi putri seorang pejabat tinggi tak lantas membawa pengaruh banyak terhadap kehidupan pribadi Huda. Ia tetap saja menjadi seorang putri yang terpenjara “kemuliaan” di balik tirai-tirai harem.

Sebagaimana yang tersebar dalam beberapa literatur bahwa di timur tengah terutama golongan bangsawan. Perempuan selalu mendapat perlakuan berbeda dari laki-laki, sangat terbatasi pergaulannya, bahkan mereka mempunyai bilik khusus untuk sesama perempuan yang bernama harem.

Sebagai putri dari keluarga kelas atas, Huda tidak menempuh pendidikan di sekolah formal tetapi guru privat yang akan datang ke rumah untuk mengajarinya dan sang adik. Di samping itu, Huda juga belajar piano, kaligrafi, bahasa prancis dan syair puisi turki. Bisa belajar banyak hal untuk pengembangan diri termasuk kesempatan langka bagi Huda sebagai “perempuan” di tengah kultur sosial masyarakat kala itu.

Hanya saja kondisi keluarga masih sangat kental dengan nuansa kebudayaan yang  cenderung men-subordinasi perempuan, sehingga tidak memungkinkan Huda untuk bereksplorasi lebih jauh. Ia bahkan sempat mengutuk diri sendiri karena “berjenis kelamin perempuan” yang menjadikannya terbatas dalam banyak hal.

***

Adik laki-laki Huda bernama Umar Sultan,  yang selalu mendapat perlakuan istimewa oleh keluarganya. Banyak hal yang bisa Umar lakukan namun tabu dan tidak mendapat ijin untuk Huda lakukan sebagai perempuan. Seperti tidak boleh belajar berkuda dan mendalami beberapa disiplin ilmu. Suatu kali Huda pernah meminta seekor kuda sebagaimana sang adik. Namun permintaan itu ditolak dengan alasan bahwa kuda tak lazim untuk dinaiki oleh perempuan.

Baca Juga  Saudah binti Zam’ah; Ummul Mukminin yang Humoris

Saat menginjak usia 10 tahun, Huda telah menghafal hampir sebagian isi Al-Qur’an namun tidak satupun yang ia pahami makna dari ayat Al-Qur’an tersebut. Hingga ia mulai merasakan kejenuhan, lantas meminta agar ia diajarkan mengenai grammar dalam bahasa Arab. Lagi-lagi permintaan itu keluarganya tolak dengan alasan klasiknya, anak perempuan tidak boleh belajar bahasa Arab. Sejak hari itu, Huda terkesan abai terhadap studinya.

Kehidupan Pernikahan

Selain karena tradisi, menempatkan perempuan sebagai bagian dari laki-laki, alasan lain bagi keluarga Huda Sya’rawi untuk lebih mengungguli laki-laki dibandingkan perempuan ialah karena laki-laki yang nantinya akan meneruskan marga keluarga. Sedang perempuan akan masuk dalam marga keluarga suaminya. Dan benar saja, nama belakang “Sya’rawi” ternyata ia peroleh dari nama belakang suaminya, Ali Sya’rawi. Keluarganya mengatur rencana pernikahannya di umur yang relatif masih muda yakni 13 tahun. Rencana pernikahan tersebut sangat mengagetkan Huda.

Bagaimana tidak, calon yang akan dijodohkan dengannya itu adalah sepupunya sendiri yang telah beristri dan memiliki tiga anak. Umurnya pun terpaut 40 tahun lebih tua dari umur Huda. Kondisi tersebut tentu membuat Huda menolak mentah-mentah rencana pernikahannya. Namun ibunya mencoba merundingkan jalan tengah dengan pihak calon suaminya sehingga berhasil memperoleh perjanjian pra nikah agar Ali Sya’rawi terlebih dahulu menceraikan istrinya.

Satu tahun menjalani kehidupan pernikahan, akhirnya Huda memilih untuk berpisah karena suaminya kembali lagi pada mantan istrinya. Perpisahan itu menjadi awal mula kiprah Huda yang lebih bebas karena statusnya kini seorang janda. Memanfaatkan momentum tersebut Huda mulai bergeriliya menemui beberapa teman perempuannya yang sefrekuensi dengannya dalam ide-ide kesetaraan. Eugenie Le Brun adalah salah seorang yang ia temui, perempuan asal Prancis yang menikah dengan seorang lelaki Mesir.

Baca Juga  Perempuan dalam Tawanan Tradisi Timur dan Budaya Barat, Harus Bagaimana?

***

Le Brun banyak menulis tentang kultur sosial masyarakat Mesir kala itu. Saat senggang Huda Sya’rawi sering mengunjungi Le Brun untuk berdiskusi terkait kondisi perempuan di tengah dominasi kultur patriarki.  Pertemuannya dengan perempuan asal Prancis tersebut telah merubah banyak hal dalam  hidupnya dan memberikan suntikan spirit bagi Huda dalam memperjuangkan hak-hak perempuan.

Statusnya sebagai janda hanya berlangsung selama 7 tahun sampai akhirnya pihak keluarga mendesak agar ia kembali pada suaminya di tahun 1900. Setelah bersatu dengan suaminya Ali Sya’rawi, Huda memperoleh dua orang anak, seorang putri bernama Buthaina (1903) dan putra bernama Muhammad (1905). Putri kecilnya Buthaina sering mengalami sakit sampai hampir kehilangan nyawa.  Ia tenggelam dalam kesibukan merawat anak dan mengurus rumah tangga.

Untuk beberapa saat ia terkunci dalam ruang domestik sampai-sampai ia kehilangan kontak dengan teman-temannya. Dalam memoarnya Huda Sya’rawi mendeskripsikan hal itu sebagai situasi yang menghalanginya dari kebebasannya. Sekian banyak normasosial telah memagarinya dari dunia luar yang lebih luas dan bebas. Tak menunggu terlalu lama, ia kembali terlibat dalam aktivitas-aktivitas yang ia rindukan setelah anak-anaknya membaik dan mulai bisa ia tinggal.

Bersambung ke bagian dua…

Bagikan
Post a Comment