Orang Tua Mengatasi Anak Speech Delay, Ini Tipsnya
Semua orang tua ingin memiliki anak yang cerdas. Oleh karena itu sebagian orang yang saya kenal cenderung memilih menikah dengan orang dari suku bahasa dan budaya berbeda. Mereka percaya anak yang lahir dari lingkungan dwi bahasa atau lebih, dapat mempengaruhi kecerdasan anak mereka kelak. Seperti penjelasan di website alodokter.com anak yang terlahir di lingkungan dwibahasa memiliki kecerdasan yang tinggi, kompetensi sosial dan kemampuan berkomunikasi yang optimal.
Kita ingin punya anak yang cepat menguasai banyak bahasa. Siapa yang tidak ingin anaknya cerdas dan mudah memiliki bahasa baru. Jika setiap orang tua konsisten dengan pola asuhnya, maka setiap anak bisa dengan cepat menangkap bahasa baru.
Banyak penelitian yang menyatakan bahwa lingkungan dwi bahasa atau lebih mempengaruhi kecerdasan anak, akan tetapi kerancuan bahasa juga bisa terjadi. Kerancuan bahasa menyebabkan speech delay. Bila terjadi inkonsistensi dalam pola asuh malah akan membuatnya lambat bicara. Inkonsisternsi tersebutlah yang membuat anak bingung, “Mau memakai bahasa yang mana ya kalau bicara dengan orang tuaku?”
Dalam jurnal penelitian 2019 “Speech and Language Delay in Children: Prevalence and Risk Factors” karya Trisha Sunderajan dan Sujata V. Kanhere menyebutkan bahwa ada dua prevalensi penyebab terjadinya speech delay terhadap anak. Kelompok pertama, karena faktor secara medis, sedangkan faktor lainnya karena adanya dampak psiko-sosial sang anak.
Faktor secara medis yang mereka temui antara lain karena asfeksia lahir, gangguan kejang, deformasitas oro-farming. Sedangkan faktor secara psiko-sosial antara lain karena Pendidikan orang tua, kekerabatan, riwayat keluarga, lingkungan multi bahasa, dan stimulasi yang tidak memadai.
***
Saya ingin berbagi pengalaman. Ketika diskusi dengan seorang responden AG (27 tahun) tinggal di Kota Jember mengeluhkan anak pertamanya yang belum lancar berbicara. Sudah menginjak usaia tiga tahun lebih tetapi belum fasih melafalkan kata. AG hendak ikut kursus speech delay. Setelah lama berbincang, saya menyampaikan beberapa referensi salah satunya kerancuan bahasa. Sudah sejatinya kemampuan otak anak, menyimpan data semua bahasa. Di lingkungan AG, keluarganya menggunakan dwi bahasa. AG dan suami berbahasa Indonesia sedangkan kakek-nenek anak itu menggunakan Bahasa Jawa.
Anak AG sendiri suka memutar youtube berbahasa Inggris. Setelah saling memberi masukan, mereka bersepakat dan mencoba untuk terapi sendiri oleh AG kepada anaknya.
Pertama dengan menerapkan satu bahasa dulu ketika berkomunikasi dengan anak. Kedua, youtube yang mereka putar adalah lagu dan video kesenangan yang berbahasa Indonesia. Ketiga, mengkomunikasikan kepada orang tua bahwa baiknya juga menggunakan Bahasa Indonesia terlebih dahulu, setelah mulai ada perkembangan boleh menggunakan Bahasa Jawa.
***
Kisah lainnya yakni BD (30 tahun) tinggal di Kota Bondowoso mengeluhkan anaknya divonis kerabat atau tetangga sebagai gejala autisme tanpa observasi dokter maupun psikolog lebih lanjut. Ketika berdiskusi, mereka kemudian menemukan titik temunya. Sebagaimana jurnal yang disebutkan sebelumnya, vonis dari kerabat mempengaruhi perlakuan orang tua kepada anaknya. Bahkan biasanya orang tua dapat mengurangi stimulasi berbicara karena sudah drop. Namun BD dan keluarga tidak patah arang.
Poin pertama yang mereka temui adalah adanya inkonsistensi bahasa ketika menonton youtube. Kedua, tentang stimulasi psikomorik dan narasi cerita kepada anak. Ketiga, orang tua masih menggunakan multi bahasa dalam kegiatan sehari-hari anak namun dalam porsi kecil. BD sepakat dengan keluarga akan menerapkan satu bahasa utama. Bila di luar, anak menggunakan bahasa Indonesia saja sedangkan Ayah dan bunda menggunakan Bahasa Indonesia dan menyelipkan Bahasa Arab sebagai bahasa kedua ketika bermain di rumah.
***
Adapun upaya mengurangi resiko speech delay yang bisa orang lakukan sesegera mungkin selain dengan menggunakan satu bahasa konsisten untuk anak, ada beberapa trik terapi lainnya. Melansir artikel di alodokter.com ada lima hal yang bisa orang lakukan.
Ikuti semua ucapannya
Apa saja yang bisa terdengar dari suara yang anak ucapkan, orang tua baiknya mengulangi meskipun suara yang tidak jelas. Dengan begitu, anak merasa sedang berbicara dengan orang tuanya.
Berbicara Sambil Bergerak
Seperti memberi perintah sederhana atau ajakan, kita perlu bergerak atau menunjuk tempat yang perlu anak tuju. Hal ini merangsang anak minimal mengatakan “ayo” untuk simbol mengajak ke suatu tempat. Belajar mengenal anggota tubuh, juga penting sambil berbicara.
Biasakan membuat Narasi
Kegiatan yang seakan bercerita penting merangsang kosa kata anak. Semisal yang pernah saya terapkan, “Ayo mandi dulu! Nanti harum, terus kita jalan-jalan.” Saya juga terkadang menceritakan kisah sahabat nabi, ketika anak mau tidur bahkan kadang membacakan buku meskipun ia tidak mengerti apa yang saya ceritakan.
Bermain bersama-bersama
Seperti yang pernah menjadi pembahasan sebelumnya, pada artikel berjudul “Bermain dengan Anak adalah Ibadah”, menunjukkan betapa pentingnya bermain dengan anak. Mengajaknya bermain, memenuhi kebutuhan psikomotoriknya dengan bermain peran atau saat membayangkan sesuatu. Misalnya ketika bermain perosotan, orang mengumpamakan seperti mobil yang meluncur atau bermain jungkat-jungkit dan seakan anak terbang seperti pesawat.
Puji Perkembangannya
Memuji perkembangan anak kita adalah suatu penghargaan bagi anak. Mereka akan menganggap dirinya bisa. Pada umumnya, bayi belajar berbicara dari reaksi orang-orang di sekitarnya. Meminta tolong dan berterimakasih, memuji anak ketika mereka menurut, memberi kenyamanan saat ia menangis kesakitan “kamu tidak apa-apa, kamu kuat” dan sebagainya. Ini adalah bentuk pujian yang berharga bagi anak. Bahkan kita yang pernah jadi anak pasti suka ketika mendapat pujian oleh orang tuanya ketika masih kecil dulu.
Kesimpulan dari pembahasan ini adalah speech delay bisa terpengaruh oleh kerancuan bahasa. Dengan memusatkan satu bahasa saja sementara waktu kepada anak, mungkin akan membantu anak menjadi lebih fokus menata kosa kata yang ingin dia ucapkan kepada kedua orang tuanya. Memuji, bermain dengan anak, merangsang psikomotorik dan kemampuan verbalnya juga butuh demi kelancaran berbicara anak. Wallahu a’alam.
Editor : Siti Robikah

Guru ngaji. Tinggal di Bondowoso. Aktif menulis fiksi dan nonfiksi.
IG: mustofa_psikologi

Rahayu
Alhamdulillah bermanfaat bagi orang tua baru☺️😊
Mustofa
Terima kasih tanggapannya. Tetap support ya
Kang Marbot
Sangat bermanfaat sekali, karena ada juga dalam beberapa kasus seorang anak dianggap ‘bodoh’. Ketika sangat lambat dalam belajar baca dan tulis huruf latin, tapi sebaliknya lebih dulu bisa melafalkan huruf 2 Hijaiyah (yang kedua malah diabaikan, padahal seharusnya dijadikan pertimbangan bagi orang tua dan gurunya di sekolah).
Mustofa
Iya, sangat setuju dengan pernyataannya
Galmas
Wah, terimakasih Mas Mustofa sudah memberikan new insight yang sangat bermanfaat.
Mustofa
Okey. Ini juga mengingatkan saya kedepannya.
Tantrie Leonita
Wah, artikel yang sangat bermanfaat nih, Mas Mustofa. Ilmu baru dan solusinya. Sejatinya, untuk menciptakan anak yang hebat dibentuk oleh orang tua yang smart dengan memahami tumbuh-kembangnya.