Anak Adalah Tanggung Jawab Orang Tua, Bukan (Hanya) Ibunya
“Al-Ummu Madrasatul Ula”, sebuah penggalan syair Hafiz Ibrahim, seorang penyair ternama. Kalimat yang kerap kita dengar sebagai upaya dalam menggambarkan betapa peran ibu sangat berpengaruh terhadap proses pengasuhan anaknya hingga dewasa kelak. “Al-Ummu Madrasatul Ula” bila kita ulas artinya menggunakan Bahasa Nusantara, maka dapat dimaknai bahwa Ibu merupakan sekolah pertama (bagi anak-anaknya). Oleh karenanya, tak jarang apabila banyak orang mengisyaratkan bahwa yang demikian tentu menunjukkan segala bentuk pendidikan seorang anak; maka harus ibu yang harus menyiapkannya.
***
Beberapa dari kita terlampau fokus terhadap subjek yang ada dalam kalimat tersebut; sehingga cenderung mengesampingkan dan melupakan peran ayah. Indonesia dengan pengaruh budaya patriarki yang sangat mendominasi menerjemakan kalimat demikian secara tekstual; sehingga kebutuhan apapun yang berhubungan dengan anak maka ibulah yang bertanggung jawab.
Hamil, melahirkan, menyusui, sampai segala urusan rumah sering dikaitkan erat dengan tugas utama seorang ibu. Sehingga pola pikir yang demikian justru membentuk praktek perilaku yang men-justify bahwa yang memiliki tanggung jawab penuh dalam memberikan pendidikan anak adalah juga seorang ibu.
Islam merupakan agama yang membawa spirit keadilan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam hal mengasuh anak. Tidak ada ketimpangan sekecil apapun yang dihadirkan dalam Islam. Bahwa dalam Islam tak ada pengkhususan tentang peran ibu yang lebih mendominasi dari pada ayah. Tetapi keduanya merupakan korporasi yang sama-sama memiliki peran penting dan saling berkolaborasi. Artinya, keduanya sama-sama memiliki tanggung jawab yang sama atas amanah yang telah diberikan oleh yang Maha Kuasa.
Bahkan dalam beberapa potongan ayat dalam al-Qur’an secara redaksional menyebutkan seorang ayah memiliki tanggung jawab besar; yakni kewajiban yang tidak hanya memenuhi kebutuhan fisik dan psikis, tetapi lebih dari pada itu ialah menjaga keluarga agar terhindar dari api neraka.
Mengutip dalam QS. At-tahrim ayat ke-6, yang berbunyi:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
Tanggung Jawab Ayah dan Ibu
Walaupun menurut Quraish Shihab sebenarnya ayat tersebut tidak ada pengkhususan terhadap tanggung jawab ayah atau ibunya saja; tetapi menilik ayat tersebut, sudah semestinya kita dapat memahami bahwa pendidikan serta segala bentuk pengajaran dan nilai-nilai kebaikan yang diterima oleh anak harus dimulai dari lingkungan keluarga yang tentu saja aktor utamanya adalah ayah dan ibunya. Keselerasan peran ayah dan ibu merupakan kunci dalam mengejawantahkan makna perintah Allah dalam memelihara keluarga.
Oleh karena itu, tugas orangtua terhadap anak setidaknya dapat memberikan penanaman agama secara mapan. Seperti yang diungkapkan oleh Nurcholis Madjid (2010: 92); bahwa penamaman agama bukanlah sebatas hanya menanamkan pengetahuan agama yang kemudian orientasinya hanya praktek ritual-ritual belaka, tetapi lebih jauh lagi bahwa dengan menanamkan pendidikan agama kepada anak berarti orang tua telah mengantarkan kepada kepribadian yang berbudi luhur.
Namun realitas menggambarkan sebaliknya, seringkali kita dihadapkan dengan tradisi adanya pengklasifikasian dalam hal peran ibu dan ayah. Bahwa tugas ayah adalah mutlak pada ranah pencarian nafkah dan pemenuhan kebutuhan yang bersifat material. Sehingga peran sentral ayah dalam memberikan segala perhatian, kasih sayang, serta pendidikan seringkali enggan diutamakan.
Tanggung jawab seorang ayah senantiasa hanya dihubungkan sebagai tulang punggung menjadi salah satu alasan minimnya keterlibatan ayah ikut serta berperan penting dalam perkembangan anak. Sedangkan ibu bertanggung jawab terhadap tugas domestik yang juga berarti bertanggung jawab dalam mengasuh, mendidik dan memenuhi segala kebutuhan kasih sayang anak. Fenomena yang demikian masih menguat dan tumbuh subur di berbagai lapisan masyarakat.
Kisah Teladan Ayah dalam Al-Qur’an
Padahal, jika saja yang kita gunakan sebagai rujukan adalah al-Qur’an dan al-Hadits; maka barang tentu dengan sadar seorang ayah dan ibu semestinya akan memfungsikan dirinya secara selaras dalam hubungan berkeluarga. Ada banyak tokoh “ayah” yang disebutkan di dalam al-Qur’an yang sejatinya apabila ditelaah lebih dalam, hal ini menunjukkan bahwa seorang anak merupakan amanah kedua orang tuanya, bukan saja hanya ibunya.
Sebut saja Nabi Ibrahim misalnya, dikisahkan dalam al-Qur’an bahwa Nabi Ibrahim ialah seorang ayah yang sangat peduli terhadap tumbuh kembang anaknya. Beliau merupakan sosok yang teramat penyayang, beliau memanggil anaknya dengan panggilan kesayangan “Ya Bunayya”. Nabi Ibrahim merupakan seorang ayah yang sangat demokratis, senantiasa berdialog dan mendengarkan pendapat anaknya. Bahkan saat datang perintah untuk menyembelih anaknya, Ibrahim tetap meminta argument putranya, tanpa ada unsur memaksa dengan dalih perintah agama.
Selain itu, disebutkan juga dalam surat Yusuf. Sebuah kisah yang mengulas dan menggambarkan interaksi seorang ayah yaitu Nabi Ya’qub dengan anaknya, Nabi Yusuf. Tentang bagaimana seorang ayah dapat bersedia hadir dan menjadi pendengar yang baik bagi anaknya. Ya’qub juga senantiasa menjadi solusi atas segala kegelisahan yang tengah dihadapi oleh sang anak.
Dan masih banyak lagi kisah “ayah” yang diceritakan dalam al-Qur’an sebagai perwujudan pentingnya keikutsertaan seluruh ayah di muka bumi ini dalam mendidik anak-anaknya. Keterlibatan ayah secara langsung dapat memberikan kontribusi besar dalam perkembangan anak, baik perkembangan dari sisi kognitif, afektif, emosional, sosial, dan spiritualnya.
****
Mendidik dan mengasuh anak memang bukan pekerjaan yang mudah, sehingga dibutuhkan kerjasama yang baik dari kedua belah pihak. Good Fathering harus mampu merefleksikan keterlibatan positifnya dalam praktek yang nyata. Sehingga ayah dan ibu sama-sama saling memiliki partisipasi aktif dalam membersamai anak-anaknya, terutama dalam mendidik, mengasuh dan memberikan pendidikan. Dengan demikian, ibu bukan lagi menjadi satu-satunya madrasah pertama bagi anak, melainkan yang tidak kalah penting juga ialah seorang ayah.
Asal Kota Balikpapan. Saat ini sedang belajar di Pasca Sarjana UMM.
