f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
Kak Ros

Orang Tua Toxic, Apa Nggak Malu Sama Kak Ros?

Ada yang tidak tahu Kak Ros? Sepertinya hampir semua orang di berbagai belahan bumi tahu sosok kakak perempuan si kembar Upin dan Ipin yang judes dan galak itu. Teriakan Kak Ros yang khas dan melengking mampu menghentikan kenakalan adik kembarnya. Bukan nakal gimana-gimana sih, hanya sebatas nakalnya anak-anak.

Kak Ros memang pemarah dan hobi ngomelin adiknya layaknya emak-emak, walaupun usia Kak Ros masih terhitung belasan tahun.Teriakan Kak Ros kepada si kembar kadang dibarengi “bonus” jeweran ataupun pukulan. Toxic-kah dia? Hmm saya pikir tidak.

Jewer, dan pukul dianggap sebagai tindakan yang nggak asyik banget di masa model parenting yang lebih menekankan pada positive behaviour daripada physical punishment. Padahal semua tindakan itu bisa berguna jika dilakukan di waktu dan tempat yang tepat, dan diniatkan untuk mengajarkan disiplin dan ketegasan, bukan sebagai pelampiasan emosi, apalagi menyakiti.

Bentuk menyakiti anak juga bisa dikategorikan verbal dan nonverbal (fisik). Nonverbal atau fisik lebih mudah ditandai misalnya jika ada memar atau luka akibat kekerasan. Sedangkan verbal menurut psikolog Ratih Ibrahim, bisa berupa: menghina, memaki, mengancam, mengintimidasi, labelling, menakuti, dan lain-lain

Kisah Toxic di Kehidupan

Kawan saya, sebut saja namanya Aya (24 th), adalah tulang punggung keluarga yang harus membantu penghidupan orang tuanya yang dikatakan sering menyakitinya secara verbal sedari ia masih kecil. Ibu Aya adalah seorang mantan sultanah masa orba yang jatuh miskin, dikejar utang karena lebih mengutamakan gaya daripada kebutuhan.

 “Aku yang ngelahirin kamu!”, “Kamu sekolah pake uangku!”, “Dasar anak tak tau diuntung!”, “Anak durhaka!” adalah sebagian dari makian dan negaive labeling yang disematkan kepada anaknya sendiri. Aya pun mengaku sering didera rasa cemas, rendah diri dan merasa tidak berguna, namun tak berdaya dengan status sebagai anak yang semestinya berbakti.

Baca Juga  Perlunya Edukasi untuk Kesiapan Memiliki Anak

Tak hanya lisan, ungkapan-ungkapan toxic dari orang tua atau yang dituakan saat ini juga disampaikan melalui tulisan. Tulisan toxic itu biasanya diposting di status HP, story instagram, FB, ataupun cuitan twitter. Tujuannya apalagi kalo nggak buat nyindir si anak.

Jadi ingat, baru-baru ini Raul, suami kedua diva pop Krisdayanti berseteru dengan anak sambungnya Aurel dan Azriel baik melalui laman Instagram maupun podcast milik Dedy Corbuzier.  Salah satu statement dia di story instagram menyebutkan,”Saya selalu mengajarkan anak-anak saya untuk hormat kepada yang lebih tua. Kalau ada anak yang tidak hormat bukankah kegagalan orang tua itu sendiri?”

Sepertinya saya perlu bertanya ke Raul definisi mengajar itu apa? Apakah pemberitahuan (materi atau nasihat), terus anak-anak yang dapat menghapal akan mendapat reward gitu?. Pernyataan Raul terdengar menggelikan. Pertama, bagimana bisa ada orang menuntut dihormati tapi caranya nyindir, bukannya lebih baik anak diajak berkomunikasi. Kedua, anak yang nggak hormat adalah bentuk kegagalan orang tua. Lalu, siapa yang sebenarnya gagal?

Orang Tua Toxic, Racun bagi Anak

Orang tua toxic umumnya tidak sadar jika mereka adalah racun bagi anak-anak mereka. Dalih “Semua kami lakukan karena rasa sayang” jelas nggak bisa diterima akal. Bagaimana bentuk sayang tetapi akibatnya bikin anak masuk rumah sakit jiwa bahkan ada yang sampai hilang nyawa. Di sisi lain, kalaupun akhirnya sadar, beberapa dari mereka masih bisa berkelit dengan alasan beban hidup sebagai orang tua terlalu berat. Harus cari nafkah, mengurus rumah, dan juga masih harus mendidik anak, semuanya harus dilakukan secara simultan. Jadi sah-sah saja dong?

Hmm…Pak, Bu, cobalah liat Kak Ros. Di usia yang harusnya lagi asyik-asyiknya hunting dengan teman, nge-mall dan tik tok-an, dia harus mencari nafkah dengan menjual nasi lemak di warung uncle Muthu. Dia juga sekaligus membantu neneknya dalam hal urusan rumah, seperti menyiapkan ayam goring untuk adik-adiknya. Itupun masih ditambah “lembur” harus jagain adiknya yang suka ngilang karena keasyikan bermain. Kurang apa coba?

Baca Juga  Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini

Jadi bisa diketahui ya jika Kak Ros tiba-tiba “mengaum” karena Upin Ipin tidak mau membereskan mainannya. Atau jewer si kembar  setelah ketahuan main di sungai. Tapi apakah teriakan Kak Ros berupa makian atau menyelipkan labeling adiknya sebagai anak tak tau diuntung? Anak durhaka?. Tidak bukan?

Lalu, kenapa mesti dijewer? Gini deh. Kita sudah kasih tahu ke anak kalau sungai itu bahaya karena tiba-tiba bisa banjir. Udah gitu si anak juga sudah tahu kalau gak bisa renang. Ninggalin rumah tanpa ijin, melebihi jam yang disepakati, lupa makan, lupa ibadah.

Pelajaran dari Kak Ros

Walaupun sekilas “kejam” Kak Ros sering juga ngasih reward kepada kedua adiknya jika kedua adiknya sudah melakukan perbuatan baik. Biasanya Kak Ros membelikan sesuatu yang diinginkan si kembar, membuatkan makanan kesukaan, bahkan sekadar pujian dan pelukan hangat untuk adik-adiknya. Semacam reinforcement terhadap sikap positif, sebagai motivasi supaya adiknya mengulangi perbuatan baik itu lagi.

Tak heran, walaupun punya kakak yang judes dan galak, Upin Ipin tidak memiliki dendam atau kebencian kepada kakaknya. “Kita sayaaang akak!” celetuk mereka.

Dari Kak Ros yang terpaksa jadi orang tua di usia belia, kita bisa belajar tetap berusaha seimbang saat beban tak terelakkan. Keras dan tegas adalah dua hal berbeda. Tegas bisa saja keras tapi keras belum tentu tegas. 

Kalau ada sanggahan, Ah itu kan cuma cerita fiktif, bukan cerita sebenarnya?!

Meman, namun lebih baik yang nggak nyata tapi bisa diambil manfaatnya, dari pada nyata tetapi justru sebaliknya.

Nggak malu taa ?

Bagikan
Post tags:
Post a Comment