Mubādalah: Kunci Sukses Pengasuhan Anak
Mubādalah atau kesalingan menjadi pilihan paling logis dalam membangun hubungan keluarga yang seimbang, harmonis, dan adil menurut pandangan Islam. Mubādalah mendorong kesetaraan perempuan dan laki-laki di mata hukum, termasuk hak dan kewajiban yang sama di ruang publik. Konsep ini tidak hanya berlaku untuk suami istri saja, tetapi juga berlaku dalam pola pengasuhan anak oleh orang tua.
Kedua orang tua baik ibu dan ayah memiliki peran yang sama dalam mendidik dan mengasuh anak. Ketika anak membutuhkan pendidikan agama, maka suami dan istri bekerja sama mendidik anak tentang etika dan nilai-nilai Islam. Hal ini sesuai konsep Mubādalah yang mengedepankan kerja sama suami dan istri dalam pengasuhan anak.
Mengingat pentingnya peran kedua orang tua maka sosok suami dan istri perlu memperhatikan pola asuh anak dengan saksama. Sebab, Jangan sampai anak tumbuh dengan pola asuh yang merendahkan gender tertentu . Pemilihan pola pengasuhan tanpa kesetaraan gender dapat membentuk perilaku tidak adil pada anak di kemudian hari.
Penerapan Mubādalah dalam Pengasuhan Anak
Penerapan konsep Mubādalah dalam pola pengasuhan anak melibatkan kerja sama antara ayah dan ibu dalam mengasuh anak. Tidak saling melimpahkan pekerjaan dan tanggung jawab pada satu sama lain. Mubādalah juga menekankan pentingnya berkomunikasi dan kolaborasi dalam pengambilan keputusan terkait anak. Ayah dan ibu berperan kunci mendampingi anak-anak dalam pendidikan formal mereka. Mereka perlu memantau perkembangan pendidikan anak-anak, membantu mereka dengan pekerjaan rumah, dan memberikan dorongan positif.
Kedua orang tua harus memberikan kesempatan kepada anak-anak mereka untuk bermain dan melakukan pekerjaan apa pun tanpa memandang apakah permainan atau pekerjaan tersebut hanya cocok untuk anak laki-laki atau perempuan saja. Mereka juga harus memberikan kesempatan dan tanggung jawab yang sama kepada anak laki-laki dan perempuan.
Dalam hal partisipasi, orang tua memberikan kesempatan yang sama kepada anak perempuan dan laki-laki untuk ikut serta dalam aktivitas di rumah, seperti dalam kegiatan berkebun, memasak, mengepel, mencuci baju, menjemur, melipat, dan menyetrika pakaian, orang tua dapat melibatkan baik anak laki-laki maupun perempuan tanpa membedakan pekerjaan berdasarkan jenis kelamin.
Dengan peran ayah dan ibu dalam menjalankan fungsinya dengan cara membagi peran dan pekerjaan baik yang bersifat publik, domestik, maupun sosial kemasyarakatan akan sangat membantu dalam proses penanaman mubādalah dalam keluarga.
Menghasilkan Generasi yang Seimbang
Pola asuh mubādalah dengan fondasi aspirasi, kemampuan, kebutuhan khusus dari masing-masing individu yang berbeda dalam suatu keluarga dapat mendorong tumbuhnya kesadaran kolektif antar anggota keluarga sehingga menguatkan fungsi-fungsi yang ada di dalam sistem keluarga. Dengan kata lain, pola asuh menjadi faktor penting dalam pengembangan potensi seorang anak. Oleh sebab itu, pemilihan pola asuh yang menjunjung tinggi kesetaraan gender, sedikit banyak akan mengurangi ketimpangan antara laki-laki dan perempuan.
Keluarga yang mubādalah menciptakan generasi yang memiliki dasar untuk menghormati hak-hak individu tanpa memandang jenis kelamin, mengambil tanggung jawab dengan seimbang, dan berkontribusi dalam masyarakat secara positif. Melalui proses kerja sama antara ayah dan ibu dalam mengasuh anak dapat menggambarkan penerapan konsep mubādalah dalam pola pengasuhan anak. Tidak saling melimpahkan pekerjaan dan tanggung jawab pada satu sama lain. Apabila peran keluarga sebagai unit terkecil dalam sebuah negara sudah berjalan dengan baik, maka akan tumbuh anak-anak yang nantinya menjadi manusia yang berkualitas dan dapat memberikan kemaslahatan bagi kemajuan masyarakat dan negara.
Editor : Rizky Hawari Nanda
Penulis : Afiqul Adib
Mahasiswa salah satu kampus Islami daerah Jogja. Dapat dihubungi lewat akun instagram @aduib07
