Ayah, Anakmu Butuh Berkomunikasi Denganmu
Beberapa hari lalu saya menuliskan mengenai orang tua dan anak yang terdapat dalam QS. Lukman:14. Bagaimana anak dapat bersyukur kepada Allah yang telah mengirimkan orang tua beserta kasih sayang keduanya.
Sebagaimana yang kita percayai bahwasanya tiap ayat Al-Qur’an memiliki i’tibar di dalamnya. Al-Qur’an sebagai Hudan Li Nas, pentingnya untuk membaca, memahami dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Abdul Karim Amrullah dalam pembukaan tafsirnya menuliskan:
“Al-Qur’an tidak hanya sekedar untuk dibaca saja, apalagi menjadi pajangan lemari tapi harus memahaminya serta memperdalam tiap-tiap ayatnya.”
Karena itu menarik untuk kita renungkan kembali sebuah kisah dialog antara anak dan ayah dalam surat Lukman ayat 13-19. Ayat ini berisikan nasehat bijak Lukman kepada anaknya.
Nasehat Luqman pada Anaknya
Di sini penulis hanya menyampaikan poin-poin nasehat Luqman kepada anaknya. Berikut nasehatnya:
- Ingatlah Allah dan jangan sampai melupakannya. (QS. Luqman: 13)
- Hormati kedua orang tuamu dan patuhlah dalam perbuatan kebajikan. (QS. Luqman: 14-15)
- Perbuatan baik ataupun buruk akan mendapatkan balasan. (QS. Luqman: 16)
- Sholatlah dan berbuat ma’ruf . (QS. Luqman: 17)
- Tinggalkan sifat angkuh dan sombong. (QS. Luqman: 18)
- Berbicaralah dengan suara yang lemah lembut. (QS. Luqman: 19)
Poin-poin di atas merupakan nasehat Luqman kepada anaknya. Mari kita memperdalam lebih jauh lagi sosok Luqman yang namanya tercatat dalam Al-Qur’an.
Pendapat Ahli Tafsir tentang Sosok Luqman
Imam Ath-Thabri dalam tafsirnya secara umum menggambarkan bahwa sosok Luqman ialah seseorang yang telah Allah berikan pemahaman agama, pikiran dan ucapan yang benar.
Dari banyak rujukan yang imam Thabari , ia menuliskan bahwa ada pendapat yang menyebutkan Luqman merupakan seorang nabi. Ada pula yang menyebutnya sebagai seorang hamba sahaya yang bekerja sebagai hakim. Dan juga menyebutkan Luqman merupakan laki-laki sholeh bukan Nabi.
Sedangkan Imam Al-Qurthubi dalam Tafsirnya mengatakan bahwa Luqman adalah laki-laki yang telah Allah berikan kebijaksanaan dalam dirinya. Betul secara akidah, fikih, agama dan logika.
Luqman bekerja sebagai qadhi pada masa Bani Isra’il. Ia memiliki ciri-ciri sebagai sosok yang berkulit hitam, cacat kaki dan kedua bibirnya tebal. Hal ini berdasarkan riwayat dari Ibnu Abbas.
Imam Asy-Syaukani menyebutkan bahwa Luqman di sini bernama lengkap Luqman bin Ba’ura bin Nahur bin Tarikh. Ada juga yang mengatakan nama lengkapnya Luqman bin Anqa bin Marwan berasal dari penduduk Ailah. Dan merupakan putra saudara perempuan Ayyub.
Masih dalam tafsir yang sama bahwa Luqman telah hidup selama seribu tahun. Sebelum Nabi Daud menjadi utusan ialah yang memberikan fatwa. Sedangkan hikmah yang telah Allah berikan pada Luqman adalah pemahaman, akal, dan ketepatan berbicara.
Secara ringkas Wahbah Az-Zuhaili menceritakan bahwa nama lengkap Luqman adalah Luqman bin Bau’ra. ia merupakan salah satu keturunan dari Azar dan putra saudara Ayyub.
Sosok berkulit hitam yang berasa dari daerah Naubah (Nubia). Ia hidup sampai masa Nabi Dawud a.s. Allah telah memberikannya anugerah kepadanya akal, kecerdasan, ilmu dan kata-kata yang bijak.
Lebih lanjut, Az-Zuhaili mencantumkan kata-kata bijak Luqman, seperti: “Diam itu bijak, namun hanya segelintir orang yang melakukannya.”
Dalam sebuah kesempatan, ada seseorang yang bertanya kepada Luqman. “Siapakah manusia yang paling buruk?” ia menjawab, “orang yang abai jika orang-orang melihatnya berkelakuan buruk.”
Relasi Hubungan antara Ayah dan Anak
Dalam studi kasus yang Firdanianty lakukan di sebuah SMA di Bogor menyimpulkan masih terbatasnya komunikasi antara anak dan ayah. Bahkan biasanya yang kita lihat bahwa anak lebih sering berkomunikasi dengan ibunya dan temannya.
Nasehat Luqman kepada anaknya sebagai contoh bahwa tidak hanya ibu yang mengambil peran penting dalam komunikasi anak. Seharusnya baik ayah dan ibu sama-sama berdialog dengan anaknya.
Terjalinnya komunikasi antara ayah dan anak secara mendasar berpengaruh terhadap kecerdasan emosional anak dan menjadikannya tumbuh sebagai seorang dewasa yang berhasil.
Sisi positif lainnya jika terjalinnya komunikasi yang baik antara anak dan orang tua anak menjadi lebih terbuka. Seorang anak memiliki kesempatan untuk menceritakan aktivitas hariannya, menuangkan pikiran dan perasaannya.
Tetapi sebaliknya yang apabila buruknya komunikasi yang terjalin dengan orang tua. Seorang anak yang terabaikan komunikasinya cenderung mendapatkan dampak buruk.
Dampak buruk yang terjadi seperti anak tidak memiliki ikatan emosional pada orang tuanya, kehilangan nilai-nilai yang ada dalam keluarga, dan tidak dapat berkomunikasi baik dengan temannya.
Oleh karena itu, Al-Qur’an yang hadir dengan memberikan contoh komunikasi antara ayah dan anak. Pesan tersiratnya ialah bahwa dalam pola komunikasi kepada anak, tidak hanya ibu yang hadir dalam komunikasi anaknya. Karena sejatinya, ayah dan ibu perlu menjalani komunikasi kepada anak-anaknya.
Terjalinnya komunikasi yang baik antara kedua orang tua dan anaknya akan menanamkan nilai-nilai positif kepada anaknya dan jika tidak anak akan lebih dominan jatuh pada nilai-nilai negatif yang tertanam dalam dirinya.
Lalu ayah, kamu akan memilih yang mana?
Institusi: Uin Sunan Kalijaga
Pekerjaan: Mahasiswa
Minat Kajian: Tafsir dan Gender
