f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
grandparenting

Menyelaraskan Pola Pengasuhan Grandparenting

Dalam budaya Timur Tengah, banyak sekali keluarga yang hidup dan tumbuh dalam lingkungan keluarga besar dalam satu rumah. Tinggal bersama kakek, nenek, paman, bibi, dan saudara-saudara yang lainnya. Jika tinggal bersama kakek dan nenek, tentunya ini membuat cara pengasuhan yang berbeda. Ust Khoirudin Bashori atau biasa disapa dengan panggilan Pak Irud memberi saran pola pengasuhan seperti ini, atau biasa disebut dengan pola pengasuhan grandparenting. Disebut pola pengasuhan grandparenting adalah karena kakek dan nenek terlibat di dalamnya.

Pak Irud menuturkan bahwa tumbuh dalam keluarga besar itu ada plus minus nya. Tentunya anak dan cucu lebih berkesempatan mengenal banyak karakter dan sosialisasi akan lebih bagus.

Namun, minusnya jika di dalam keluarga besar itu tidak punya norma-norma yang menjadi kesepakatan bersama. Atau tidak punya cara pendidikan yang disepakati, itu yang sering membingungkan antara mana yang boleh mana yang tidak. Mana yang harus anak lakukan dan mana yang harus anak tinggalkan.

Lebih lanjut, Pak Irud menyampaikan ada tiga tipe pola pengasuhan dalam grandparenting, yaitu:

1.  Companionate Grandparenting. Yaitu kakek dan nenek berperan menjadi rekan atau sahabat bagi cucunya. Meski tidak satu rumah dan hanya bertemu beberapa kali dalam sebulan, tapi jika komunikasi lancar, ini bisa menjadikan kakek dan nenek sebagai sahabat bagi cucunya.

2. Remote Grandparenting. Yaitu Pola hubungan yang formal, karena faktor jarang bertemu dan pola hubungannya yang formal. Dan ini membuat hubungan antara kakek nenek dan cucuknya pun menjadi formal.

3. Involve Grandparenting. Yaitu Keterlibatan total kakek dan nenek. Bisa dipicu oleh berbagai faktor, salah satunya adalah karena satu rumah. Di posisi seperti ini kehadiran kakek dan nenek betul-betul dapat terlibat seperti orang tua. Semisal menjadi tempat bercerita bagi cucu-cucunya.

Baca Juga  Mengajarkan Kegagalan pada Anak sebagai Sarana Memperkokoh Keimanan
Kisah Nabi dengan Cucunya, Hasan dan Husein

Lalu Pak Irud menceritakan keterlibatan Nabi dalam mengasuh cucu-cucunya, yaitu Hasan dan Husein. Dulu nabi sangat dekat dengan cucu-cucunya. Ada banyak hadits juga yang mengisahkan bagaimana saat nabi sedang berkhutbah, lalu cucunya, Hasan dan Husein datang.

Kemudian mereka terjatuh atau terpeleset di dekat mimbar nabi. Dan yang nabi lakukan adalah menghentikan khutbahnya lalu membantu cucunya berdiri. Kemudian nabi melanjutkan kembali khutbahnya.

Ada kisah lainnya, yaitu saat nabi salat isya berjamaah dengan sahabat dengan mengajak Hasan dan Husein. peristiwa itu terjadi saat nabi sedang sujud. Ketika nabi sujud, Hasan dan Husein naik ke punggungnya nabi.

Dan yang nabi lakukan adalah membiarkan cucunya berlama-lama naik di punggungnya, padahal saat itu nabi sedang jadi imam. Ini membuat para sahabat yang menjadi jama’ahnya bertanya-tanya, apa yang nabi lakukan sehingga sujudnya lama sekali.

Dan saat setelah salat sahabat bertanya kepada nabi, kenapa sujudnya lama sekali. Lalu nabi menjawab bahwa cucunya menaiki punggungnya, nabi khawatir cucunya belum puas bermainnya sehingga nabi tidak tergesa-gesa bangun dari sujudnya. Ini merupakan sebuah bukti bahwa nabi merupakan role model yang baik bagi cucunya.

Cara Menyelaraskan Pola Asuh Grandparenting dengan Pola Asuh Orang Tua

Pak Irud menyampaikan lebih lanjut cara agar grandparenting selaras dengan pola pengasuhan orang tua nya sendiri.

Permasalahannya adalah jika keduanya dekat. Dekat di sini maksudnya adalah dekat orang tua nya sendiri dan juga dekat dengan kakek neneknya. Ini membuat sang anak menjadi bingung.

Maka intinya yaitu menjadikannya selaras. Dan peran yang lebih positif dari grandparenting itu adalah kakek nenek. karena mereka lebih memiliki family history untuk dikomunikasikan. Jadi, kakek dan nenek menceritakan sejarah keluarganya yang memiliki nilai-nilai positif, agar cucunya mengerti dan mengambil hal-hal positif yang harus diteladani dan dilanjutkan.

Baca Juga  Sikap yang Harus Dimiliki Pengantin Baru Pasca Menikah

Lalu, kakek dan nenek juga harus menyediakan waktu untuk berdua saja dengan cucunya. Bisa dengan mengobrol, berdiskusi, ataupun bermain. Ini membuat cucu menjadi lebih bisa mengungkapkan apa yang sedang ia pikirkan.

Yang paling bagus di antara itu semua adalah antara kakek nenek dan cucu memiliki kesamaan minat. kalau minat itu bertemu dan sama akan membuat interaksinya lebih seru dan lebih cair.

Dan perlu ditegaskan kembali bahwa pola seperti ini tidak boleh bertabrakan antara kakek nenek dengan orang tuanya. Kakek dan nenek harus mensuport aturan dari orang tuanya yang dia beri untuk cucunya.

Jika ada perbedaan, perbedaan itu harus diselesaikan dulu. Dan itu jangan di depan anak atau si cucu tersebut. karena jika berselisih atau berbeda di depan anak, ini akan membuat si anak menjadi bingung.

Grandparenting Paling Bagus adalah Saling Support

Dan grandparenting yang bagus adalah kakek nenek mensupport apa yang sudah menjadi rules dari orang tuanya. Karena tanggung jawab bagaimanapun ada pada orang tua. Dan orang tua sudah mempunyai pertimbangan-pertimbangan dengan rules yang sudah mereka siapkan.

Kakek dan nenek harus mengakomodasi apa yang sudah menjadi rules dari orang tuanya. Jangan sampai menganulir rules yang sudah dibuat orang tuanya. Ini akan membuat otoritas dari orang tua akan hilang.

Dan terakhir, Pak Irud mengajak para kakek dan nenek untuk menjadi role model tambahan bagi cucunya. Karena meski orang tua sudah menjadi role model bagi anaknya, ada beberapa perilaku dari orang tua yang belum cukup pantas untuk dijadikan contoh oleh anaknya. Maka peran kakek neneknya-lah yang dibutuhkan untuk mengambil alih sisi yang kurang dari orang tua tersebut. Supaya kemudian sang cucu menemukan model yang baik pada perilaku yang kurang tersebut.

Baca Juga  Langkah Integratif Wujudkan Hak Anak dalam Bersosial

Bagikan
Post a Comment