Parenting Islam: Menanamkan Sikap Malu Sejak Dini
Rasulullah Saw. pernah bersabda, yang penulis ambil dari kitab Shahih Bukhari
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسف قال أخبرنا مالك بْنُ أَنَسِ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ سَالِمِ بْن عَبْدِ اللهِ عَنْ أَبِيهِأَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ عَلى رَجُلٍ مِنْ الْأَنْصَارِ وَهُوَ يَعِظُ أَخَاهُ فِي الْحَيَاء فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعْهُ فَإِنَّ الْحَيَاءَ مِنْ الْإِيمَان
Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yusuf berkata, telah mengabarkan kepada kami Malik bin Anas dari Ibnu Syihab dari Salim bin Abdullah dari bapaknya, bahwa Rasulullah berjalan melewati seorang sahabat Anshar yang saat itu sedang memberi pengarahan saudaranya tentang malu. Maka Rasulullah bersabda, “Tinggalkanlah dia, karena sesungguhnya malu adalah bagian dari iman”.
Hadis di atas diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab shahihnya no. 23 dan dalam Kitab Fathul Bari karya Ibnu Hajar Al-Asqalani no. 24. Hadits tersebut menjelelaskan tetang pentingnya sikap malu pada diri seseorang. Imam Ibnul Qoyyim ra. pernah berkata bahwasanya malu itu berasal dari kata “Hayya” yang artinya hidup. Artinya, ketika seseorang memiliki rasa malu, maka hal tersebut menunjukkan bahwa seorang itu hatinya hidup. Karena menurut Imam Ibnu Qoyyim, “Hati itu terbagi menjadi tiga, ada yang hidup, ada yang sakit dan ada yang mati”.
Pada dasarnya rasa malu itu sudah tertanam kuat sejak kecil di dalam diri seorang anak, karena sejatinya anak sendiri lahir dalam keadaan suci. Akan tetapi, setelah anak tumbuh besar, rasa malu tersebut dapat menguat atau menghilang tergantung pada pembiasaan yang kedua orang tua ataupun lingkungannya berikan. Oleh karena itu, hal yang perlu orang tua miliki yaitu kesadaran untuk sama-sama membentuk anak agar anak tersebut memiliki rasa malu sejak dini.
Allah Swt. memiliki nama Al-Hayiyyu yang artinya Maha Pemalu. Namun, sifat pemalu yang Allah miliki terhadap hambanya berbeda dengan sifat malu yang makhluknya miliki. Sesungguhnya sifat pemalu yang Allah miliki merupakan sifat malu yang menunjukkan kemuliaannya, kebaikannya, kemurahannya dan keagungan yang Ia miliki. Allah malu terhadap hamba-Nya yang berdoa dengan mengangkat kedua tangannya kepada-Nya kemudian kembali dengan keadaan tangan kosong. Selain itu, karena kemurahan-Nya, Allah merasa malu untuk membuka aib dan menimpakan siksaan kepada hambanya di dunia. Bahkan Allah menutupi aib hamba-Nya serta memaafkan dan mengampuni dosa hamba tersebut.
Allah saja memiliki sifat malu pada hamba-Nya, maka dari itu kita sebagai makhluk mestinya juga harus memiliki sifat malu. Sifat malu ini harus ditanamkan sejak dini agar dapat menjadi kebisaan untuk ke depannya. Maksud dari sifat malu pada pembahasan ini bukanlah malu dalam artian tidak percaya diri ataupun malu ketika bertemu dengan orang banyak. Namun, sikap malu yang dimaksud di sini adalah malu kepada Allah. Sikap malu yang seharusnya diajarkan kepada anak-anak yaitu malu kepada Allah ketika berbuat maksiat sedangkan ada malaikat yang diutus oleh Allah untuk mencatat semua amal kita baik amal yang baik maupun amal yang buruk. Tak lupa juga malu kepada Allah yang selama ini telah memberikan banyak nikmat kepada kita. Namun ternyata nikmat tersebut digunakan untuk bermaksiat kepada Allah.
Semua berawal dari kebiasaan dan contoh dari orang tua dan bisa dimulai dari kegiatan yang sepele sekalipun. Berikut ini beberapa cara dalam menanamkan rasa malu pada jiwa anak-anak kita:
1. Menanamkan rasa malu kepada Allah terlebih dahulu sebelum kepada manusia.
Rasa malu kepada Allah seperti rasa selalu diawasi Allah dalam setiap perilaku akan menjadi perisai dari perbuatan maksiat, meski tidak ada orang lain yang melihatnya. Jangan sampai mereka menjadi seperti orang-orang munafik yang dibenci Allah dalam Al-Qur’an, “Mereka bersembunyi karena malu dari manusia, akan tetapi mereka tidak bersembunyi karena malu dari Allah” (QS. An-Nisā’: 108).
2. Orang tua harus bisa memberi contoh terlebih dahulu dalam menjaga rasa malu.
Hal ini dapat dilakukan dalam contoh yang sederhana sekalipun, seperti:
a. Menutup aurat, dalam hal ini orang tua diharapkan menjelaskan kepada anak tentang batasan-batasan aurat mereka, dan tak lupa juga untuk mencontohkannya. Sebagai contoh: Sang ibu juga harus memakai hijab saat keluar rumah.
b. Toilet training, anak dilatih untuk tetap menjaga privasinya dengan membiasakannya menutup pintu saat ke kamar mandi.
3. Mengingatkan dan menegur anak-anak saat membuka aurat.
Hal ini harus dibiasakan pada anak dalam usia sedini mungkin agar mereka mudah terbiasa ke depannya dengan menegur dan mengingatkan anak ketika membuka aurat utamanya (kemaluan) meskipun di dalam rumah, terutama di hadapan saudara atau orang tuanya yang berlawanan jenis atau bahkan memakai baju yang kurang sopan saat bermain bersama temannya di luar rumah. Hal ini dapat dilakukan baik di dunia nyata maupun dunia maya.
4. Mengawasi anak dari tontonan yang dilihat.
Menjaga anak dari pemandangan dan tontonan yang tidak mencerminkan rasa malu dan tidak sopan, seperti tayangan yang mengumbar aurat, atau bahkan yang berbau pornografi.
5. Mengajarkan kepada anak tentang adab bergaul dengan lawan jenis.
Adab bergaul dengan lawan jenis seperti: 1. Menutup aurat; 2. Dilarang berduaan; 3. Menundukkan pandangan; 4. Tidak menyentuh; 5. Tetap menjaga etika dan kesopanan
6. Menceritakan kepada anak-anak kisah-kisah yang menteladankan sikap malu
Seperti kisah Sayyidatina Aisyah ra. dimana ketika hanya jenazah Rasulullah Saw. dan Abu Bakar ra. yang dimakamkan di rumahnya, ‘Aisyah terbiasa tak memakai hijab di rumah. Namun ketika ‘Umar bin Khattab juga dimakamkan di samping suami dan ayahnya, ia mulai mengenakan hijab dan merapatkan kerudungnya. Ketika ditanya kenapa, ‘Aisyah menjawab, “Ia (‘Umar) adalah lelaki ajnabi (bukan mahram)”.
Atau seperti kisah putri Nabi, Fathimah Ra. di mana ketika beliau sakit sebelum wafatnya, beliau menyampaikan kegelisahannya kepada Asma’, “Demi Allah, aku sangat malu jika besok aku mati, tubuhku akan terpapar di hadapan para lelaki, di atas keranda mayat”. Lalu Asma’ membuatkan keranda kayu model Habasyah yang menyerupai kotak panjang, sehingga mayat yang diletakkan di atasnya tidak terlihat. Melihat kotak kayu itu, Fathimah pun berdoa, “Semoga Allah menutupi dosamu, sebagaimana usahamu menutupi diriku”.
