f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
pendidikan karakter

Membangun Pendidikan Karakter Sejak Pengasuhan Anak

Seruan penguatan pendidikan karakter oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), bermaksud sebagai “usaha sadar dan terencana untuk menanamkan nilai-nilai karakter kepada peserta didik yang mencakup pengetahuan, kesadaran atau kemauan, serta tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut.”

Memahami pendidikan karakter tidak cukup berpacu pada ranah kurikuler sekolah semata, melainkan dengan menyeluruh dan sistemik. Misalnya saja merujuk pada acuan dan pedoman lintas kelembagaan. Contohnya pedoman pengasuhan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), pendidikan keagamaan dari Kementrian Agama, dan lainnya; yang berperan penting menunjang penguatan pendidikan karakter anak.

Pola pengasuhan yang responsif, konsisten, dan berbasis nilai akan membentuk fondasi karakter anak yang hebat. Karenanya, pendekatan pendidikan karakter sejatinya berakar dari proses pengasuhan yang telah dimulai sejak dini.

Menurut panduan dalam laman elearning.kemenppa.go.id, pengasuhan sebaiknya sudah terupaya sejak anak dalam kandungan. Ikatan emosional Ayah dan Ibu dengan janin melalui sentuhan, kata-kata, dan suasana rumah yang aman dapat menjadi awal pembentukan karakter. Setelah lahir, anak menyerap nilai dan perilaku dari orang tua dan lingkungannya, khususnya keluarga. Maka keluarga, sebagai institusi sosial terkecil, justru menjadi lingkungan pertama dan berpengaruh besar bagi pembentukan nilai, kebiasaan, dan karakter anak.

Orang Tua sebagai Pihak Pertama

Sebagai lingkungan pertama anak ketika lahir, orang tua bukan hanya menyediakan kebutuhan fisik seperti makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Tetapi juga menjadi sumber utama membangun kebiasaan berbasis nilai dan perilaku positif. Relavansinya dengan pendidikan karakter, orang tua memiliki peran untuk menanamkan kebiasaan dan nilai-nilai tersebut. Seperti kejujuran, disiplin, empati, dan tanggung jawab melalui keteladanan dan interaksi sehari-hari.

Meski di tengah tuntutan ekonomi dan pengembangan diri, sangat penting bagi Ayah dan Ibu untuk tetap merefleksikan keterlibatan aktif dalam pengasuhan. Pola asuh yang penuh perhatian dan partisipatif membantu anak membangun kepercayaan diri, terampil bersosial, dan kontrol diri yang baik. Ini adalah fondasi karakter yang harus kita bangun dari kebiasaan dirumah.

Baca Juga  Menggunakan Kacamata yang Tepat dalam Mendampingi Perkembangan Anak

Kita juga perlu memahami hak-hak anak dalam pengasuhan. Hak-hak yang mencakup kebutuhan dasar (kesehatan, kasih sayang, perlindungan), kebutuhan pengembangan (pendidikan, rekreasi, partisipasi), dan hak sipil (identitas hukum). Dalam konteks penguatan karakter, jika hak tersebut dipenuhi dalam pengasuhan, maka anak dapat tumbuh secara utuh. Fisik, emosional, maupun sosial.

Guna mendukung peran orang tua yang reflektif dan menyeluruh, maka perlu juga dukungan program parenting secara berkala. Kehadiran komunitas belajar keluarga secara masif, dan ruang atau forum konsultasi pengasuhan dari lintas elektoral yang dekat, terjangkau dan terakses. Sebab kolaborasi antara sekolah, pemerintah, LSM, dan keluarga akan memperkuat ekosistem pendidikan karakter yang berkelanjutan.

Membangun Partisipasi Anak

Salah satu prinsip penting dalam perlindungan dan pendidikan karakter anak yaitu partisipasi. KemenPPPA mendefinisikan partisipasi anak sebagai keterlibatan anak dalam pengambilan keputusan mengenai hal-hal yang memengaruhi kehidupannya, yang dilakukan secara sadar dan sukarela. Hal ini merupakan cara efektif membentuk karakter tanggung jawab, percaya diri, dan mandiri.

Kalau di lingkungan sekolah, partisipasi anak dapat terlihat dari kegiatan seperti pemilihan ketua kelas, musyawarah kelas, hingga forum anak sekolah. Maka dirumah, partisipasi bisa dalam bentuk memilih menu makanan, memilih buku bacaan, dan membangun kesepakatan untuk sebuah pilihan. Proses ini mengajarkan bahwa suara anak dihargai dan keputusan adalah hasil diskusi atau dialoh, bukan semata untuk keterpenuhan keinginan orang tua..

Dari subjektif dan pengalaman penulis, memerhatikan hak partisipasi anak juga memengaruhi sikap anak untuk bertanggung jawab atas pilihannya. Sehingga anak lebih disiplin, dan memiliki empati yang tinggi. Anak juga tumbuh menjadi pribadi yang lebih terbuka dan komunikatif dalam menyampaikan gagasan.

Mendorong partisipasi anak tidak hanya membentuk karakter, tetapi juga menciptakan relasi yang sehat antara anak dan orang tua. Ini sejalan dengan hak partisipasi anak dalam Konvensi Hak Anak yang telah diratifikasi Indonesia dan dituangkan dalam berbagai kebijakan nasional.

Baca Juga  Cuti Ayah dan Upaya Pengasuhan Anak yang Lebih Seimbang
Sekolah Memasifkan Forum Wali Siswa

Sekolah sebagai mitra keluarga tentu punya peran strategis dalam menyinergikan standar pengasuhan orang tua dengan pendidikan karakter. Salah satu langkah yang efektif adalah dengan mengaktifkan forum wali siswa secara berkala dan substantif. Forum ini dapat menjadi ruang komunikasi antara guru dan orang tua untuk merefleksikan perkembangan karakter anak.

Beberapa sekolah telah mengembangkan model kolaboratif berbasis forum tersebut, di mana wali kelas menjadi fasilitator diskusi, bukan hanya pemberi informasi. Hasilnya, orang tua merasa lebih dilibatkan dan dihargai dalam proses pendidikan anak. Anak-anak pun merasakan sesuai antara nilai yang mereka pelajari di sekolah dan rumah.

Dengan memaksimalkan forum wali siswa, sekolah dapat memperkuat jejaring sosial pendukung pendidikan karakter. Kemudian, forum ini juga bisa menjadi ruang berbagi praktik baik antar orang tua dan membangun komunitas pengasuhan yang saling menguatkan.

Aktivitas dalam Pengasuhan yang Membangun Karakter

Pengasuhan sehari-hari adalah ruang utama pembentukan karakter anak. Aktivitas sederhana seperti makan bersama, bercerita sebelum tidur, atau membaca buku bersama dapat menjadi momen pendidikan karakter.

Nilai tanggung jawab dapat kita bangun melalui ajakan merapikan mainan atau membantu merapihkan kamar tidur. Empati dan toleransi bisa tumbuh saat anak kita ajak berdialog tentang berbagai jenis ekspresi dan perasaan. Semua itu adalah pengalaman konkret yang membentuk nilai.

KemenPPPA menekankan pentingnya aktivitas pengasuhan yang inklusif, non-diskriminatif, dan sesuai tahap perkembangan anak. Dalam sepuluh paradigma pengasuhan anak, lima komponen utamanya adalah Ayah, makanan, kasih sayang, Kesehatan, dan Ibu. Empat komponen selanjutnya tempat tinggal, keamanan, pendapatan, nenek. Tiga selanjutnya keluarga, rekreasi, kakek. Dua komponen berikutnya pendidikan dan pakaian. Sedang komponen yang terakhir adalah mainan. Maka sudah jelas, Ayah dan Ibu yang menjadi pilar pertama anak dalam pengasuhannya adalah dasar dari anak yang berkarakter.

Bagikan
Post a Comment