f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
parenting

Sekolah Parenting Mulu, Sekolah Calon Tetangga Juga Penting

Melihat orang-orang bersemangat mengikuti kelas-kelas atau kajian parenting; membuat saya semakin menyadari betapa para calon orang tua begitu menginginkan putra-putri mereka tumbuh dengan fisik, emosi, sosial, dan perkembangan kecerdasan dengan baik.

Tak jarang, buku-buku parenting dengan teori-teori yang konon manjur itu mereka beli guna pengasuhan si buah hati tercinta.

Iya, untuk anak, apa sih yang tidak mungkin kita usahakan?

Seharusnya saya berbahagia melihat orang-orang sibuk mencari bekal melalui internet; kelak akan tumbuh anak-anak dengan pondasi karakter yang santun. Nilai-nilai agamanya tumbuh dengan baik, perkembangan emosi, dan kecerdasannya membuat orang tua bangga. Amin.

***

Namun, realita itu berbeda. Semangat mereka malah semakin meyakinkan saya untuk tidak mengikuti akun-akun yang gembar-gembor memasang flyer, pamflet atau broadcast (BC) kelas atau kajian parenting. Bukannya saya tidak suka. Saya juga pernah mengikuti kelas ataupun kajian bertema parenting itu. Apalagi dulu ketika masih kuliah. Saya? Barisan paling depan.

Hari ini, ketika saya melihat flyer atau BC kelas berisi kajian dengan tema parenting rasa-rasanya ingin saya skip. “Menjadi Orang Tua Gaul dalam Membentuk Generasi Qurani, Peran Orang Tua dalam Mempersiapkan Generasi Milenial, Komunikasi Baik dan Menyenangkan dalam Mendidik Anak” dan judul-judul lain yang terpampang di sebuah flyer dengan senyum foto narasumber yang merekah. Beliau inilah yang akan mengajari kita untuk menjadi orang tua yang sukses dalam mendidik anak.

Dulu sekali, sepertinya nomor WA saya kena algoritma, ada salah satu admin kelas parenting menghubungi nomor saya ajakan bergabung di kelas tersebut—dengan syarat membayar biaya seikhlasnya. Katanya untuk infaq. Saya pun meng-iya-kannya.

Dengan kesadaran penuh bahwa Tuhan itu Maha Mendengar; karena pada saat itu saya ingin sekali mengikuti kelas yang konon katanya ada diskusi menarik antara peserta dan narasumber; bebas bercerita atau bertanya apa saja kaitannya dengan pola asuh anak. Siapa sih yang tidak mau menjadi ibu yang hebat dalam mendidik putra putrinya?

Baca Juga  Tips Parenting (6): Kreatif Menghadapi Anak

Semangat saya untuk mengikuti kajian-kajian tersebut sudah tidak seperti dulu, sudah tidak seperti teman-teman mahasiswa/i yang lain. Saya tidak bilang kalau belajar parenting itu buruk, tapi malah sebuah kebaikan bahkan anjuran. Memperdalam ilmu dengan cara berdiskusi bersama orang yang lebih berpengalaman, mendengar nasehat-nasehat baik dari guru, atau membaca tentang pola asuh anak. Apalagi saya yang fakir ilmu ini.

Saya juga percaya bahwa tidak semua pola asuh yang diterapkan oleh orangtua X, bisa diterapkan kepada orang lain. Tidak ada rumus pasti soal ini.

***

Belajar parenting melulu sampai lupa dengan kebutuhan yang tak kalah penting barangkali itu yang sedang terlintas di kepala saya. Rasa-rasanya saya ini egois sekali hanya memikirkan kebaikan bagaimana anak saya nantinya. Bagaimana saya bisa menjadi Ibu yang bisa dihormati tanpa ditakuti.

Pola asuh yang proporsional sesuai dengan harapan orang tua. Bahkan para orang tua di luar sana menginginkan pola asuh yang sama sehingga putra putri mereka bisa tumbuh dengan nilai-nilai yang santun. Oh tentu, tidak ketinggalan dengan kerlap-kerlip peradaban jaman.

Ketika orang-orang sibuk mencari bekal untuk anak dan dirinya, lalu bagaimana dengan posisi kita sebagai “tetangga”? Yang mempunyai peranan cukup signifikan dalam kehidupan bermasyarakat. Meskipun kamu mengaku kaum anti-sosial atau introvert, mau tidak mau kamu mempunyai peranan sebagai “tetangga.”

Peranan yang seperti apa? Peranan menjadi “tetangga yang baik”. Halah. “Di zaman sekarang mana ada orang baik? Baiknya cuma di depan, paling ya julid.” Bacanya tidak usah sambil manyun mengingat-ingat ghibahan tetangga di rewangan atau pengerahan tenaga di acara hajatan orang untuk membantu kerabat atau tetangga.

Sungguh, di kampung saya acara rewang bisa dikatakan sebagai salah satu sumber atau tempat untuk ghibah. Segala informasi bisa kita dapatkan seperti akun Lambe Turah. Saya tidak tahu, apakah di tempat lain sama seperti ini atau tidak.

Baca Juga  Reformasi Toleransi Toxic Parenting

Sebenarnya, ya masuk akal. Di rewangan orang-orang akan bertemu. Sangat masuk akal jika mereka saling bertukar kabar terbaru di kampung tersebut. Alih-alih membicarakan realita yang ada, padahal menjatuhkan orang lain.

***

Bahkan di kampung saya ada bebarapa orang yang ditakuti karena perkataan dari mereka yang tidak enak jika dirasakan. Saya tegaskan bahwa saya sedang ingin membicarakan orang lain, namun saya berkaca dari mereka; apakah saya sudah bisa menjadi baik versi saya sebagai tetangga?

Alasan inilah, yang membuat saya malas datang di rewangan. Bukannya saya sok suci tidak pernah nggibah, hanya saja saya tidak kuat mendengar orang-orang yang dengan mudah membicarakan keburukan orang lain. Telinga saya tidak cukup kuat mendengar si A membicarakan keluarga B karena masalah yang sedang di hadapinya. Bukankah diri kita paling tahu kapasitas kita ini sejauh mana?

Tidak perlu jauh-jauh, dulu ketika adek saya berada di fase di mana seharusnya bisa berjalan, tapi belum ada tanda-tanda untuk bisa melakukannya sendiri, banyak sekali omongan yang kurang enak didengarkan dari mereka yang saya sebut sebagai tetangga. Kurang gizi, orang tua tidak memperhatikan tumbuh kembang anak, dan beberapa omongan yang tidak sampai hati saya bisa menulisakannya di sini.

Tidak bisakah kepedulian itu dipenuhi dengan kalimat baik? Berempati tanpa mengurangi bentuk empati itu sendiri? Tidak bisakah menjadi tetangga yang baik? Peduli tanpa harus menyakiti.

Sampai hari ini, mari kita tarik ke belakang; apakah sudah bisa menjaga lisan tanpa harus menyakiti perasaan yang lain? Apakah sudah bisa menjadi tetangga yang ikut berbahagia saat orang lain juga  berbahagia? Dan apakah sudah bisa menjadi tetngga yang bisa berempati tanpa harus menyombongkan diri?

Baca Juga  Menggunakan Kacamata yang Tepat dalam Mendampingi Perkembangan Anak

Lewat tulisan saya usul kepada panitia atau komunitas-komunitas yang sering mengadakan diskusi parenting, mbok sesekali mengusung tema “Sekolah Parenting Mulu, Sekolah Calon Tetangga noh Juga Penting.” Belajar ilmu parenting ndakik-ndakik, namun tidak bisa menjadi tetangga yang baik, ya, untuk apa?

Bagikan
Comments
  • Siti Nurhidayah

    terinspirasi dengan tulisan tulisan kak syifa

    September 24, 2022
Post a Comment