Mewujudkan Anak sebagai Penerus Sujud Orang Tua
Tiga bulan terakhir ini, saya disibukkan anak saya yang pertama, mau masuk ke sebuah pesantren tahfid di Kudus. Karena masih masa pandemi, praktis mulai dari pendaftaran sampai tes ujian harus dilakukan secara online.
Semangat orang tua untuk memondokkan anaknya, tak menyurutkan langkah mereka meski keadaan masih belum sepenuhnya normal. Setelah beberapa persyaratan dan prosedur ujian masuk dilalui, Alhamdulillah anak saya dinyatakan lulus ujian tes masuk.
Setelah ujian selesai dan diumumkan oleh panitia, peserta ujian tes masuk yang telah dinyatakan lulus dibuatkanlah WAG oleh panitia; tentunya untuk mempermudah komunikasi dan koordinasi antara anak atau wali murid dengan pihak pesantren.
Melalui WAG komunikasi terbangun; mulai dari taaruf dari panitia dan masing-masing calon santri terjalinlah keakraban di antara anggota WAG walaupun hanya lewat dunia maya. Selain perkenalan dari pantia juga menyampaikan juga terkait hal-hal teknis dan peraturan-peraturan yang nanti berlaku ketika anak sudah di pesantren.
**
Suatu ketika, melalui WAG panitia menyampaikan pesan dari kyai pengasuh pesantren. Pesannya kyai pengasuh ingin membangun hubungan yang baik secara lahiriah dan batiniah serta spiritual; antara santri, wali santri dan pengasuh menjadi hubungan yang harmonis dan saling mendukung dalam mencari ilmu.
Dalam pesan tersebut, intinya pengasuh juga ingin mengajak agar wali santri senantiasa mendoakan anaknya dalam menuntut ilmu; supaya diberi keberkahan dan kemudahan dalam memahami apa yang diajarkan dalam menimba ilmu selama di pesantren.
Di antaranya pesan-pesan pengasuh pesantren sebagai berikut :
Pesan pertama, terdapat dalam Qs. Al Baqarah : 128; “Ya Tuhan kami, jadikanlah kami orang yang berserah diri kepada-Mu, dan anak cucu kami (juga) umat yang berserah diri kepada-Mu dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara melakukan ibadah (haji) kami, dan terimalah tobat kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.”
Dari ayat tersebut terkandung di dalamnya doa kita agar dijadikan sebagai muslim yang taat serta seluruh keturunan kita dan senantiasa memohon ampun kepada Allah Swt karena sesugguhnya Dia-lah yang Maha Penerima Tobat serta Penyayang bagi hamba-hamba-Nya.
Pesan yang kedua terdapat di Qs. Ibrahim : 40-41 40. “Ya Tuhanku, Jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, Ya Tuhan Kami, perkenankanlah doaku.” – “Ya Tuhan Kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)”.
Sebuah doa nabi Ibrahim kepada anak-nya agar kelak dijadikan orang yang senantiasa menegakkan shalat sampai kepada keturunannya; memohon ampunan kepada diri sendiri, orang tua serta orang-orang mukmin pada hari kiamat kelak.
Sebagai orang mukmin, khususnya yang sudah berkeluarga; tentunya mengharapkan keturunan yang senantiasa berpegang teguh pada ajaran agama islam terutama ajaran shalat, dan mendapat ampunan dari segala dosa pada hari kimat sehingga memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat.
*
Ketiga, terdapat dalam Qs. Al Furqan : 74; “Ya Rabb kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”
Kita senantiasa diajarkan untuk selalu memohon dan meminta kepada Allah Swt. untuk diberikan kepada kita, istri kita dan keturunan kita menjadi penentram hati dan jiwa bagi kita semua dan dijadikan sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa.
Ibnu Katsir berkata; “Mereka (hamba yang beriman) berdo’a kepada Allah agar mendapatkan keturunan yang taat kepada Allah dan menyembah Allah semata tidak berbuat syirik kepada-Nya.”
Masya Allah …Tafsiran yang sangat bagus. Yang orang beriman harap adalah mendapatkan keturunan yang rajin ibadah dan bertauhid kepada Allah, bukan keturunan yang berbuat syirik.
Yang terakhir keempat Qs. Al-Ahqaf : 15 “Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridai; dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sungguh, aku termasuk orang muslim.”
Lagi-lagi dalam ayat tersebut kita diminta untuk selalu dan selalu memohon untuk diri kita dan anak-anak kita; untuk selalu bersyukur atas segala nikmat yang sudah kita terima kepada kita dan keluarga kita dan selalu berbuat saleh yang selalu diridloi; dijadikan anak-anak kita anak yang saleh dan selalu bertaubat dan dijadikan sebagai orang yang selalu pasrah kepada Allah Swt.
***
Pada kesempatan lain, dalam sebuah pengajian Gus Baha, ulama’ asal Rembang yang viral melalui kanal Youtube menjelaskan rahasia terpenting dari perintah memuliakan anak ini sebab merekalah yang kelak akan menjadi penerus agama Islam.
“Saya melatih anak saya Shalat, sudah bisa shalat dan sujud, bisa mengucapkan Subhana Robbiyal A’la Wabihamdihi, bagi saya itu spesial sekali, sesuatu yang spesial harus dipertahankan, caranya bagaimana agar anak tidak kecewa dengan bapaknya,” tutur Gus Baha.
Karena itulah Gus Baha‘ mengaku tidak pernah memukul anaknya, “Bagaimana bisa mukul dan menyakiti anak ketika saya selalu ingat bahwa ia adalah umatnya Nabi Muhammad yang kelak akan menjadi penerus agama Islam dan penerus kalimat tauhid dan sujud orang tuanya,” ungkap Gus Baha.
Sebuah cita-cita yang luhur dan kepuasan batin orang tua ketika mengirim anak masuk sebuah pesantren, yang mana kelak akan menjadi harapan orang tua, sebagai generasi penerus perjuangan dalam mengabdi kepada Allah Swt dan Rasul-Nya, penerus agama Islam dan penerus kalimat tauhid dan sujud orang tuanya.
