Pentingnya Ilmu tentang Meng- ASI -hi
Bagi perempuan yang sedang hamil, mempersiapkan kelahiran adalah hal yang wajib banget untuk dilakukan. Persiapan itu mulai dari persiapan fisik, mental, keuangan (finansial), dan yang nggak kalah penting adalah persiapan ilmu! Kata filsuf Barat, knowledge is power.
Ya, ilmu itu kekuatan untuk kita mengatasi berbagai masalah. Sebab, jika sudah tahu ilmunya, kita bisa lebih paham harus berbuat apa. Dengan ilmu juga kita bisa menyiapkan upaya preventif (pencegahan) bila nanti menghadapi hal-hal yang tidak diinginkan.
Salah satu ilmu yang mesti dikuasai perempuan sebagai calon ibu dan laki-laki sebagai calon ayah adalah ilmu seputar air susu ibu (ASI). Ya, selain hamil dan melahirkan, kita juga mesti mempelajari dan memahami seluk-beluk dan ilmu per-ASI-an. Selain karena hal itu merupakan kodrat sebagai perempuan, memberikan ASI kepada anak merupakan sebuah kewajiban yang mengharuskan kita terus berikhtiar memberikan yang terbaik untuk anak.
Ajaran Islam menganjuran kita untuk meng-ASI-hi si buah hati hingga usia dua tahun. Dalam Al-Qur’an surah al-Baqarah ayat 233 disebutkan, “Para ibu hendalah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang makruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya.”
Menemui Konselor ASI
Mungkinkah menunaikan anjuran itu dengan baik, bila kita tak tahu ilmunya? Tentu tidak. Sebab itulah, penting bagi seorang perempuan untuk memperkaya dirinya dengan ilmu. Salah satu cara untuk menambah ilmu dan wawasan seputar per-ASI-an adalah dengan menemui konselor atau dokter yang memang memiliki fokus keahlian di bidang per-ASI-an.
ASI merupakan nutrisi terbaik untuk perkembangan sang buah hati. Untuk mengupayakan sang anak mendapatkan ASI, ternyata penting banget loh untuk belajar ilmu tentang ASI ini bagi ayah dan ibu. Salah satu yang bisa dilakukan adalah menemui konselor menyusui agar dapat belajar dan konsultasi secara langsung.
Konselor menyusui akan memberikan saran persiapan apa saja yang perlu dilakukan, bahkan akan menemani kita melalui proses persiapan sampai mulai meng-ASI-hi. Nah, kapan kira-kira waktu yang tepat menemui konselor menyusui? Sesuai anjuran WHO (Organisasi Kesehatan Dunia), ada tujuh waktu terbaik untuk menemui konselor menyusui agar dapat berhasil menyusui hingga dua tahun sebagaimana dianjurkan ajaran Islam.
Kapan Membutuhkan Konselor ASI?
dr. Asti Praborini, Sp.A, IBCLC dalam buku Anti Stress Menyusui mengatakan, agar dapat sukses menyusui, WHO menganjurkan tujuh kontak dengan konselor mengusui, yaitu pada waktu berikut:
1. Usia Kehamilan 28 minggu.
2. Usia Kehamilan 36 minggu
3. Pada saat Inisiasi Menyusu Dini (IMD)
4. Setelah persalinan (selama perawatan di RS)
5. Usia bayi 7 hari
6. Usia bayi 14 hari
7. Usia bayi 40 hari
Dengan tujuh kontak dengan konselor menyusui ini, kata dr. Asti, diharapkan seorang ibu mendapatkan edukasi dan dukungan maksimal guna kelancaran menyusui.
Selain pada tujuh waktu tersebut, sebenarnya konselor menyusui masih bisa ditemui. Khususnya apabila kita menemukan kesulitan dan kendala dalam proses meng-ASI-hi. Misalnya terjadi sumbatan, belajar manajemen ASIP (ASI perah) bagi ibu pekerja, bingung puting, dan berbagai masalah lainnya. Konselor menyusui akan membantu untuk mengurai masalah dan mencari solusinya sehingga proses mang-ASI-hi dapat terus berjalan sampai selesai.
Pertanyaannya kemudian adalah di mana sih kita dapat menemui konselor menyusui? Nah, kita mulai bisa menanyakan hal tersebut kepada faskes (fasilitas kesehatan) atau tempat kita biasa memeriksakan kehamilan. Bisa di bidan, klinik, ataupun rumah sakit. Tanyakan saja, apakah mereka menyediakan konselor laktasi atau tidak. Biasanya, fasilitas kesehatan punya poli khusus laktasi yang terjadwal.
Namun, bila masih sulit menemui konselor laktasi di faskesmu, saat ini kita sudah bisa menemui banyak konselor menyusui yang bisa ditemukan melalui media sosial dan bisa dipanggil ke rumah. Dengan begitu, kita tetap bisa berkonsultasi dengan nyaman di rumah masing-masing.
Pentingnya Melek Digital
Hari ini, di tengah derasnya arus informasi digital, ternyata masih saja banyak yang tidak tahu soal ini. Masih banyak sekali yang menganggap bahwa proses menyusui adalah proses meletakkan payudara di mulut bayi, dan kemudian bayinya kenyang. Padahal, banyak sekali faktor yang mungkin saja menjadi penghambat.
Ibu yang tidak mengerti, kemudian menjadi stres karena ASI yang tidak kunjung keluar adalah salah satu contohnya. Karena hal itu, banyak sekali ibu yang gagal meng-ASI-hi anaknya. Awalnya, ASI tidak keluar, kemudian menganggap ASI-nya tidak cukup. Bermula dari tidak tahu, kemudian jadi insecure dan putus asa. Ditambah lagi omongan tetangga yang kadang bukannya memberi solusi, malah menambah pusing kepala. Akhirnya, mencari solusi singkat, yaitu memilih susu formula.
Padahal, kini sudah banyak informasi tentang per-ASI-an yang bisa diakses dengan gampang. Kita bisa ikuti kelas-kelas ASI online dengan dokter-dokter ahli. Selain itu, kita juga bisa mencari-cari referensi di jejaring internet. Jadi, jangan lelah mencari ilmunya di manapun dan kapan pun. Selain itu hal-hal mengenai ASI dan seputarnya juga harus dipelajari suami atau ayah, karena keberhasilan menyusui juga tergantung pada dukungannya.
Satu hal yang perlu kita yakini, Allah sudah menjaminkan rejeki bagi setiap makhluk-Nya. ASI adalah rejeki anak bayi yang perlu kita perjuangkan dan usahakan dengan sebaik-baiknya. Jika kita mempersiapkannya dengan baik, dibarengi dengan ilmu, doa, dan ikhtiar yang ikhlas, insya Allah proses meng-ASI-hi pun akan berjalan dengan baik. Kedekatan ibu dan anak pun akan semakin intim. Kemudian anak-anak akan tumbuh dan berkembang dengan baik, sehat, dan cerdas sebagaimana yang kita harapkan. Wallahu ‘alam.
