Belajar Parenting Sejak Muda
Usia saya saat ini 21 tahun. Di awal usia kepala dua, saya masih punya adik kecil berusia 3 tahun. Selisih usia yang cukup jauh membuat saya merasa seperti menjadi seorang ayah muda. Di samping itu, sambil sedikit membantu orang tua mendidik adik, saya memerhatikan betul bagaimana pertumbuhan dan perkembangan adik saya.
Mengamati bagaimana pola asuh orang tua terhadap adik, dan bagaimana adik saya tumbuh menjadi anak yang mempunyai karakter tertentu adalah sesuatu yang mengasyikkan. Sebagai orang yang sudah dikatakan dewasa, saya bisa menyaring mana yang harus diajarkan dan mana yang tidak. Dengan kata lain, bagaimana menjadi orang tua yang baik dengan parenting atau pola asuh tertentu.
Sarana Pembelajaran Parenting
Pembelajaran tentang parenting harus dilakukan sedari muda. Terdapat beberapa hal sederhana yang bisa kita jadikan sarana pembelajaran. Pertama, tentu dari gaya parenting orang tua kepada kita. Merasakan sendiri bagaimana pendidikan orang tua kepada kita merupakan ruang belajar kita mengenai parenting. Kita bisa membuat formula pendidikan yang akan kita gunakan di kemudian hari.
Kedua, melalui pengamatan empiris seperti saya. Jika pada poin pertama adalah pengalaman diri sendiri, poin kedua pengamatan kepada adik atau kakak. Kondisi psikologis dan sosiologis yang berbeda akan membuat perbedaan “output” pengasuhan. Perbedaan antara kita dengan adik atau kakak itulah yang kita perhatikan. Kalau Anda anak tunggal, bisa loncat pada poin ketiga.
Ketiga, melalui buku psikologi. Topik parenting menjadi pembahasan yang seksi di kajian psikologi. Selain mental health, parenting termasuk topik yang kini menjadi perhatian publik tentang psikologi. Di psikologi dipelajari bagaimana perkembangan psikologis seseorang, maka parenting termasuk pelajaran di dalamnya.
Pada poin pertama dan kedua, saya sedang berada di dalamnya. Sementara poin ketiga, baru muncul niat, belum berbuah tindakan. Buku-buku psikologi yang bertemakan parenting menjamur di mana-mana, ditulis banyak praktisi psikologi juga pemerhati anak dan keluarga. Asupan literasi dari text-book seperti itu pun bagus untuk menunjang pengetahuan kita dalam mendidik anak.
Tonggak Peradaban
Manusia, sebagai khalifatul fil ‘ardh dan pencipta kebudayaan tentu punya peran penting sebagai tonggak peradaban. Peradaban yang ada saat ini adalah buah perkembangan manusia. Bahasa, gaya hidup, tradisi dan nilai, hingga teknologi, semua termasuk domain peradaban.
Sebagai manusia yang Allah ciptakan untuk menjadi wakil-Nya di bumi, tentulah kita yang mewarnai peradaban ini. Kita bertanggung jawab atas segala budaya yang kita ciptakan. Kalau terdapat kemajuan peradaban, kita patut bersyukur Allah menganugerahkan akal sehingga kita bisa melahirkan kebaikan. Kalau terdapat kemunduran peradaban, kita perlu beristigfar sebab mungkin kita masih lalai.
Setiap waktu, populasi umat manusia di seluruh di berbagai belahan dunia bertambah. Hal tersebut tentu disebabkan oleh fitrah kita sebagai manusia, yakni bereproduksi. Kenyataan bahwa kita merupakan agen peradaban harus bertemu dengan kesadaran bahwa kita terus bereproduksi. Pertemuan itulah yang akan membuahkan kesadaran lain, yakni keharusan mendidik insan dengan baik.
Setiap satu insan terlahir ke muka bumi, maka ia akan menjadi pemberi warna pada peradaban kehidupan. Warna yang cerah atau sebaliknya, itu menjadi tanggung jawab orang yang mendampinginya ketika lahir–paling dekat tentu orang tuanya.
Orang tua yang sadar perannya dalam membangun peradaban pastilah akan mendidik anak sebaik mungkin yang ia bisa. Ia tahu bahwa kelak, anaknya akan tumbuh menjadi orang dewasa yang mengisi kehidupan kemanusiaan. Maka dari itu, mewariskan suatu kebaikan berupa pendidikan yang baik adalah kewajiban.
Walau terhitung masih muda, saya sudah punya harapan dan konsep parenting yang ideal. Konsep tersebut tentu masih sangat mungkin berubah, dinamis layaknya pemikiran seorang manusia. Walau begitu, saya meyakini bahwa segala bentuk parenting atau pola asuh harus dipelajari sejak muda. Agar kaum muda mempersiapkan sejak jauh-jauh hari akan menjadi orang tua yang seperti apa di masa depan.
Berhasil dan Gagalnya Orang Tua
Sungguh mengerikan apabila kita dianugerahi seorang insan yang Allah percayakan tapi kita gagal mendidiknya. Sebaliknya, amat membahagiakan jika kita mampu mendidik anak dengan berhasil. Tentu, indikator keberhasilan dan kegagalan orang tua dalam mendidik anak sangat lentur.
Ada orang tua yang senang kalau anaknya pintar, cerdas, dan menjuarai sejumlah perlombaan. Ada orang tua yang merasa berhasil kalau anaknya saleh menaati aturan Allah, tidak terlalu berprestasi tidak masalah. Ada pula orang tua yang menentukan standar keberhasilan pendidikannya pada kepemilikan materi sang anak di kemudian hari.
Kita punya ruang untuk merumuskan standar keberhasilan pendidikan seperti apa yang akan kita terapkan. Walaupun ruang itu bersifat lentur, bukan berarti kita bebas menentukan pola asuh yang hendak kita pakai. Selentur apapun, dan sedinamis apapun kita sebagai manusia, standar keberhasilan orang tua dalam mendidik anak terletak pada bagaimana memperkenalkan Allah kepada anak.
Cukuplah Allah sebagai pegangan dalam hidup, sisanya bebas untuk dimodifikasi. Prinsipnya mengenalkan Allah dulu, kemudian yang lainnya baru dikenalkan. Sehingga orientasi yang dipakai anak selalu pandangan ketauhidan dan ketuhanan.
Ketika kita ingin anak menjadi seorang juara akademik, maka anak kita akan pintar sekaligus saleh. Apabila kita ingin anak punya nilai-nilai wirausahawan sejak kecil, maka kita akan punya anak yang memiliki orientasi bisnis untuk kemaslahatan umat.
Apapun yang hendak kita ajarkan, pengenalan tentang Allah adalah yang pertama. Sehingga apapun fokus hidupnya kelak, baik itu pilihan profesi ataupun yang lainnya, orientasinya tetap Allah.
Belajar parenting sejak muda itu penting, agar kita tidak gelagapan saat nanti mendapat kabar bahwa kita akan punya anak.
Kalau Anda seorang laki-laki, bayangkan nanti Anda akan mendapat informasi bahwa istri Anda mengandung. Ketika mendengar kabar itu, rasa haru dan senang yang ada dalam jiwa. Pembelajaran parenting siap untuk diaplikasikan. Begitu pun Anda yang perempuan, ketika mengetahui bahwa Anda berbadan dua tentu bukan kengerian yang menjadi pikiran. Tapi perasaaan tanggung jawab, kesiapan, dan keikhlasan.

Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro.
