Mengapa Anak Menjadi Nakal?
Ami masih terisak ketika bel tanda istirahat berakhir. Sambil menelungkupkan wajahnya di meja, tangan kirinya masih memegang perut. Reno (bukan nama sebenarnya), si anak paling bengal di kelas dua SD itu pura-pura tak melihat Ami menangis kesakitan karena ulahnya. Seolah tak terjadi apa-apa ia pun duduk kembali dalam kelas tanpa merasa bersalah.
Di dalam kelas yang paling sering menjadi biang kerok persoalan adalah Reno. Ada-ada saja tingkahnya. Dari yang membuat teman-temannya sebel campur geram tidak ingin berurusan dengannya hingga membuat para guru geleng-geleng kepala. Anak itu benar-benar tak punya rasa takut kepada siapa pun.
Hampir semua orang menyebut Reno sebagai anak nakal. Tersulut masalah kecil atau sepele dia sensitif dan bisa langsung marah sambil mengamuk. Seperti siang itu, Ami tak sengaja menjatuhkan pensilnya lalu patah. Spontan ia layangkan bogem mentah alias tinju ke perut Ami padahal Ami sudah meminta maaf. Ami meringis menahan sakit dan sesaat kemudian menangis.
Perangai Reno yang selalu mau menang sendiri tentu tidak instan. Ada banyak peristiwa yang melatarbelakanginya. Dari sekian peristiwa yang Reno alami semasa tumbuh kembangnya, terbanyak adalah yang terjadi dalam lingkup keluarga. Dari orangtuanya dan dari orang-orang terdekat yang setiap saat membersamainya.
Terlalu banyak Pembiaran
Terlahir sebagai anak orang berada, Reno tumbuh menjadi anak yang bergelimang kemewahan. Kedua orang tuanya terlalu sibuk dengan bisnis sehingga Reno sendiri jarang bertemu. Lho, kok? Ya, dari pagi buta dia sudah ditinggal ibu bapaknya untuk meraup pundi-pundi kekayaan yang akhirnya juga demi masa depan Reno, katanya.
Sejak orok merah, susu formula termahal asupan sehari-hari Reno. Kedua orangtuanya percaya dengan susu tersebut akan membuat anaknya kebal dari penyakit, tumbuh menjadi anak kuat, hebat dan cerdas. Berapapun harganya tak akan menjadi masalah yang berarti. ASI hanya akan menghambat kinerja dan kesibukan ibunya serta merepotkan.
Sehari-hari Reno tumbuh bersama seorang pengasuh yang wawasan tentang seluk beluk perkembangan anak tak seberapa padahal untuk menyewa pramusiwi mahal, mampu. Meskipun ada nenek dan kakek yang ikut ambil peran dalam perkembangan jiwa raganya, namun yang terjadi justru banyak kekeliruan dalam mendidik Reno kecil. Ada semacam pembiaran ketika Reno melakukan kesalahan seolah tidak apa-apa dan maklum karena dia masih kanak-kanak.
Pernah suatu hari ketika diajak ke rumah salah seorang kerabat, begitu masuk ruang tamu Reno balita langsung naik dan berdiri di kursi sambil melompat-lompat. Nenek dan kedua orang tuanya hanya diam, bahkan tersenyum tanpa ada usaha untuk mengajaknya duduk dengan manis. Ini sering terjadi dan menganggap sesuatu yang biasa bagi anak.
Tidak hanya di ruang tamu, bahkan pernah juga membuka kulkas tuan rumah sambil mengeluarkan barang-barang yang ia kehendaki untuk mainan. Lagi-lagi ada pembiaran dari kedua orang tuanya seakan semua orang yang berada di sekitarnya harus legowo, maklum dan menganggapnya wajar karena sekali lagi dia masih kanak-kanak.
Pembiaran-pembiaran yang berlangsung secara berulang sekian lama dari orang-orang yang seharusnya “mendidik” Reno untuk menjadi anak yang berkualitas, membuat Reno tak mampu menangkap mana yang boleh dan mana yang tidak. Kekurangan intensitas hubungan dengan orang tuanya sendiri ikut andil membawa ke arah sebuah perilaku yang jauh dari nilai kesantunan.
Tidak Semua Keinginan Anak Harus Dipenuhi
Mendidik dan membentuk anak agar menjadi insan yang berbudi luhur tidaklah mudah. Perilaku orang-orang terdekat selama anak tumbuh kembang sangat kuat pengaruhnya. Anak memerlukan curahan kasih sayang dari kedua orang tuanya demi pembentukan watak dan pribadi yang mengagumkan. Dia juga butuh sosok teladan yang baik dalam keseharian.
Apalah artinya harta melimpah bila ternyata anak merasakan kemiskinan dalam mendapatkan kasih dan sayang dari orang tuanya sendiri. Anak butuh peluk ciuman, rengkuhan penuh kasih, sanjungan atas prestasi sekecil apa pun itu dan pujian-pujian kecil lainnya yang mampu membuatnya bahagia. Dengan demikian dia merasa lebih dihargai dan ini akan teringat hingga tumbuh dewasa. Beratkah orang tua melakukan ini?
Tidak semua keinginan anak harus dipenuhi meski mampu. Harus ada batasan antara keinginan dan kebutuhan yang ternyata hanya beda tipis. Menuruti semua keinginan tidak selamanya membawa bahagia karena dari sinilah awal pendidikan karakter anak itu diuji. Agar tidak sampai terjadi istilah asih tanpa asuh, yaitu semacam terlalu sayang pada anak hingga melupakan pola pengasuhan yang seharusnya.
Bagaimana kalau dia menangis karena keinginannya tak terpenuhi? Menangis adalah sesuatu yang alamiah dan tidak perlu menjadi persoalan yang serius. Sebagai orang tua tentu lebih tahu jurus-jurus untuk mengalihkan perhatiannya karena yang paling memahami anak adalah orang tua. Kalau saja semua orang tua di dunia ini sadar, betapa masa-masa tumbuh kembang anak adalah masa emas yang tidak akan terulang.
Selain limpahan kasih sayang dari orang tua, pendidikan budi pekerti tak kalah penting. Sejak anak mengenal lingkungan sekelilingnya etika sopan santun sebenarnya sudah mulai bisa diajarkan. Tentu dari hal-hal kecil yang harus disesuaikan dengan kemampuan daya tangkap anak.
Mendidik Anak dengan Serius
Pendidikan karakter dan budi pekerti bisa kita mulai dari rumah. Meski peran seorang guru di sekolah juga menentukan, tapi yang utama dan pertama tetaplah pendidikan yang diperoleh dari orang tuanya di rumah. Bagaimana dengan anak yang terlahir lalu orang tuanya tiada? Kakek nenek atau kerabat yang bertanggung jawab dalam hal ini.
Tidak jarang saya temui ada anak yang masih sangat kecil tapi sudah memiliki tabiat anggun mempesona dan mampu bertenggang rasa pada sesama temannya. Mampu menjaga sikap di lingkungan baru dan asing. Saya yakin ini adalah hasil didikan serius bukan otomatis muncul bersamaan dengan lahirnya seorang anak.
Apa yang terjadi pada Reno sebenarnya masih bisa diperbaiki. Dia menjadi nakal hanya sebagai pelampiasan atas keinginannya agar orang-orang lebih memperhatikan dia. Caranya saja yang belum ia mengerti. Dia butuh perhatian dan dia merasa hubungan dengan orang tuanya sendiri tidak seharmonis teman-teman nya. Banyak temannya yang diantar jemput orang tua ketika sekolah sedang dia hanya bersama pengasuh selama ini.
Kenakalan anak yang timbul dari kesenjangan sosial maupun dari pengaruh kurangnya kasih sayang adalah tanggung jawab bersama. Jangan sampai ada dalam pikiran: “Biarlah anak itu nakal, toh bukan anakku,” misalnya. Alangkah indahnya hal ini tak terjadi pada kita. Anak yang nakal tak hanya tanggung jawab orang tua saja karena lingkungan juga berperan penting dalam pembentukan watak anak menuju nakal atau tidak.
Tidak ada ruginya kita ikut berbagi kasih dan perhatian pada anak-anak yang terpaksa nakal karena minimnya kasih sayang yang seharusnya mereka dapatkan. Bagaimanapun mereka adalah titipan dan generasi penerus yang akan bertanggung jawab atas kelangsungan kehidupan manusia di masa mendatang. Generasi yang mumpuni, berkualitas dan berbudi adalah peninggalan yang sangat berharga kelak tiba saatnya kita berpulang dan mempertanggungjawabkan semua amanah-Nya.

Seorang ibu rumah tangga dengan 3 anak, masih aktif di ‘Aisyiyah Donorojo Jepara.
