Pola Asuh Abusive: Mencetak Generasi mental Baja, Mewariskan Trauma
“Sama seperti kamu, Bapak pernah merasakan menjadi anak. Tapi kamu, Nak, belum pernah merasakan menjadi Bapak. Suatu saat kamu akan mengerti.”
Kalimat itu menjadi kalimat penutup yang keluar dari bapak ketika suatu momen saya datang kepada beliau mempertanyakan mengapa dulu beliau begitu abusive (kasar) dalam mengelola rumah tangga dan mendidik anak-anaknya.
Sebagai anak yang dibesarkan dengan pola asuh “tangan besi”, saya memberanikan diri mengkonfrontir beliau. Duduk sebagai sesama laki-laki dewasa, setelah kejadian yang saya alami beberapa hari yang lalu. Ya, tanpa saya sadari, saya bereaksi persis dengan cara bapak ketika anaknya melakukan kesalahan, marah, membentak dan (nyaris) memukul anak.
Seketika juga saya peluk anak sulung saya yang diam dan ketakutan. Saya meminta maaf kepadanya. Setelah keadaan tenang menjelang malam dan seisi rumah terlelap, saya merenung; introspeksi; bertanya kepada diri sendiri mengapa badan ini bereaksi seolah-olah di luar kendali.
***
Saya kira, saya bukan satu-satunya anak yang mengalami pola asuh abusive di semesta ini. Pun bapak saya, beliau kerap mengeluarkan “jurus adu nasib” ketika saya sambat kenapa dulu bapak memukuli saya sampek elek. Beliau selalu berkata “lha kamu mending cuma tak pukul pake kayu randu, lha bapak dulu..lha bapak dulu..” hadeuh..smh
Saya kira Anda sekalian juga sepakat bahwa pola asuh semacam itu tidak tepat. Walau pun kerap ada pembenaran atasnya dengan berbagai macam dalih. Dalam kasus bapak saya, argumen beliau adalah perlu ketegasan dalam menjalankan rumah tangga, lebih spesifik dalam mendidik anak.
Beberapa kawan justru dengan bangga bercerita apabila waktu kecil orang tuanya tidak mendidik dengan keras; tidak mungkin dia mempunyai mental baja saat ini. Menurut kawan ini, kurang lebih sama seperti bapak saya, untuk menghasilkan anak bermental baja, memerlukan kekerasan. “..biar anak kita nanti jadi manusia tahan banting, ga menya-menye, ga medioker..”
***
Sebagai seorang bapak (muda) dengan tiga orang anak, saya belajar menjadi orang tua yang baik lewat mengamati; bercengkerama dengan ahli parenting, kawan yang juga sesama orang tua. Juga kepada (tentu saja) orang tua saya sendiri tentang bagaimana membesarkan anak di tengah dunia seperti sekarang ini. Yang terakhir ini tentu saja untuk mendapatkan semacam insight dari pihak yang telah membesarkan saya.
Kami mendapatkan karunia anak pertama di usia pernikahan baru berjalan sepuluh bulan; menyusul anak ke dua di bulan ke delapan belas; kemudian lahir lah anak ke tiga tepat dua bulan setelah perayaan tahun ke empat pernikahan kami. Memutuskan menikah muda di usia dua puluh satu tahun, saya telah mempunyai tiga anak pada usia yang belum penuh dua puluh enam tahun.
Bukan pencapaian yang selalu bisa dibanggakan memang. Bagi beberapa orang, usia kami terlalu muda untuk membesarkan tiga orang anak kala itu. Pendapat yang bagi saya kurang tepat, karena bukankah umur hanyalah deretan angka?
***
Tentu saja, seperti kebanyakan orang tua, saya kerap mengkhawatirkan masa depan anak-anak. Selalu merasa kurang cukup baik dalam mendidik, dan tidak jarang mempertanyakan kepada diri sendiri apakah keputusan yang telah diambil memang sudah tepat, terutama untuk mereka.
Di awal masa awal menjadi seorang bapak, layaknya seorang pasutri muda, saya kerap bersitegang dengan istri tentang bagaimana konsep berbagi peran dalam rumah tangga. Tumbuh dari keluarga yang berbeda kultur tentu saja membuat hal tersebut cukup sulit kami hindari.
Pernah ada masa di mana saya meyakinkan bahwa tugas menjadi “menteri pendidikan” di dalam rumah adalah tugas seorang istri dan tugas seorang suami adalah memenuhi nafkah untuk keluarga. Setidaknya itu yang selalu orang tua saya ajarkan. Sehingga ketika pertumbuhan psikis anak saya rasa kurang, momen “evaluasi” menjadi perdebatan yang seringnya sengit, karena sebagai suami dan bapak saya (merasa) telah menjalankan peran dengan maksimal tetapi tugas istri saya rasa kurang. Ya, ibu-ibu, laki-laki bisa sebrengsek dan sedungu itu.
***
Susah untuk tidak menyimpulkan bahwa bagaimana kita dibesarkan dan diasuh akan mempengaruhi cara kita mendidik anak-anak kita. Sehingga pernah ada fragmen di hidup (yang tidak saya banggakan) saya menjadi sosok suami dan bapak yang tegas cenderung keras kepada istri dan anak-anak, verbal dan fisik, seperti halnya bagaimana yang telah (secara tidak sadar, mungkin) diajarkan oleh bapak. Sering menyesal di malam-malam ketika mereka sudah terlelap, tetapi karakter dan sikap abusive seperti itu saya pikir keluar begitu saja tanpa saya sadari.
Ketika masih kecil, saya tumbuh dengan menyaksikan kekerasan fisik oleh bapak kepada ibu, yang sejauh saya ingat, karena hal-hal sepele. Saya dan kakak pun kerap mengalaminya. Sebagai gambaran, sebagai seorang bocah kala itu, saya merasa “lega” jika hanya dipukul menggunakan ranting pohon bambu atau pohon randu, karena dengan sepuluh kali pukulan mungkin ranting itu sudah habis setelah beradu dengan paha dan betis, tetapi kalau bapak sudah meraih selang air atau ban dalam ketika marah, saya memilih untuk langsung minta ampun dan bersimpuh di kakinya. Yang bisa menghentikan pukulannya hanya rasa capek mengayun.
Jangan anda bayangkan itu karena kenakalan-kenakalan luar biasa yang membuat saya yang mendapatkan tindakan abusive seperti itu, kadang hanya karena lupa mengisi penuh kendi air ketika bapak pulang dari sawah atau hanya karena tidak mengenakan peci ketika salat jamaah di musala desa. Hehe.
Ketika sudah mentas bersekolah dan akhirnya bekerja, menikah dan punya anak, karakter seperti itu tertanam di otak saya secara tidak sadar. Bapak tidak pernah merasa menyesal ketika suatu waktu saya konfrontasi perihal pola asuhnya itu, justru ada intonasi “bangga” yang saya tangkap dari nada bicaranya. Beliau merasa karena ketegasannya itu menghasilkan anak-anak yang berhasil mengangkat derajat keluarga, berprofesi kerah putih. Tidak seperti kebanyakan anak-anak sebaya di kampung yang rata-rata berprofesi kerah biru.
***
Saya tidak sedang berusaha menumpahkan kekesalan dan kemarahan kepada orang tua karena pola asuhnya yang pada akhirnya menghasilkan karakter abusive seperti itu, karena seharusnya saya punya pilihan untuk tidak melakukannya. Dan orang tua kita, se-tidak memuaskannya pun, adalah produk terbaik di generasinya. Saya punya keyakinan bahwa orang tua kita punya “medan perang” nya sendiri. Terlepas dari caranya yang mungkin kita rasa kurang benar, mereka telah melakukan yang terbaik.
Sebagaimana anda sekalian, saya juga ingin menjadi orang tua yang terbaik untuk anak-anak. Saya pun (pernah) punya ambisi yang besar kepada anak-anak saya. Melihat dunia sebagai ajang kompetisi dan sekuat tenaga saya harus mempersiapkan mereka untuk memenangkan kompetisi itu. Melihat mereka sebagai investasi masa depan, seperti halnya orang tua melihat saya.
Saya memasang standar yang tinggi untuk mereka. Keyakinan itu membuat saya menjadi orang tua yang demanding, dengan wujud bermacam-macam, memarahi bahkan cenderung abusive kepada mereka ketika mereka mendapat nilai yang kurang bagus di sekolah misalnya atau menyita mainan mereka ketika menghabiskan hari libur dengan seharian main game, tanpa pernah bertanya apa yang sebenarnya membuat mereka bahagia.
Ya, kalimat terakhir itu saya sadari belakangan. Pertanyaan sederhana yang tidak pernah saya dengar ketika saya dalam asuhan orang tua. Dalam perenungan saya bertanya kepada diri sendiri “apakah anak-anakmu sudah bahagia?”, “apakah dia memang bagian darimu yang harus memenangkan kompetisi di dunia ini?”, “bagaimana kalau dunia membuatmu patah hati karena mereka tumbuh tidak seperti harapanmu?”, “apa kau juga akan menuntut mereka membuatmu bangga di masa depan?”, “apa kau mau anakmu memandangmu seperti kau memandang orang tuamu?”, “apakah kau menganggap dunia anakmu berputar dengan mengorbit padamu?”, “apakah kau siap dikecewakan anakmu?”.
***
Tidak salah jika ingin memberikan segala hal (yang menurut kita) terbaik untuk anak-anak kita. Tetapi jika itu menjadikan kita orang tua yang demanding dan cenderung abusive kepada anak-anak, maka saya memilih menjadi orang tua medioker yang tidak menaruh harapan muluk-muluk kepada anak; yang tidak memasang standar kesuksesan kepada anak; yang ingin memastikan bahwa hanya kebahagiaan yang harusnya mereka dapatkan.
“Saya pikir njenengan telah berhasil mewariskan mental baja kepada saya dan mas, dan njenengan mungkin merasa menjadi orang tua yang sukses, karena anak-anaknya telah mencapai bahkan melampaui ekspetasi dan ambisi njenengan, tapi njenengan juga mewariskan kondisi kejiwaan yang sampai saat ini tidak bisa saya pahami, trauma dan depresi yang berbuah reaksi badan yang saya sendiri susah mengendalikannya.” Saya mbrebes mili, marah dan lega secara bersamaan ketika akhirnya punya keberanian mengatakan itu, bukan dalam rangka menggugat orang tua tetapi sekadar usaha berdamai dengan diri sendiri.
*) Suwatno

Penulis adalah seorang bapak (muda) dengan tiga orang anak. Lahir di Tuban, sebuah kota di pesisir utara pulau Jawa pada bulan Juli tahun 1990. Aktif sebagai ASN di sebuah lembaga di bawah Kementerian Keuangan. Saat ini penulis bermukim di kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah.
