f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
pesta

Pesta Pelipur Lara Menerima Kegagalan

Kreett! Pintu kayu itu perlahan terbuka lebar. Kimmy, anak saya, keluar dari sebuah ruang tempat kompetisi English Debate yang diadakan di kota saya. Wajahnya tertunduk layu, matanya memerah dan berkaca-kaca. Mudah ditebak, dia telah kalah dalam kompetisi itu. Saya segera menghampiri dan memeluknya.  “It’s okay. You have done your best!” bisik saya. Kimmy menggeleng lemah tanpa kata. Bulir-bulir air mata mengucur deras membasahi kedua pipinya. Kekalahan itu membuatnya begitu kecewa.

Ilustrasi di atas adalah kejadian 1.5 tahun yang lalu sebelum pandemi corona. Kesibukan dan penyesuaian pembelajaran daring yang cukup menguras energi rupanya membawa dampak positif. Rasa kalah saat lomba dulu, perlahan mulai bisa dia melupakan.  

Tak disangka, dua bulan yang lalu, dia menerima pesan dari grup WA sekolah: ”Selamat buat Kimmy telah memenangkan lomba menulis cerpen…dst.” Dengan muka sumringah dan mata berbinar-binar, Kimmy menunjukkan pesan itu kepada saya. Kemenangan itu membuat rasa percaya dirinya kembali tumbuh, saat motivasi berjuang sebagian besar pelajar terjun bebas akibat pandemi.

Ingin memberi kegiatan positif yang lain, saya mendorong Kimmy untuk mengikuti olimpiade bahasa Inggris tingkat nasional yang diselenggarakan oleh sebuah SMA ternama. “Aku takut kalah Ma,” keluh Kimmy. “Apakah tujuan lomba harus buat menang?” tanya saya. Dia menggeleng. “Habis lomba kita bikin pesta bersama Ayah dan Eyang,” tantang saya. Dahinya berkerut,”Meskipun kalah?”  Saya mengangguk mantap,”Yap! Meskipun kalah,” ujar saya mengulangi.

Singkat cerita, Kimmy gagal masuk ke babak selanjutnya. Hanya selisih tipis dengan peserta lain yang masuk babak perempat final. Dan sesuai janji yang saya ucapkan, saya mengadakan “pesta pelipur lara” di sebuah restoran idaman, pilihan anak saya.

Baca Juga  Mengapa Anak Menjadi Nakal?
Pesta pelipur lara setelah kalah?

Mengapa tidak? Dalam tiap kompetisi hanya ada 2 opsi, menang atau kalah. Tak ada pilihan ketiga, abstain misalnya. Saya hanya membiasakan anak saya untuk menerima keduanya sebagai bagian nyata dari sebuah usaha. Pesta pelipur lara sengaja saya adakan sebagai bentuk bentuk penghargaan atas kerja keras yang sudah Kimmy jalani sebelumnya.  Baik kemenangan dia pada lomba cerpen, maupun kekalahan pada olimpiade, melalui proses yang sama-sama sulit. Jadi tidak ada salahnya, jika kekalahannya kami “rayakan” dengan sedikit istimewa.

Bagi saya kemenangan dalam sebuah kompetisi tidak terlalu penting. Lebih kepada memberi pengalaman dan menikmati proses perjuangannya adalah tujuan utama yang sebenarnya. Memperkaya kosakata hidup yang nantinya menjadi bekalnya saat dewasa jauh lebih bermakna. Sikap nrimo ini saya dapatkan dari buku-buku, seminar maupun hasil obrolan dengan sesama orang tua. Selain itu pengaruh pola asuh orang tua saya “seng uwes yo wes” yang sudah berlalu, biarkan berlalu (lupakan), juga memiliki andil dalam pembentukan karakter saya di masa sekarang.

Saya ingat jaman dulu saat masih remaja, saya pernah beberapa kali memenangkan kompetisi lagu tradisional Jawa macapat di tingkat kabupaten dan provinsi. Muncul rasa jumawa dalam diri saya. ”Success is my right!” ujar Om Andre Wongso. Namun ketika ada peserta lain berhasil menggungguli saya, saat itu saya merasa nglokro, tidak bersemangat dan hampir putus harapan. Untunglah kedua orang tua saya, tidak pernah memaksa saya untuk selalu menjadi yang terbaik.

*

Rasa hampir putus asa juga dialami Reza sahabat Kimmy. Ibunya yang baru saja menerima rapot sisipan dari sekolah, sangat terkejut melihat capaian anaknya yang dinilai buruk. Menurut ibu Reza seharusnya masa pandemi seperti ini – yang apapun bisa dibantu dengan google – anaknya mendapatkan nilai yang sempurna. Reza merasa ibunya tidak menghargai usahanya untuk tetap jujur, dengan mendukungnya untuk mencari segala cara hanya untuk terlihat hebat.

Baca Juga  Memahami Anak Insecure

Ibu Reza menerapkan “The Tyranny of Now” yang fokus pada hasil akhir saat ini juga. Jika ekspektasi yang diinginkan tidak sejalan dengan realita dengan segera melabelinya sebagai kegagalan mutlak. Orang semacam ini, menurut Carol S Dweck, selalu berusaha mencari orang lain yang hasilnya lebih buruk daripada dirinya, agar merasa lebih baik. Saat tidak menemukan, maka ke depannya dia akan cenderung berperilaku curang untuk menghindari kegagalan. Bahkan bisa jadi pilihan yang jauh lebih buruk yaitu depresi dan bunuh diri.

Mungkin ibu Reza perlu mengetahui kasus seorang siswi SMP berprestasi yang memilih untuk bunuh diri di Blitar. Kejadian dua tahun lalu ini dipicu oleh rasa putus asa karena gagal masuk SMA favorit pilihannya. Predikat berprestasi merupakan beban berat bagi almarhumah Elizabeth jika tidak berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan. Saat bertemu dengan kata gagal. Maka game over muncul di benaknya dengan menghentikan game atau hidup mereka sendiri.

*

Membiasakan anak dalam situasi persaingan memang bagus untuk meningkatkan motivasi. Motivasi tinggi membantu untuk meraih prestasi. Tapi menjadikan prestasi atau kemenangan adalah sebuah keharusan, sangat tidak realistis dan berbahaya. Di balik kemenangan ada saatnya kalah, begitupula sebaliknya. Semua bisa datang silih berganti.

Reza merasa heran saat mengetahui hasil rapot sisipan Kimmy yang tidak jauh lebih baik dari rapotnya. “Mamamu nggak marah Kim?” tanya Reza penasaran. “Nggak tuh!” jawab Kimmy santai sambil mengunyah pizza nya. Pizza take away, sebagai penghargaan atas usahanya menjalani semua ulangan dan tugas-tugas yang kadang tidak masuka akal, tanpa menjadikannya sebagai beban.

Bagikan
Post a Comment