f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.

Keinginanku Menikah Tanpa Anak dan Kehamilan yang Diinginkan

Pernikahan Tanpa Anak

Setelah mas Arif Nur Kholis melamarku di pertengahan tahun 2016, aku mengajukan syarat pernikahan tanpa anak terlebih berharap punya anak perempuan. Dia tidak bertanya apa alasannya dan menyetujui syarat itu (aku sebenarnya bingung, dia itu udah kepepet harus menikah apa gimana sih, sampai aku ajuin syarat itu kok ya ya aja).

Setelahnya aku baru bercerita tentang pengalaman buruk di masa lalu. Aku merasa takut menjadi orang tua seperti kedua orang tuaku yang tak mampu melindungi anaknya dari mara bahaya predator pelecehan seksual. Ya, aku pernah mengalami kejadian yang sangat buruk kira-kira waktu masih kelas 6 SD atau kelas 1 SMP. Dan orang tua tidak mengambil tindakan atas apa yang aku alami, padahal itu sangat membekas dalam ingatanku. Bahkan dewasa ini aku beberapa kali mencoba membahasnya dengan orang tua, tapi spertinya tidak ada rasa penyesalan bahkan menganggap aku berlebihan.

Cukup sudah bahasannya masa lalunya, nanti di-bully warganet karena menyalahkan orang tua. Mungkin orang tuaku sebagaimana kebanyakan orang tua, kurang memahami bagaimana dampak kekerasan pada anak, takut berurusan dengan polisi, dan takut aib.

Setelah menikah, aku langsung menerapkan sistem pencegahan kehamilan. Dan suami tidak keberatan, bahkan tak ada pertanyaan atau rayuan untuk mencoba membujukku supaya berubah pikiran agar mau punya anak. Justru aku sendirilah yang berubah pikiran memutuskan untuk menghentikan pencegahan kehamilan dengan syarat “harus jadi anak laki-laki, aku masih takut anak perempuan pertama seperti aku yang harus berjuang sendiri menghadapi masalahnya.”

Kehamilan yang Diinginkan

Singkat cerita bulan ke-3 pernikahan, kami memutuskan untuk memulai program kehamilan. Kami harus mencari informasi dari beberapa dokter tentang tips mendapatkan bayi laki-laki. Dan alhamdulillah, bulan ke 5 pernikahan janin sudah memasuki usia 6 minggu. Dan pada minggu ke-10 sampai ke-15 aku harus bolak-balik masuk RS karena hiperemesis dan ISK. Tentunya berujung harus ijin resign dari kantor, karena sudah tidak memungkinkan bekerja dengan keadaan seperti itu.

Baca Juga  Kutipan Pelipur Lara

Jangan ditanya rasanya seperti apa hiperemesis. Minum saja bisa membuat mual dan muntah-muntah, padahal tidak ada makanan yang masuk. Dan itu berlangsung kurang lebih 1 bulan. Untungnya mas arif belum bekerja seperti sekarang yang harus ngantor senin-senin lagi. Jadi saat itu tiap hari ditungguin di rumah sakit, disuapin bahkan dimandiin, ups.

Memasuki minggu ke-17 atau 18, dokter spesialis kandungan menyatakan bahwa kemungkinan janinnya laki-laki. Walau masih samar, tapi sudah ada ciri-ciri yang menandakan dia akan berjenis kelamin laki-laki. Aku tentu saja pingin loncat-loncat kegirangan kalau boleh. Gejala hiperemesisnya mulai berkurang dan hari-hari kehamilan sudah mulai nampak menyenngkan.

Kalau ditanya apakah stress selama hamil??Apa yang terberat selama hamil? Kalau tingkah laku suami sih nggak bikin stress, karena di saat usia ke 4 bulan kehamilan kami LDR-an. Dia kadang yang stress karena selalu pingin cepet pulang karena merasa bersalah meninggalkan istrinya yang sedang hamil.

Akhir tahun 2017, lahirlah Iqbal bayi laki-laki dari kehamilan yang diinginkan. Alhamdulillah saya bisa melaluinya, saya mencoba berusaha memaafkan diri sendiri. Memberi kesempatan untuk sedikit berbahagia dengan kehadiran seorang anak dan seorang suami yang mau memahami saya.

Lantas bagaimana kisah selanjutnya?

Masa Tersulit adalah Setelah Melahirkan

Masa-masa setelah melahirkanlah yang sangat sulit, baby blues menghantui. Saya takut dan berkali-kali harus menelpon suami malam-malam hanya untuk mendengarkan saya menangis. Saya memohon-mohon padanya untuk segera membawa saya bersamanya. Saya butuh ditemani, saya butuh selalu dipeluk (eaa…).

Setelah kami tidak LDR-an lagi, baby blues itu perlahan menjauh. Lelah memang hidup bertiga saja tanpa bantuan dari saudara, tapi ternyata itu jauh lebih baik secara emosional. Karena kapanpun saya merasa lelah ada yang bisa diminta mijit, atau diminta belikan ice cream.

Baca Juga  Stigma Covid-19 yang Membunuhnya

Tulisannya jadi panjang ya. Jadi, begitulah kisahku dari sebuah perjanjian pernikahan tanpa anak, hingga bisa berubah menjadi punya anak. Tapi ya, saya pikir satu saja cukup. Saya belum ada keinginan mau menambah satu anak lagi, dan itu juga terlihat dari betapa paniknya saya kalau terlambat datang bulan.

Kalau sudah panik soal itu, suami juga bingung. Dia takut saya stress, dia takut saya nanti akan sakit, dsb. Maka dialah yang selalu mencegah terjadinya ‘manuver’ tanpa kontrasepsi. Karena saya dan suami juga tidak mau mengalami kehamilan yang tidak diinginkan.

Alhamdulillah suami sepakat (sebenarnya kenapa sih dia sepakat terus dengan permintaanku?). Dan berkat akses informasi yang kami dapatkan tentu kami melakukan beberapa kali konsultasi tentang penggunaan kontrasepsi yang sesuai dengan keinginan kami.

Semoga semua berjalan lancar,

Kehamilan dan Mengasuh Anak Tanggung Jawab Suami-Istri

Maka dari itu warganet yang budiman, apapun pilihan seseorang tentang menikah, urusan punya anak, urusan sekolah atau kerja , jangan terlalu menyalahkan atau memojokkan pilihannya. Mungkin kalian tidak tahu pengalaman-pengalaman pahit yang tidak dia ceritakan.

Bagi para suami, kehamilan dan anak itu tanggung jawab bersama. Maka keputusan hamil, menambah anak ke-2 dan seterusnya tentu harus mempertimbangkan kondisi kesehatan jiwa dan raga istri. Mencegah kehamilan bukan melawan takdir, tapi itu bagian dari berusaha tidak meninggalkan generasi yang lemah. Itu pendapat saya, kalau nggak setuju juga gpp loh. 😂😂😇

*) Mona Atalina : aktivis perempuan muda, pegiat media sosial , redaksi rahma,id.

Bagikan
Comments
Post a Comment