f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
hijrah

Perempuan dan Laki-Laki: Setara di Hadapan Tuhan

Perempuan dan Laki-Laki: Setara di Hadapan Tuhan, Mengapa Tidak Setara di Hadapan Manusia?

“Agama hadir untuk memberi kebaikan bagi manusia, baik perempuan dan laki-laki. Keduanya wajib bahu-membahu menebar kemaslahatan, bermitra dalam amar ma’ruf nahi munkar tanpa menodai martabat dan harga diri salah satunya”

Berbicara tentang relasi perempuan dan laki-laki dalam kehidupan ini sangatlah kompleks. Berbagai forum dan aktvitas sosial sudah banyak memperbincangkan topik-topik seputar relasi perempuan dan laki-laki dalam bingkai kemanusiaan. Semoga dengan banyaknya ilmu dan wawasan yang kita dapat melalui forum-forum tersebut membuat kita lebih aware akan pentingnya “berta’awun” (saling tolong-menolong) dalam kehidupan. Sebagaimana pesan Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah ayat 30, bahwa secara nature/ kodrati manusia baik laki-laki maupun perempuan adalah khalifah di muka bumi ini.

Status khalifah ini ingin menunjukkan bahwa Allah memberikan kehormatan dan kemuliaan kepada manusia untuk menggantikan posisi kemulian-Nya. Amat berat bukan? Dengan demikian, mandat dari Allah harus kita hayati secara spiritual untuk menegakkan nilai-nilai kebaikan, menjauhi kedhaliman atas nama apapun.

Akhir-akhir ini fenomena memilukan kerap membanjiri media massa. Terlebih kasus-kasus kekerasan tidak pernah absen dari tayangan publik. Bulan Februari lalu ada kasus seorang siswi SMP dibunuh ayah kandungnya sendiri lantaran si anak meminta uang untuk study tour. Beberapa hari ini juga ada kasus seorang santriwati menjadi budak seks oleh guru ngajinya selama 4 tahun. Sungguh ini amat menyesakkan dada. Belum lagi data dan catatan kasus mengerikan yang dihimpun oleh Komnas Perempuan.

Kekerasan Terhadap Perempuan

Komnas Perempuan mencatat sebanyak 431.471 kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan dan ditangani sepanjang tahun 2019 yang besarannya naik 6% dari tahun sebelumnya (406.178 kasus). Setiap tahunnya kasus kekerasan terhadap perempuan ini terdiri dari kekerasan ranah privat/ personal, ranah publik dan ranah negara. Selain itu muncul fenomena femisida yaitu pembunuhan terhadap perempuan karena dia perempuan. Menurut Komnas Perempuan, femisida telah menjadi isu serius yang menarik perhatian dunia namun kurang mendapat perhatian di Indonesia. Setidaknya terlihat dari pendataan yang masih menyederhanakan isu femisida sebagai tindak kriminal biasa.

Baca Juga  Muslimah Modern: Penguatan Identitas, Pendidikan, dan Peran Sosial dalam Konteks Islam

Dari beberapa uraian data di atas, bukan berarti laki-laki tidak mengalami hal yang sama. Laki-laki bisa menjadi korban kekerasan dengan sebab bukan karena “ia terlahir menjadi laki-laki” namun lebih kepada karena dia menjadi kaum minoritas, anak kecil atau karena sikapnya. Berbeda dengan perempuan, ada perbedaan mendasar dalam perlakuan ini. Seringkali terjadi ketidakadilan terhadap salah satu gender ini. Perempuan lebih kerap atau rentan menjadi korban kekerasan karena “ia terlahir menjadi perempuan”. Jika paham ini masih diamini atau dianggap “biasa-biasa” saja oleh masyarakat kita, sampai kapan perempuan akan menanggung beban moral yang berat karena ia terlahir sebagai perempuan? Perlu kita ketahui bahwa dalam penciptaan manusia Tuhan tidak “patriakis”.

Kehadiran tulisan ini tidak bermaksud untuk menyudutkan perempuan maupun laki-laki. Tulisan ini ingin menyajikan narasi-narasi kebaikan yang seharusnya kita sebarluaskan, kita yakini dan kita jaga erat-erat.

Ketimpangan Sosial dan Hilangnya Ukhuwah

Pada point ini akan dibahas mengenai ketimpangan sosial yang berdampak buruk pada perbedaan sikap terhadap perempuan dan laki-laki. Istilah ketimpangan sosial dan budaya patriarki nampaknya sudah sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Budaya patriarki merupakan budaya yang menjadikan laki-laki sebagai subjek tertinggi dalam tatanan kehidupan sosial. Ia merupakan sistem sosiokultural yang telah menubuh subur dalam kebudayaan kita. Namun, menurut Bell Hooks, “patriarchy has no gender”. Jika berkiblat pada pandangan Bell Hooks maka sistem ini tidak hanya diperankan oleh laki-laki, perempuan pun bisa mereproduksi nilai-nilai ini karena situasi pengalaman maupun kultur disekitarnya.

Patriarki dibagi menjadi dua haluan, garis keras dan lunak. Patriarki garis keras merupakan sistem dimana laki-laki selalu di atas dan perempuan di bawah. Laki-laki merupakan subjek tunggal kehidupan dan perempuan sebagai objek yang harus tunduk mutlak pada kehendak laki-laki. Adapun patriarki garis lunak, sistem yang menjadikan laki-laki dan perempuan sebagai subjek kehidupan setiap keputusan diselesaikan secara bersama-sama namun ending dari keputusan tersebut tetap dari pihak laki-laki.

Baca Juga  Konsekuensi Feminisme Muslim di Indonesia

Lalu bagaimana baiknya, agar keduanya sama-sama ridha dan adil tanpa menjadikan kemanusiaan salah satunya lebih unggul dari yang lainnya? Alangkah baiknya jika dalam bermuamalah baik perempuan dan laki-laki sama-sama meyakini bahwa keduanya adalah subyek utama kehidupan, jika ada perkara maka diputuskan secara bersama-sama, sama-sama mempertimbangkan kondisi keduanya sehingga kemanusiaan laki-laki tidak menjadi keadilan atau kemashlahatan unggul bagi perempuan atau sebaliknya. Dengan demikian, dapat terjalin ukhuwah (persaudaraan) serta terwujudnya peradaban yang adil dan setara.

Islam Memanggil Perempuan dan Laki-Laki Untuk Berta’awun

Kerap disalahpahami bahwa Islam hanya memanggil laki-laki karena ayat-ayat dalam Al Qur’an menggunakan struktur bahasa laki-laki bukan kalimat perempuan. Inilah keindahan bahasa Tuhan tidak sembarang orang bisa menafsirkan pesan-pesan mulia-Nya. Banyak sekali ayat-ayat yang secara tekstual menggunakan struktur bahasa laki-laki namun pada dasarnya mengandung makna seruan untuk keduanya.

Ada banyak sekali ayat-ayat tentang ajakan beriman, bertaqwa, berbuat adil, shalat, puasa, mencari pengetahuan dan lain sebagainya. Semua ajakan dan perintah dalam Al-Qur’an adalah seruan bagi perempuan dan laki-laki. Islam datang untuk perempuan dan laki-laki. Bukan untuk salah satunya saja bukan juga hanya memuliakan salah satunya. Tidak sama sekali membedakan jenis kelaminnya. Islam meminta komitmen dari keduanya untuk saling bantu membantu dalam kebaikan (ta’awun).

Semangat Setara Secara Kemanusiaan

Secara biologis perempuan dan laki-laki memang memiliki perbedaan yang sangat mendasar. Namun ada perbedaan secara sosial yang bisa disinergikan. Perbedaan biologis ini bersifat universal “given from God”, pasti adil karena dari Tuhan, dibawa sejak lahir dan tidak bisa dipertukarkan. Adapun perbedaan sosial ini bersifat ikhtiyari (bisa dipertukarkan), sifatnya relatif bisa adil bisa juga tidak adil. Tergantung bagaiman kita memahami teks dan konteksnya.

Baca Juga  Sebelum Menikah, Yakinkan Diri Anda pada Hal-Hal Ini

Dari berbagai perbedaan, maka menjadi keniscayaan untuk selalu mempertimbangkan segala bentuk kemanusiaan baik dari kebijakan, kemashlahatan, kearifan, keadilan sosial dengan pengalaman keduanya. Sehingga terwujud peradaban yang adil dan setara agar satu sama lain tidak ada yang melakukan keburukan, kekerasan dan kedzaliman atas nama apapun.

Islam datang dengan misi keadilan memberi tuntunan yang jelas dalam hidup bermasyarakat. Jika salah satunya memiliki kelebihan dan keunggulan bukan berarti yang lain lebih rendah. Kelebihan perempuan dan laki-laki patut dijadikan semangat untuk dapat berkontribusi sesuai kemampuannya. Dengan saling memahami, saling memuliakan dan saling menghormati satu sama lain dengan didasari semangat kemitraan untuk beramar ma’ruf nahi munkar maka keadilan hakiki bagi manusia bisa terwujud.

Tugas kita selanjutnya dalam mengobarkan semangat kesetaraan adalah dengan memberdayakan diri semaksimal mungkin untuk banyak melakukan reinterpretasi terhadap tafsir dan teks-teks agama yang jauh dari pesan Islam yang kerapkali diselewengkan untuk menjustifikasi kepentingan kelompok tertentu karena sejatinya manusia itu selalu tumbuh dan berkembang bukan berdiam saat banyak terjadi kekacauan.

Dan pada akhirnya, siapapun itu baik perempuan atau laki-laki yang beramal shalih, menebar kerahmatan bagi semesta maka dialah yang akan mendapatkan kemuliaan dan sebaik-baiknya ganjaran pahala di sisi Tuhan.

*Anny Syukriya adalah Mahasiswa Pascasarjana UIN Maliki Malang, Kader Nasyiatul Aisyiyah

Bagikan
Post a Comment