Menepis Kesedihan dengan Mencari Cuan, Kenapa Tidak?
Kala manusia sedang berada di tepi jurang kesedihan, keputusasaan, atau depresi; terkadang semesta menyelamatkan manusia lewat hal-hal yang tak terduga.
Ada seorang teman saya yang hidupnya diselamatkan oleh musik. Sedangkan saya sendiri, semangat hidup yang sempat redup berhasil membara kembali berkat uang. Ya, uang!
Duniawi sekali, memang. Sebenarnya saya agak malu. Saya ingin seperti ibu-ibu lain yang semangat hidupnya membara berkat si buah hati, misalnya. Namun ternyata level saya belum sampai ke situ.
Beberapa waktu lalu, dalam perbincangan di sebuah grup WA, ada seorang teman perempuan yang curhat. Sudah 5 tahun lamanya ia menyukai seorang laki-laki, dan laki-laki ini juga suka padanya; namun entah kenapa akhirnya si dia memilih perempuan lain untuk menjadi pacarnya. Dalam kesedihan luar biasa, teman saya berusaha untuk move on, tapi hingga detik itu ia belum berhasil.
Meski tidak mengenal teman ini secara dekat, saya memberanikan diri memberi saran. Pertimbangannya karena saran saya bersifat universal dan sudah terbukti cukup berhasil ketika diterapkan pada diri sendiri.
Saya menyarankannya untuk fokus cari uang dan berinvestasi agar menghasilkan cuan yang banyak. Di samping bekerja kantoran, ia masih bisa menjalankan usaha kecil-kecilan, membeli reksadana, atau jual-beli saham. Apa saja jadilah, yang penting tidak merugikan orang lain. Sebenarnya usaha mencari cuan ini utamanya bertujuan menyibukkan otak agar tidak melulu memikirkan hal yang sedih-sedih.
***
Misalnya saja saat membeli reksadana, mau tidak mau orang harus melakukan riset kecil-kecilan, reksadana mana saja yang kinerjanya bagus. Apalagi jika hendak jual-beli saham. Pertimbangannya akan lebih banyak dan rumit. Namun serumit dan sesulit apa pun, perkara mencari cuan selalu bisa diupayakan sendiri, dan sepenuhnya bergantung pada kemampuan sendiri.
Berbeda dari perkara jodoh yang ada di tangan Tuhan, perkara cuan adanya ya di tangan kita sendiri. Karena itu, ada baiknya jika kita berfokus pada upaya mencari cuan. Intinya fokus pada hal-hal yang bisa kita upayakan. Toh semua orang butuh uang, dan pada saatnya nanti uang itu pasti akan berguna. Sedangkan hal-hal yang berada di luar kuasa kita, ya cukup didoakan saja karena memang demikian adanya.
Teman saya menjawab begini di grup WA, “Wahhh, sebuah solusi. Terima kasih, Mbak!”
Solusi itu tidak datang begitu saja. Ada banyak hal yang saya alami, ditambah dengan pengalaman beberapa orang teman, yang pada akhirnya menuntun saya pada solusi tersebut.
***
Beberapa waktu lalu, dengan ketabahan luar biasa, seorang teman menuliskan tentang bagaimana musik menyelamatkan hidupnya. Saat itu ia sedang depresi dan merasa tidak sanggup menanggung beban yang amat berat sendirian.
Teman saya ini lantas pergi ke stasiun dengan niat untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Ia sudah hafal jam kedatangan kereta api. Lantaran kereta belum tiba, ia duduk manis dan menanti. Kala itulah ia mendengarkan pertunjukan gamelan yang digelar di stasiun. Entah bagaimana, gending (lagu, komposisi musik karawitan Jawa) yang dimainkan saat itu membuatnya merasa ngilu sekaligus tenang. Akhirnya ia mengurungkan niatnya, dan pulang ke rumah.
Saya jelas tidak seberani itu. Membayangkannya pun tidak sanggup. Namun saya memang pernah merasa putus asa, kehilangan semangat hidup, dan barangkali (nyaris) depresi.
Pernah, suatu kali, di tengah udara panas siang hari yang sungguh menyiksa; saya meninggalkan anak saya yang sedang asyik bermain di lantai dasar. Lantas naik ke loteng untuk menangis tanpa suara (supaya tidak terdengar oleh anak saya semata wayang itu), “Tuhan, saya ingin mati!” Namun Tuhan tidak bisa disuruh-suruh untuk mengambil nyawa orang begitu saja.
“Tuhan, kalau memang belum waktunya mati, beri saya semangat untuk menjalani hidup. Saya tidak ingin hanya sekadar bergerak seperti zombi.” Lagi-lagi Tuhan tidak (atau belum) menjawab.
Mungkin itu cara-Nya mengatakan bahwa semua yang saya butuhkan sudah ada dalam diri saya sendiri. Saya hanya perlu menggali lebih dalam lagi. Namun saat itu saya belum menyadarinya.
***
Akhirnya saya hanya bisa terus menangis. Selain untuk meluapkan emosi, menangis dalam waktu lama juga bermanfaat karena bisa membuat tubuh melepaskan hormon oksitosin dan endorfin. Endorfin adalah pereda nyeri alami, yang sekaligus bisa membuat orang merasa bahagia. Sedangkan oksitosin dapat membuat orang merasa tenang.
Setelah dibanjiri endorfin, oksitosin, dan merasa tenang karenanya, tiba-tiba sebuah suara muncul di kepala saya.
“Yakin ingin mati? Kau masih punya uang tabungan hasil jerih payahmu sendiri, lho. Rugi sekali kalau tidak dinikmati dan dihabiskan dulu untuk traveling, misalnya. Pergilah melihat tempat-tempat yang indah.”
Itu benar sekali. Sejak kecil saya dididik untuk menabung dan berhemat. Sejak era 1980-an, saat uang saku hanya 50 perak sehari, sebagian selalu saya masukkan ke dalam celengan yang terbuat dari kaleng.
Saat sudah bekerja, secara otomatis saya rutin menyisihkan sebagian penghasilan untuk ditabung. Sekecil apa pun penghasilan itu. Tidak pernah dalam hidup ini saya besar pasak daripada tiang. Menghambur-hamburkan uang, apalagi berutang hanya untuk keperluan bersenang-senang, sama sekali tidak pernah terlintas dalam pikiran.
Saat berlibur pun, saya hanya memilih destinasi yang tidak menguras kantong. Meski tabungan saya cukup untuk jalan-jalan keliling Eropa misalnya, pada kenyataannya saya hanya pernah mengeluarkan uang untuk berjalan-jalan ke beberapa negara ASEAN yang ongkosnya relatif murah. Yang penting makanan serta buah-buahan di sana enak dan murah sehingga saya bisa makan durian sepuasnya, hahaha.
Alhasil, hingga beberapa waktu lalu, tabungan saya aman tersimpan dalam bentuk deposito di sebuah BPR (Bank Perkreditan Rakyat) yang dijamin oleh LPS (Lembaga Penjamin Simpanan). Mengingat sederet angka yang ada di sana, perlahan semangat hidup itu tumbuh kembali.
***
Ya, setelah pandemi usai, uang itu bisa saya pakai untuk traveling. Selagi belum bisa traveling, deposito itu saya cairkan, lalu saya belikan reksadana, saham, dan beberapa instrumen tabungan dan investasi lainnya. Sebagian besar saya taruh di reksadana obligasi yang aman, sebagian saya pakai untuk trading saham yang notabene berisiko tinggi. Dibagi-bagi saja sesuai porsi yang diinginkan. Don’t put all your eggs in one basket.
Saat menabung, berinvestasi, dan mencari cuan itulah semangat hidup saya bangkit kembali. Cuan yang saya dapat memang belum banyak. Portofolio saham saya malah terkadang sedikit minus, hahaha. Namun bagaimanapun, kegiatan mengelola uang ini memberi saya tantangan baru, dan mampu membuat saya bahagia.
Sepertinya setelah pandemi usai nanti, saya akan traveling, dan menyempatkan diri pergi ke kuil Cai Shen Ye 财神爷 (Dewa Uang) untuk berterima kasih kepadanya, hahaha.
Marathoner, ibu rumah tangga yang suka berlari, menulis, dan menyanyi.

Fenny
Tulisan yang bagus, kak!