f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
kecemasan

Depresi Itu Bukan Karena Kurang Iman

“Ah kamu terlalu berlebihan. Kamu belum ikhlas. Mungkin kamu kurang iman dan kurang dekat dengan Tuhan“.

Kira-kira itulah respon (stigma) yang saya dapatkan ketika berbagi cerita mengenai isi kepalaku yang selalu ingat akan kematian. Ntah mengapa, pasca ayahku meninggal saya selalu terpikir akan hal yang sama setiap harinya, yaitu kematian. Awalnya, saya tidak mengetahui kalau saya ’tidak baik-baik saja’. Saya mengira bahwa perasaan ini hanyalah perasaan berduka atas kehilangan (grief). Mengingat saya anak tunggal yang sangat dekat dengan ayah, wajar saja jika saya mengalami kedukaan, begitu ujar kawanku.

Ini adalah kedukaan perdana ku, jadi untuk mengetahui kedukaan ataupun depresi saya pun tidak tau persisnya. Yang jelas, rasa bersalah, ingat mati, panic attack, nangis uring-uringan tiap malam dan kecemasan lainnya hadir di setiap harinya. Saya pun usaha memperbaiki ibadah, mengikuti kajian dan mendiskusikan dengan guru agama, namun hasilnya sama saja. Pikiran kematian tidak kunjung hilang. Sebagai orang yang sangat menggunakan logika, saya mencoba untuk berdialog dengan diri sendiri dan bertanya apakah betul saya kurang iman?

Bertemu Psikolog dan Psikiater

Setelah setahun dan atas dorongan seorang kawan, saya pun akhirnya menemui psikolog. Dari konsultasi tersebut, saya didiagnosa mengalami post-traumatic stress disorder (PTSD) atau gangguan stres paska trauma. Dalam kasus saya, hal ini ditandai dengan gejala peningkatan kewaspadaan seperti sulit tidur dan merasa gelisah. Untuk mencari second opinion, saya kemudian menemui psikiater. Hasilnya sama, saya mengalami PTSD. Dokter juga menjelaskan saat ini terjadi ketidakseimbangan kimiawi di dalam tubuh dan/otak saya. Selain itu dokter juga menyarankan kepada saya untuk ‘berhenti bertanya kenapa dan merasa bersalah’.

Baca Juga  Semangat Berkedok Toxic Positivity

Namun ternyata, menurut buku yang saya baca depresi tidak sesederhana itu. Ada faktor gen, faktor volume hipokampus di otak, faktor pola asuh orang tua, faktor sosial, spiritual, dst.

Untuk kasus saya, anologinya begini: ketika saya ‘kepikiran mati’ kortisol dalam tubuh saya meningkat. Kortisol ini adalah hormon yang aktif ketika seseorang mengalami stress. Karena tidak di kelola dengan baik, stress ini kemudian memberikan banyak efek ke pikiran, perasaan, tubuh dan perilaku saya.

Gejala stress yang menyerang tubuh saya seperti: gejala stress pada perilaku yaitu mudah menangis, dan insomnia. Sementara gejala stress pada tubuh menyebabkan saya sakit kepala/migrain, mudah lelah, sistem imun menurun/mudah sakit, dan asam lambung naik. Inilah yang kemudian dinamakan psikosomatis (psiko: Jiwa, soma: Badan) yang berarti interasi jiwa dan badan.

Selanjutnya, masih dari buku yang saya baca dijelaskan, ketika mengalami depresi volume hipokampus (pusat memori otak) menjadi berkurang. Volume hipokampus memiliki peran penting dalam berkembangnya gangguan mental PTSD seperti yang saya miliki. Selain itu, depresi ini juga menyebabkan aktifitas amigdala: bagian otak yang berfungsi untuk mengendalikan emosi: deteksi bahaya, rasa takut, ekspresi negatif semakin meningkat. Inilah yang kemudian menyebabkan seseorang yang depresi menjadi sangat emosional dan mudah sedih.

Depresi = Kurang Iman?

Lantas apakah benar depresi itu karena kurang iman? Mengacu pada penelitian 10 tahun Columbia University, menemukan bahwa orang yang menganggap agama dan spiritualitas penting bagi kehidupan memiliki tingkat depresi yang lebih rendah. Namun penelitian tersebut juga menjelaskan bahwa frekuensi ibadah tidak berpengaruh terhadap depresi. Sehingga dalam kasus saya, meskipun saya menjalankan ibadah nyatanya saya tetap bisa terkena depresi. Faktanya depresi bisa menyerang siapa saja, dan tidak pandang bulu.

Baca Juga  Metode Nasihat, Baik Mana Nasihat dengan Teguran atau Himbauan dengan Kasih Sayang

Lalu harus bagaimana? Untuk kasus saya, pada akhirnya saya memang mengunjungi psikolog, lalu ke psikiatris dan mendapatkan antidepresan. Saya yakin hal ini merupakan yang terbaik, mengingat selama ‘setahun’ saya tidak mengelola stress dengan baik. Dari pengalaman saya, antidepresan diminum sebelum tidur dan membantu saya merasa sedikit lebih tenang. Hanya saja efek sampingnya membuat saya tidur terlalu lelap/terlalu lama.

Mengatur Pola Makan

Kemudian, saya juga mencoba untuk mengatur pola makan. Mengolah pola makan membantu saya untuk mendapatkan bakteri baik (probiotik) yang berperan untuk memasok serotinin (hormon kebahagiaan) dalam tubuh. Sehingga, agar merasa bahagia kita harus memastikan bakteri baik dalam tubuh bekerja dengan optimal untuk memproduksi serotonin. Contoh probiotik yang dapat digunakan seperti: makanan fermentasi seperti: tempe, kimchi, yogurt, bawang merah, asparagus, gandum.

Kenapa penting mengolah pola makan, karena nenurut Emeran Mayer, pencernaan dan otak sangat berhubungan satu sama lain. Keduanya memiliki banyak sekali koneksi saraf di dalamnya. Selain itu mereka juga saling bekerja sama untuk memastikan tubuh kita selalu sehat dan bahagia. Ketika terus mengkonsumsi makanan yang tidak baik bagi tubuh, perut dan otak akan saling mengirimkan sinyal sebagai respon atas zat-zat tersebut. Mekanisme yang sering menjadi respon dalam menghadapi zat-zat asing misalnya inflamasi atau peradangan. So you are what you eat, itu benar banget.

Mengatur Pola Tidur, Melatih Kesadaran dan Berbagi Cerita

Selanjutnya, saya juga mencoba mengevaluasi pola tidur. Sejak 2006 saya sudah insomnia, dan kini semakin diperparah dengan adanya depresi. Padahal tidur yang teratur dan rutin akan membantu tubuh beristirahat dan memperbaiki sel-sel yang rusak. Sebaliknya, jika kualitas tidur buruk akan mengakibatkan rasa lelah yang berkepanjangan (chronic fatigue) dan dapat berujung pada berbagai komplikasi penyakit atau gangguan mental. Bagi orang yang mengalami stress, jika kurangnya waktu tidur di teruskan dapat menyebabkan gejala-gejala fisik seperti gangguan asam lambung dan konstipasi.

Baca Juga  Menyederhanakan Standar Kebahagiaan

Kemudian, coba melatih kesadaran melalui meditasi atau mindfulness. Mindfulness adalah salah satu cara melatih pikiran agar bisa lebih jernih dalam memikirkan, mengevaluasi, dan merasakan pikiran, emosi, serta sensasi tubuh kita. Berlatih kesadaran membantu saya untuk jauh lebih peka terhadap segala sesuatu yang terjadi dalam diri saya. Selain meditasi, aktifitas lain yang membantu saya untuk mengistirahatkan pikiran seperti, jogging, membuat macramé, atau meracik kopi di kedai miliki saya. Intinya adalah temukan kegiatan yang paling sesuai dengan diri kita.

Terakhir, berdasarkan pengalaman saya, berbagi cerita tentang kesehatan mental (mental Illness) ternyata itu tidak mudah. Tak sedikit kawan saya, yang meskipun ‘berpendidikan’ dapat memberikan respon yang sesuai. Mungkin hal ini lantaran obrolan mengenai kesehatan mental di negeri ini masih dianggap tabu. Oleh sebab itu, apabila merasa tidak ada yang bisa menjadi pegangan ketika merasakan suasana hati yang depresif atau tertekan (depressed mood) lebih dari dua minggu, sudah saatnya untuk kunjungi psikolog atau psikiater.

Bagikan
Comments
  • Ceca

    Hai ka? Bagaimana kabar kaka sekarang? Apa semuanya terasa lebih baik sekarang? Aku berharap begitu untuk kaka dan aku sendiri. Sebenernya aku ga tau mau respon apa, tapi aku senang akhirnya kaka bisa lebih baik sekarang. Tetap semangat ya ka for unpredictable times😊

    November 18, 2020
  • Dian Mayasari

    Hi Ceca. Salam kenal. اَلْحَمْدُلِلّهِ saya btw getting better, in sya اَللّهُ. Semoga dirimu juga demikian ya.
    Terima kasih sudah mampir dan membaca postingan ini. Semoga bermanfaat ya.
    Tetap semangat, stay safe, healthy body and soul.

    November 18, 2020
  • Dian Mayasari

    Hi Ceca. Salam kenal. اَلْحَمْدُلِلّهِ saya btw getting better, in sya اَللّهُ.
    Terima kasih sudah membaca postingan ini. Semoga bermanfaat ya.
    Tetap semangat, stay safe, healthy body and soul.

    November 18, 2020
  • Andre

    Dzikir khafi yg banyak, bisa membantu menurunkan stress krn lintasan fikiran buruk kita lama kelamaan berganti dgn fikiran baik, dzikir pakai alat bantu digital lbh asiik. Terima kasih tulisannya bagus bermanfaat.

    Februari 25, 2021
  • Andre

    Dzikir dalam hati dlm jumlah banyak jg bisa mengurangi depresi, krn lintasan fikiran yg buruk lama kelamaan berganti jd lintasan fikiran yg baik, pakai alat dzikir digital lbh asiik bisa mengurangi stress, tulisan mbak dian bagus, sangat bermanfaat.

    Februari 25, 2021
  • Helda

    MasyaAllah Barakallahu fiik, semoga selalu sehat fisik dan imannya. Aamin…

    Sangat mencerahkan, dengan penjelasan Ilmiah yang menguatkan nilai-nilai syariat Islam yang benar.
    Terima kasih, tulisannya semakin membuat saya memahami bahwa depresi adalah salah satu gangguan kesehatan yang memang disebabkan karena kurang iman.

    Dari hasil penelitian yang disampaikan “Mengacu pada penelitian 10 tahun Columbia University, menemukan bahwa orang yang menganggap agama dan spiritualitas penting bagi kehidupan memiliki tingkat depresi yang lebih rendah. Namun penelitian tersebut juga menjelaskan bahwa frekuensi ibadah tidak berpengaruh terhadap depresi.
    (Yang jadi pertanyaannya mengapa frekuensi ibadah tidak berpengaruh terhadap depresi? Jawaban yang sangat memungkinkan adalah karena ini hanya berbicara kuantitas ibadah, bukan kualitas ibadah. Secara logika sesuatu akan berdampak jika ada perubahan dari kuantitas dan kualitas, bahkan lebih kepada kualitas titik tekannya).

    Pola makan dalam artikel memberikan penjelasan ilmiah jika sesuai ajaran agama Islam ” halalan thoyyiban” tdk hanya halal tapi juga baik (bagi kesehatan).

    Pun pola tidur jika sesuai sunnah akan aman bagi kesehatan tubuh karena tidak “dzalim” dengan tubuh.

    Mindfulness, melakukan aktivitas dengan kesadaran penuh ini juga nilai dalam syariat Islam.

    PTSD, trauma yang terjadi karena belum bisa menerima Takdir Allah (dengan berbagai latar belakang yang disampaikan), ini hal yang sangat manusiawi.

    Dengan segala lika liku perjalanan meraih kesembuhan atas izin Allah juga. Alhamdulillah…

    Iman adalah sesuatu yang diyakini diucapkan dengan lisan, diamalkan dengan perbuatan.
    Jika beriman kepada Allah (dengan “mengamalkan” ke 6 rukun Iman dengan “benar” dan mewujudkannya dalam pelaksanaan ibadah Rukun Islam (yang kualitasnya adalah rukun iman itu sendiri), serta seluruh aktivitas hidup dari bangun tidur hingga tidur lagi sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah (Iman kepada Allah, Malaikat, Kitab, Rasul, Takdir baik/buruk, Hari Akhir), di”amalkan”dalam perbuatan tidak hanya di hati dan lisan saja. InsyaAllah hidup akan lebih mudah menghadapi ujian takdir Allah.

    Jika iman hanya dihati dan lisan saja berarti kurang iman, karena tanpa perbuatannya/amalannya.
    Dan dari artikel diatas penulis akhirnya menemukan solusi/obat dari gangguan yang dialaminya dengan melakukan amalan imannya (hidup sesuai nilai syariat, bukan hanya melakukan ibadah rukun islam tanpa ruh iman didalamnya.

    Jadi kesimpulan saya pribadi, memang depresi itu karena kurang iman (iman hanya dihati, lisan tanpa amal perbuatan, ibadah tanpa ruh iman (kualitas).

    Dan penulis menemukan perjalanan kesembuhannya dengan ilmu pengetahuan (penjelasan ilmiah), sehingga bisa mengamalkan imannya (nilai syariat).

    Sehingga Maha Benar Allah dalam setiap FirmanNya “Iqro, Bismirobbikalladzi halaq” Bacalah, dengan menyebut nama TuhanMu yang menciptakan”

    “Membaca, salah satu instrumen dalam belajar, menuntut ilmu” sehingga kunci memahami iman dengan ilmu”.

    Wallahu Alam.

    September 15, 2025
Post a Comment