f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
kenikmatan

Mencari Kenikmatan dalam Beribadah

Pernah tidak merasakan saat melaksanakan ibadah rasanya malas banget? Mau melakukannya malah terkesan berat untuk menjalaninya. Atau sudah pernah menjalani, tapi tidak tenang sampai tidak merasakan kenikmatan setelah melakukannya.

Tenang, hatimu sedang baik-baik saja kok. Hanya saja yang seperti Itu manusiawi, karena manusia memiliki keterbatasannya masing-masing. Ada yang bisa khusyuk dan nikmat dalam beribadah dalam waktu singkat. Ada pula butuh waktu beberapa kali untuk menemukan titik kenikmatan tiada kira ketika menjalankan ibadah.

*

Kita semua tahu bahwa apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw tidak akan bisa disamakan oleh makhluk lainnya. Sampai-sampai, makhluk yang bernama malaikat pun menghormati Nabi kita itu.

Nabi Muhammad SAW melakukan itu semua sebagai patokan alternatif dalam beribadah. Tidak perlu kita melakukan semua yang dilakukan Nabi. Toh, kita juga tidak tahu seperti apa yang dilakukan Nabi saat itu. Terlebih manusia terdekat dengan Nabi Muhammad SAW, Sahabat Abu Bakar Ash Shidiq mengakui bahwa beliau masih belum ada apa-apanya dibandingkan junjungan kita itu.

Ada suatu hadist dari Imam Bukhori dan Imam Muslim yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA.

“Dari Abu Hurairah RA ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Apa yang aku larang hendaklah kalian menjauhinya, dan apa yang aku perintahkan maka lakukanlah semampu kalian. Sesungguhnya binasanya orang-orang sebelum kalian adalah karena mereka banyak bertanya dan karena penentangan mereka terhadap para nabi mereka” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kalimat “Lakukanlah semampu kalian” itu menunjukkan bahwa kita memang secara lahir memiliki keterbatasan masing-masing untuk melaksanakan ibadah. Jika mengerjakan di luar batas kemampuan, dikhawatirkan akan merusak keimanan dan jiwa raga. Seperti rasa kecewa merasa sudah beribadah banyak, tapi Allah masih belum mengabulkannya. Hal itu bisa menjadi pemantik perbuatan dzalim terhadap diri sendiri.

Baca Juga  Ingin Sukses Dunia dan Akhirat? Jangan Tinggalkan Salatmu
Temukan Kenikmatan Hakiki Beribadah

Selain itu, melakukan kegiatan semampu kita akan menemukan kenikmatan yang hakiki dalam diri. Tentu saja hanya kita sendiri yang bisa menemukannya, tidak bisa dengan orang lain. Orang lain hanya membantu untuk memantik semangat beribadah alias memotivasi. Namun hanya kita sendiri yang bisa memperbesar daya ledak semangat untuk beribadah.

Misalnya ketika kita ingin Sholat Malam, Qiyamul Lail, atau Tahajjud. Godaan paling besar dalam melaksanakan ibadah itu adalah rasa ngantuk yang sangat. Bagi yang awal-awal tentu akan merasakan hal demikian. Berat untuk dijalani. Nah, untuk awal-awal mulailah dengan 2 rakaat. Setelah itu membaca wirid singkat. Kemudian bolehlah lanjut tidur jika tidak mepet waktu subuh.

Lalu mengulangi kegiatan tersebut selama beberapa hari secara disiplin dan sedikit motivasi. Bebas apa gitu, minta didekatkan dengan jodoh misalnya (eh?). Setelah sedikit-sedikit menemukan kenikmatan dan tidak ngantukan seperti awal-awal, lanjut tambahi ritmenya dengan ditambah jumlah rakaat serta doa-doa selesai sholat. Insya Allah lama kelamaan akan muncul nikmat menjalankan Ibadah Sholat Malam itu.

Contoh lainnya yaitu sedekah. Awal-awal pasti akan berat untuk menjalaninya. Bahkan ada anekdot “Rp.50.000,- itu Besar di Kotak Amal, tapi Kecil di Supermarket”. Nah kalau masih belum mampu dengan nominal segitu, bisa dimulai dengan nominal yang kecil dulu. Terserah, penting niatnya sedekah, titik.

Lanjut sampai beberapa hari, hingga muncul ada perasaan yang berbeda dari sebelumnya, mulai tambah nominalnya. Yang penting rutin dan rajin mengisi kotak amal di setiap tempat. Dan jangan lupa disiplin melakukannya.

*

Oh iya, saya kembali teringat pada kisah di Arab sana tentang seorang santri yang menyamar sebagai tukang air. Santri ini sebetulnya naksir dengan Putri Syeikh. Putri Syeikh di Arab memiliki ciri malu untuk menemui orang selain keluarganya. Untuk keluar rumah saja malu. Nah satu-satunya cara agar bisa melihat sekaligus bertemu Putri Syeikh adalah menyamar menjadi tukang air. Dia bisa leluasa keluar-masuk rumah sambil melihat Putri Syeikh di dalam rumah.

Baca Juga  Tetap Istiqomah Beribadah Setelah Bulan Ramadan

Melihat gelagat tukang airnya itu, akhirnya Syeikh tersebut “menangkap” tukang air tersebut. Kemudian Syeikh mengetahui bahwa yang bersangkutan adalah santrinya.

“Kamu suka sama Putriku, wahai santriku?”

“Iya, Syeikh”

“Ya sudah, kalau ingin menikah dengan putriku syaratnya 1. Kamu lakukan sholat berjamaah di Masjidil Haram selama 40 hari 40 malam berturut-turut tanpa putus.” Santrinya pun menyanggupinya.

Selama 10 hari awal, seperti biasa agak malas-malasan. Tapi mengingat Putri Syeikhnya itu membuat santri itu sedikit memaksakan diri untuk melaksanakan perintah Syeikhnya. Dalam 10 hari tersebut pula dia menemukan ada yang berubah dalam dirinya. Akhirnya setelah 10 hari awal penuh perjuangan, santri tersebut mulai giat sholat berjamaah di Masjidil Haram. Bahkan sampai lupa niat awalnya mengapa dia Sholat Berjamaah di masjid paling suci tersebut.

Setelah 40 hari 40 malam, Syeikh tersebut menemui santrinya tersebut di Masjidil Haram hendak menyatakan lolos ujian untuk mendapatkan putrinya. Namun, setelah dibilang bahwa dia lolos ujian, santrinya berkata, “Masa putrimu disamakan dengan kenikmatan dan ampunan Allah? Ga jadi ah Syeikh.”

Syeikhnya tersenyum lebar bahwa santrinya sudah menemukan kenikmatan sendiri untuk beribadah. Akhir cerita, santrinya tetap menikah dengan putri syeikhnya itu.

Variasi Kenikmatan Beribadah

Rajin dan disiplin itu kunci penting untuk menemukan kenikmatan dalam beribadah. Ditambah dengan adanya motivasi entah sedikit atau banyak untuk sekedar menjadi bumbu penyedap dalam melaksanakan ibadah.

Motivasi apapun boleh-boleh saja. Walau terkesan ibadah yang dijalankan kurang memiliki nilai keikhlasan, tapi untuk awal-awal ya tidak masalah.

Sama seperti anak kecil dahulu. Untuk mau makan saja diberi janji akan dibelikan mainan setelah itu. Lanjut ke sekolahan. Jika bisa mendapatkan ranking, akan dibelikan sepeda baru. Itu semua adalah bentuk motivasi demi memantik semangat di awal-awal melakukannya. Nanti pada titik dia menemukan kenikmatan dalam hal, dia akan lupa beberapa motivasinya itu. Mungkin bisa juga berganti motivasi.

Baca Juga  Menyambut Ramadhan, Apa yang Perlu Dipersiapkan?

Pada saatnya nanti akan menemukan suatu perbedaan yang mencolok dalam diri. Tentunya merasakan nikmat yang tiada kira. Entah merasa tenang dan nyaman dalam menjalani kehidupan, tidak grusa-grusu dalam beribadah, dan masih banyak lagi tanda nikmat beribadah.

Sekali lagi, setiap orang memiliki caranya sendiri-sendiri. Mungkin apa yang dianggap sebagai tips menemukan kenikmatan dalam beribadah di atas tidak akan mempan oleh beberapa orang. Bisa jadi pas untuk kalangan lain. Tetapi yang membedakan hanya jangka waktu menemukan kenikmatan itu.

Mencoba mencari kenikmatan dalam ibadah adalah suatu keharusan, jika ingin mencapai ibadah dengan taraf khusyuk. Tak ada yang dirugikan dalam usaha mencari kenikmatan itu. Walau Sudah menemukan, tapi berkurang atau malah hilang rasa nikmat ibadahnya, tetap berusaha lagi mencari dan menemukan kenikmatan itu. Sampai pada suatu waktu, kenikmatan ibadahlah yang mencarimu. Lho malah keren kan dicari?

Selamat berjuang para pencari kenikmatan dalam beribadah. Semoga lekas dipertemukan dengan kenikmatan yang hakiki tersebut.

Bagikan
Post a Comment