f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
keadaban publik

Perempuan Tangguh Di Balik Peristiwa Hijrah (2)

Ummu Ma’bad r.a

Nama lengkapnya Atikah binti Khalid bin Khalif bin Munqidz bin Rabi’ah. Seorang perempuan yang dijumpai Nabi saat perjalanan hijrah. Saat itu Nabi singgah di tendanya dan memerah susu kambing milik Ummu Ma’bad. Sekilas kontribusi Ummu Ma’bad hampir tidak terdengar dalam perityiwa hijrah Nabi. Kesempatan Ummu Ma’bad memeberikan minuman dan tumpangan bagi Nabi dan para sahabat tertolong pada waktu itu. Setelah kejadian ini, Ummu Ma’bad dan suaminya ikut berhijrah lalu masuk Islam. (Dalam artikel yang berjudul Nisaun fi Tarikh Hijrah al Nabawiyyah)

Nusaibah binti Ka’ab al Anshariyah r.a

Nusaibah mendapat sebutan sebagai “Ummu al Asyaf” yaitu perempuan yang penuh luka pedang. Ia merupakan orang yang menyelamatkan Nabi SAW pada perang Uhud. Ketika pasukan muslimin mulai mundur dimana Nabi hampir terbunuh maka Nusaibah melawan musuh dengan gagah berani untuk melindungi Nabi. Ia berjuang hingga tangganya terputus Dan pada perang Yamamah ia pun terluka di sebelas bagian tubuhnya selain tanggannya yang terpotong.

Menurut Ibnu Sa’ad (Ath Thabaqat), Nusaibah pernah meminta Nabi untuk mendoakannya agar bisa menemani Nabi di surga. Maka Nabi pun berdoa sehingga ada riwayat yang menyebutkn bahwa Nusaibah merupakan pejuang perempuan pertama dalam Islam dan orang yang menyertai Nabi di surga.

Asma binti Umais r.a

Ia bergelar Ummu Abdullah, seorang sahabat yang sangat mulia dan memiliki banyak kisah menakjubkan. Asma pernah menjalani dua hijrah sehingga disebut perempuan pelaku dua hijrah. Dikisahkan Asma pernah berdebat dengan Umar tentang kedudukan orang yang berhijrah. Umar bertanya : Apakah kamu pernah hijrah ke Habasyah? Apakah kamu yang hijrah melalui lautan? Asma pun menjawab: “Ya”.

Baca Juga  Filantropi Islam Berbasis Media Sosial

Umar lalu berkata bahwa kami yang berhak dekat dengan Rasulullah daripada kalian (Ummu Abdillah). Lalu Asma menjawab bahwa hijrah kami demi Allah dan Rasul-Nya. Kemudian Asma mengadukan hal ini kepada Nabi, maka jawaban Nabi “Ia bukanlah yang lebih berhak dari kalian. Ia dan para sahabatnya mendapatkan satu kali hijrah, sedangkan kalian dua kali hijrah”. (Qashash wa’Ibar wa’Izzat min Hayat ash Shahabiyyat)

Ummu Aiman r.a

Ia merupakan perempuan yang mengasuh Nabi. Ummu Aiman memeluk agama Islam sejak pertama Islam datang. Ia juga ikut dalam dua kali hijrah ke Habasyah dan Madinah. Ia dinikahi oleh kekasih Nabi, Zaid bin Haritsah. Ummu Aiman adalah seorang pahlawan yang pemberani, seorang pendidik dan pengasuh mulia. Bahkan Nabi bersabda bahwa Ummu Aiman adalah ibuku sesudah ibuku.

Ummu Aiman tetap ikut berhijrah walaupun dengan berjalan kaki dan tanpa bekal apapun kecuali pemberian orang di jalan. Dijelaskan pula dalam riwayat Utsman bin Qasim bahwa Allah telah memebrikan keberkahan pada diri Ummu Aiman dengan menghilangkan rasa haus dan rasa lapar sepanjang hayatnya. (Qashash wa’Ibar wa’Izzat min Hayat ash Shahabiyyat)

Asyifa’ binti Abdullah r.a

Nama aslinya adalah Laila binti Abdullah bin Abdu Syams bin Khalaf bin Syaddad al-Adawiyah al-Qarsyiyah. Ia termasuk sahabat perempuan nabi generasi pertama dari suku Quraisy yang memeluk agama Islam. Ia merupakan perempuan pandai dengan segala kelebihan yang dimilikinya. Sehingga Nabi memintanya untuk mengajar membaca dan menulis. Suatu ketika Asy-Syifa berkunjung ke rumah Nabi SAW “ajarkanlah pada Hafsah tentang penyakit namlah (gatal-gatal) sebagaimana kau mengajarinya menulis!” kata Rasulullah.

Salah satu muridnya adalah Hafshah binti Umar bin Khattab istri Nabi. Karena itu Asy-Syifa’ dikenal sebagai guru perempuan pertama dalam Islam dan mendapat gelar Asyifa’ karena menguasai dunia pengobatan. Dan Nabi juga membangun sebuah rumah khusus untuk Asyifa’ yang berdekatan dengan hunian para penderita penyakit gatal-gatal.

Baca Juga  Perempuan dan Kaitannya dengan Keluarga Sakinah, ma Waddah, wa Rahmah

Asyifa’ masih hidup sampai masa kepemimpinan Umar bin Khattab. Umar bin Khattab mengagumi kecerdasan Asyifa dan kerap mengutamakan ide dan pendapatnya sehingga ia dipercayai untuk menjadi kepala pasar di Madinah. (Jaridah al Bashair, Nisau al Hijrah)

Meneladani Kehidupan Nabi dan Para Sahabat

Perlu kita garis bawahi, bahwa pada masa Nabi Muhammad para perempuan sudah me­mainkan peran-peran sosial dalam rangka menegakkan kali­mat-kalimat Allah, seperti menyebarkan dakwah Islam, ikut berhi­jrah , menyediakan bekal bagi para mujahid, menjadi tabib bagi mujahid yang terluka, berbai’at kepada Nabi bahkan melakukan jihad atau ikut serta dalam peperangan bersama-sama kaum laki-laki.

Sebagaimana kita bisa mempelajari bagaimana para perempuan di atas bahu-membahu dengan sahabat laki-laki dalam satu jalur perjuangan menegakkan Islam. Dengan memaknai momentum hijrah Nabi dan para sahabatnya menjadi keniscayaan bagi kita untuk selalu berupaya meneladani mereka sampai pada tingkat “mencontoh” bukan sebagai “referensi” saja.

Setidaknya kita bisa berikhtiar bersama-sama (laki-laki dan perempuan) selalu berproses untuk mewujudkan kerja-kerja kebaikan yang telah diupayakan Islam melalui risalah kenabian. Pastinya kita tidak bisa sama persis dengan Nabi namun setidaknya menuntun diri sendiri dan mengajak sebanyak-banyaknya orang berjuang di jalan ini untuk mencapai perilaku yang mendekati visi misi kenabian.

Selain nama-nama sahabat perempuan di atas, mungkin sahabat Rahmania bisa menambahkan lagi ya.

Bagikan
Post a Comment