Laku Puasa dan Apa yang Bisa Kita Ambil Darinya
Alhamdulillah, di tahun ini kita masih menikmati jamuan Allah berupa Ramadhan. Di saat banyak dari kita yang dipanggil Allah Swt lebih dulu ke hadirat-Nya, baik sebelum Ramadhan atau bahkan beberapa hari saat Ramadhan sudah bertandang. Dan karena tahun berikutnya tak ada yang tahu kita akan bisa sampai ke Ramadhan lagi, maka pada saat ini kita harus benar-benar hadir dan sadar sedang berada di dalamnya. Bukan pada mode autopilot.
Ramadhan merupakan bulan dengan paket lengkap di mana Allah Swt memberi berlipat balasan kebaikan daripada bulan-bulan selainnya. Siapa yang tak tergiur? Ya, meskipun masih banyak juga yang bersikap biasa-biasa saja saat Ramadhan menjumpai kita. Seolah Ramadhan hanya bulan yang tak punya nilai lebih apa-apa.
Ini barangkali lantaran kurangnya ilmu atau pada dasarnya kita terlampau cenderung pada dunia sehingga lupa pada tugas utama kita, yaitu untuk beribadah (Q.S. Az-Zariyat [51]:56). Semoga saja kita termasuk ke dalam golongan mereka yang berbahagia dengan datangnya Ramadhan. Sebab di bulan ini sebagaimana dalam salah satu hadits Rasulullah Saw bahwa selain bulan ini penuh keberkahan, pintu-pintu surga terbuka dan pintu neraka tertutup serta setan-setan pun terbelenggu. Di samping juga terdapat satu malam yang nilainya lebih dari seribu bulan (H.R. An-Nasa’i).
Jangan Hanya Sekadar Puasa
Salah satu ibadah utama di bulan Ramadhan adalah puasa (shaum). Bicara mengenai puasa, ada banyak hikmah yang bisa kita gali dari pelaksanaannya. Puasa sendiri di muka bumi terjadi dengan berbagai motif seperti agama, budaya, kesehatan, politik dan lainnya sebagaimana yang dijelaskan Prof. Dr. Ahmad Najib Burhani, M.A. dalam tulisannya yang berjudul “Puasa Lintas Tradisi” (2021). Pada intinya, ada nilai kebaikan dari laku puasa sehingga sejak masa lampau ibadah ini dijalani dan tetap (di)lestari(kan). Nah, kebaikan inilah yang punya standarnya sendiri. Setiap ajaran puasa meskipun pada intinya menahan diri dari yang dapat membatalkan, berbeda dari segi tujuan dan tata cara.
Dalam Islam, puasa jelas memiliki aturan-aturan yang secara fisik terbahas oleh Fiqih. Dari mulai ketentuan kapan mulai menahan diri dari makan dan minum serta hal-hal yang terlarang sampai nantinya boleh memulai kembali aktivitas itu. Kita mendapatkan pelajarannya sejak ngaji di masjid-masjid oleh guru ngaji, dikuatkan dengan saat pesantren kilat, dan kini kalau pengalaman semacam itu tak didapat semasa kecil, kita bisa dengan mudah mengaksesnya lewat penjelasan para ustadz di internet.
Secara teori, kita lumayan dekat menuju khatam perihal apa saja yang membatalkan maupun tidak, hingga keutamaan dari puasa itu sendiri. Tapi, masa iya puasa kita hanya sebatas rutinitas tahunan tanpa beroleh apa-apa selainnya. Masa puasa kita tak membuat maqam kemanusiaan kita tak beranjak ke mana-mana. Padahal harusnya hari ini lebih meningkat kualitasnya dari hari kemarin. Ini tanda kalau dalam hidup, kita senantiasa belajar dan berorientasi pada perbaikan.
Pada kerja puasa ada dimensi batiniyah yang bisa kita eksplor makna-makna yang sembunyi di baliknya. Kalau kita merenungi bahwa sejak kecil kita berpuasa—awalnya latihan saat masih kanak-kanak—hingga sekarang dewasa, bila yang kita dapat hanya dahaga dan lapar saja, sungguh rugilah kita. Dari puasa ke puasa tak ada signifikansi perbaikan kualitas ibadah yang berarti. Padahal apabila dari tahun ke tahun kita merenung sembari bermuhasabah dengan hati dan pikiran yang jernih, kita barangkali akan menangis atas setiap kesempatan berpuasa tapi tak termanfaatkan sebaik-sebaiknya.
Menggapai Derajat Taqwa
Taqwa menjadi tujuan utama dari pelaksanaan puasa (Q.S. Al-Baqarah [2]:183). Mengapa taqwa? Taqwa menurut Prof. Dr. Azyumardi Azra, M.A., CBE (2021) termasuk salah satu hal utama dalam Islam. Hal ini sebab orang yang bertaqwa tidak hanya terpelihara secara ruhani, melainkan juga dari segi jasmani, pikiran, hingga perbuatan. Dengannya ia bisa senantiasa taat menjalankan aturan agama, dengan pelaksanaan regulasi negara tanpa mengesampingkan tradisi sosial budaya yang berkembang. Tak hanya itu, orang bertaqwa selalu menghindarkan diri dari menjadi bagian dari pelaku pelanggaran yang dapat mendatangkan kerugian baik bagi ia sendiri, lebih-lebih terhadap orang lain.
Ibadah puasa memungkinkan pelakunya bisa memperoleh derajat taqwa itu. Ibadah ini seolah Allah desain untuk mengarahkan orang-orang beriman ke arah sana. Hanya saja, tingkat kesungguhan orang-orang yang melakukannya berbeda-beda. Makanya, tidak semua dari kita mampu mencapai hal tersebut. Menahan lapar dan dahaga selama sekian jam dalam sehari dapat menghindarkan kita dari jiwa konsumtif. Dengan itu pula, akan ada kesadaran mengenai empati terhadap mereka yang di keseharian kurang beruntung untuk mengakses makanan dengan mudah sebagaimana orang-orang berada lainnya.
Kalau saat berbuka, semua makanan yang kita buru sejak sore bahkan siang hari terlahap tanpa sisa. Maka barangkali nilai dan guna dari puasa yang dilakukan belum tercapai. Nafsu kita masih sangat menggebu-gebu, terutama untuk urusan perut. Padahal tujuan kita hidup kan bukan untuk makan. Sebaliknya, makan hanya menjadi sarana agar ibadah kita lancar jaya. Maka latihan menahan diri tak boleh berhenti sampai di sana. Mesti tetap dikerjakan sampai tujuan benar-benar tercapai.
***
Jangan sampai puasa kita hanya sebatas memindahkan waktu untuk tidak melakukan sesuatu menuju saat nanti berbuka, melainkan beranjak ke maqam yang lebih esensial: menjadi manusia bertaqwa. Kehadirannya di dunia mendatangkan gelontoran guna dan terlebih sebagaimana spirit hadirnya Islam, menjadi rahmat bagi seru sekalian alam. Alih-alih hanya sebatas ritual, puasa kita sedapat mungkin harus berdampak pula pada aspek spiritual dan sosial.
Pada aspek ritual, puasa memberikan kontribusi untuk melatih jiwa agar lebih taat kepada Allah, lebih sabar dalam menjalani kehidupan baik dalam taat serta menjaga jarak dari maksiat, dan terbiasa untuk menahan nafsu. Sementara pada aspek sosial, lewat berpuasa terbentuk diri yang lebih aware terhadap persoalan yang sedang menimpa umat. Dalam konteks sekarang di mana pandemi belum juga berakhir, masyarakat terdampak sangat memerlukan bantuan agar dapat melangsungkan kehidupannya sehari-hari. Maka solidaritas untuk gotong-royong saling bantu menjadi penting untuk digelorakan sebagai aktualisasi dari pengamalan puasa dalam apsek sosial tadi (hablun min al-nas).
Lebih jauh lagi, bagi para penyelenggara negara atau siapa pun yang sedang mengemban amanah, maka puasa harus menjadi rem atas perilaku-perilaku bejat seperti korupsi dan penyalahgunaan kewenangan lain. Di mana rakyat lagilah yang jadi korban atas keserakahan sekelompok elit berjiwa culas semacam ini. Semoga di Ramadhan kali ini ibadah puasa khususnya, dan ibadah-ibadah lain yang kita ikhtiarkan diterima oleh Allah Swt. []
Mahasiswa S2 Pendidikan Agama Islam UPI Bandung, Host Teman Duduk Podcast, dan Inisiator Komunitas Sayap Cita.
