f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
jamaah haji

Kondisi Psikologis Akibat Penundaan Ibadah Haji

Ibadah haji merupakan suatu ibadah tahunan yang Allah syari’atkan bagi para hamba-Nya yang mempunyai kemampuan untuk melaksanakannya. Sayangnya, tahun 2020 calon jamaah haji tidak dapat berangkat ke tanah suci kerena pandemi yang tak kunjung berlalu. Virus ini mulai menyebar di Indonesia pada tanggal 2 Maret 2020.  Virus ini sangat meresahkan masyarakat, kondisi ini menimbulkan kekhawatiran sehingga berbagai aktivitas menjadi terhenti termasuk keberangkatan jamaah haji.

Kementerian Agama RI Nomor 494 Tahun 2020 mengeluarkan regulasi pembatalan keberangkatan calon jamaah haji. Menteri Agama menegaskan bahwa pembatalan pemberangkatan ibadah haji tahun 2020 berlaku untuk seluruh warga negara Indonesia tanpa terkecuali. Setelah mendapatkan kepastian dari pemerintah Arab Saudi, pihak Arab Saudi tidak membuka akses bagi jamaah haji dari negara mana pun

Pelaksanaan ibadah haji tidak mungkin terlaksana secara physical distancing, dan tidak cukup pula memakai masker dan cuci tangan saja. Karena kita ketahui rangkaian ibadah haji itu dilakukan secara berkerumunan, keputusan pembatalan jamaah haji menjadi persoalan yang cukup berat, dengan berbagai pertimbangan.

Namun, jika memang dipaksanakan untuk diberangkatkan, maka akan menjadi risiko besar yang menyangkut keselamatan jiwa dan kesulitan ibadah jamaah.

Calon jamaah yang sudah menunggu bertahun-tahun dan bersusah payah mengumpulkan uang untuk bisa berangkat haji, tentunya sulit menerima saat mendengar berita batal berangkat haji. Dan tentunya memiliki pengaruh yang berbeda-berbeda bagi psikologinya.

Ada sebagian calon jamaah haji yang ikhlas menerima kenyataan. Namun, ada juga calon jamaah yang merasa kecewa, marah, prustasi bahkan menyebabkan depresi, karena setiap individual memiliki kadar psikologi tersendiri dalam menyikapi permasalahan.

Adapun dampak psikologis jamaah haji yang batal berangkat haji dapat menyebabkan sebagai berikut:

Baca Juga  Ada Perempuan, di Balik Suksesnya Ramadan Kita
1. Perasaan Kecewa

Calon jamaah haji mendengar berita gagal berangkat haji tentunya merasa kecewa, sadar ataupun tidak, pasti ada penyangkalan dalam hatinya. Contohnya seperti mengatakan, “mengapa pemerintah tidak mengupayakan untuk tetap memberangkatan jamaah haji”.  

Rasa kecewa itu wajar, namun dalam menyikapi kecewa sebagian ada yang kecewa begitu saja tanpa memikirkannya lagi. Namun, ada juga yang merasa kecewa dan memikirkan secara berlarut-larut

2. Perasaan Marah

Ungkapan perasaan marah pun hadir karena tidak menerima kebijakan yang telah pemerintah tetapkan. Maka hal itu akan menimbulkan energi menjadi meluap dan menggebu-nggebu.

Jika calon jamaah tidak dapat mengontrolnya, maka akan berdampak buruk bagi diri sendiri maupun lingkungan sekitar.

3. Frustasi Bahkan Bisa Rentan Depresi

Perasaan marah dan kecewa secara terus-menerus calon jamaah rasakan. Bahkan menyebabkan susah tidur, pusing, maka akan muncul perasaan frutasi. Bahkan bisa rentan menjadi depresi, akibat tertekan dalam memikirkan sesuatu. Ditambah lagi pemerintah menganjurkan untuk stay at home.

Maka perasaan jenuh pun bertambah. Prasaan frutasi dan depresi lebih rentan kepada yang lanjut usia. Karena ketika sudah berusia lanjut, kesehatan sudah mulai berkurang, perasaan ketakutan itu menjadi lebih tinggi. Rasa ketakutan yang dirasakan setiap saat maka akan berdampak buruk pada kondisi psikologis seseorang.

Penyebab frustasi dan depresi bukan hanya dari berita kebijakan pemerintah, namun penyebabnya bisa dari mana saja. Salah satunya bisa dari pandangan keluarga, ingkungan sekitar, dan komentar-komentar negatif tentang ibadah haji tahun ini yang gagal diberangkatan.

Ini membuat calon jamaah haji menjadi down, ketika diri tidak mampu menahan emosial terhadap padangan lingkungan sekitar dan dampak-dampak dari lainnya, yang tidak ada kekuatan untuk tetap menguatkan iman maka akan menyebabkan frustasi dan depresi.

Baca Juga  Meraih CintaNya
4. Ikhlas dan Lapang Dada Dalam Menerima Kenyataan

Jamaah haji dapat menerima dengan penuh keikhlasan dan lapang dada terhadap kebijakan yang telah ditetapkan oleh pemerintah dan sudah menjadi takdir Allah maka gambaran psikologis ini memiliki insight yang cukup. Meskipun mereka tahu hal tersebut cukup berat untuk diterima. Namun, dengan keikhlasan dan lapang dada menerima maka kondisi spiritual yang stabil seperti ini merupakan respon yang paling jernih.

Ibadah haji adalah panggilan Allah, jika belum ada panggilan dari-Nya maka bersabarlah dalam menunggu. Jika sudah ada panggilan dari Allah maka tidak ada satupun yang dapat menghalangi, meskipun tahun ini bertanjuk kesedihan bagi calon jamaah haji.

Hikmah dan Cara Untuk Menghibur Calon Jamaah Haji

Namun, jika keadaan ini dapat diambil hikmah maka jamaah dapat memanfaatkan waktunya dengan baik, contohnya seperti dengan mempersiapakan ibadah haji dengan matang lagi. Sehingga bisa menjadi haji yang mabrur setelah pulang berhaji

Untuk mengantisipasi pengaruh psikologi calon jamaah haji agar tetap stabil, hal yang bisa kita lakukan saat ini adalah dengan mensuport dengan cara memberikan informasi yang positif, baik melalui media social atapun secara face to face.

Contohnya yaitu memberikan informasi di media sosial yang meng-update mengenai perkembangan haji. Sedangkan contoh secara face to face, ketika kita memiliki keluarga atau tetangga yang gagal berangkat haji maka dapat memberikan informasi yang positif dan dapat memberikan pemahaman yang positif, agar kondisi psikologis tetap stabil. Karena jika hal itu biarkan akan menyebabkan dampak yang buruk bagi calon jamaah haji.

Editor: Rifky Aritama

Bagikan
Post a Comment